Kamis, 15 September 2016

Global Warming




Global Warming

 

M.a Al Muttaqien Suhaid


BAB I
 Pemanasan Global
A. Pengertian  Pemanasan Global
 
 Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan. bumi sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Menurut Budianto (2000:195) dalam Rajaguguk, E dan Ridwan K (2001) pemanasan Global sebagai peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas yaitu sinar infra merah yang dipancarkan oleh bumi.
Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi, disebabkan terutama karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca ini sebagian besar diproduksi sebagai hasil dari aktivitas manusia. Hal ini akhir-akhir ini menjadi masalah serius, yang mengancam untuk mengganggu keseimbangan dasar lingkungan dan menyebabkan kerusakan besar-besaran.
LAPAN (2002;1) mendefinisikan perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu. Sedangkan istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah Bumi secara keseluruhan.
Definisi yang umumnya diterima adalah berdasarkan pasal 1 Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim yang menyatakan :
“Climate change means a change of climate which is attributed directly or inderictly to human activities that alters the composition of the global atmosphere and which is in addition to natural climate variability observed over comparable time periods.
  
Atau diterjemahkan :
“Perubahan iklim ialah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.”
Kementerian Lingkungan Hidup (2001:1) mendefinisikan perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sector kehidupan manusia. Perubahan fisik ini tidak terjadi hanya sesaat tetapi dalam kurun waktu yang panjang.
Sedangkan IPCC (2001) menyatakan bahwa climate change refers to a statistically significant variation in either the mean state of the climate or in its variability, persisting for an extended period (typically decades or longer).
Selain itu diperjelas juga bahwa climate change may be due to natural internal processes or external forcings , or to persistent anthropogenic changes in the composition of the atmosphere or in land use.
Pemanasan Global (Inggris: global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata- rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Global warming adalah suatu peristiwa yang disebabkan meningkatnya efek rumah kaca (green house effect). Sebenarnya efek rumah kaca bukanlah suatu hal yang buruk, justru dengan adanya efek rumah kaca bumi kita bisa tetap hangat, bahkan memungkinkan kita bisa survive hingga sekarang.
Kamu bisa mengibaratkan bumi kita seperti mobil yang sedang diparkir dalam cuaca yang cerah. Kamu pasti akan berpikir bahwa temperature di dalam mobil pasti akan lebih panas dibandingkan temperature di luar mobil. Sinar matahari memasuki mobil tersebut melalui celah-celah pada kaca jendela dan secara otomatis panas dari sinar matahari akan diserap oleh jok, karpet, dashboard serta benda-benda lain yang berada di dalam mobil. Ketika semua objek tersebut melepaskan kembali panas yang diserapnya, tidak semua panas tersebut akan bisa keluar melalui celah jendela, sebagian justru akan dipantulkan kembali- panas tersebut akan diradiasikan kembali oleh benda-benda yang ada di dalam mobil dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Sehingga sejumlah energy panas akan tetap tinggal di dalam mobil, dan hanya sebagian kecil dari energy tersebut yang bisa melepaskan diri. Pada akhirnya, mobil tersebut akan mengalami peningkatan temperature secara berkala, semakin lama akan semakin panas.
Ketika cahaya matahari mengenai atmosfer serta permukaan bumi, sekitar 70% dari energi tersebut tetap tinggal di bumi, diserap oleh tanah, lautan, tumbuhan serta benda-benda lainnya. 30 % sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif lainnya. Tetapi panas yang 70 % tersebut tidak selamanya ada di bumu, karena bila demikian maka suatu saat bumi kita akan menjadi “bola api”). Benda-benda di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali panas yang diserapnya. Sebagian panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan bumi ketika mengenai zat yang berada di atmosfer, seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat dari pada di luar angkasa, karena energy lebih banyak yang terserap dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali. Itulah peristiwa yang disebut dengan efek rumah kaca (green house effect).
            Suhu rata- rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ±  0.18 °c (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental panel on climate change (IPCC) menyimpulkan bahwa  ‘’ sebagian besar peningkatan suhu rata- rata global sejak pertengahan abad ke- 20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrsasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia’’ melalui efek rumah kaca. Keseimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademik sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °c (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 sampai 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada priode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjutan selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panasnya dari lautan.
Pada intinya, pemanasan global adalah peningkatan suhu udara di permukaan Bumi dan di lautan yang dimulai sejak abad ke-20 dan diprediksikan terus mengalami peningkatan. Sebagian besar ilmuwan menggunakan terminologi perubahan iklim daripada pemanasan global. Asumsinya adalah, yang terjadi sekarang ini tidak hanya fenomena bertambah panasnya suhu udara, tetapi juga iklim yang berubah-ubah. Kenapa itu bisa terjadi? Semuanya berasal dari bertambah panasnya suhu udara di Bumi. Arus angin dan laut lalu memindahkan panas ini ke segala penjuru Bumi. Pergerakan tersebut mendinginkan beberapa wilayah, memanaskan beberapa wilayah lainnya, dan mengubah jumlah curah hujan dan salju yang turun ke suatu tempat. Sebagai akibatnya, terjadi perubahan pola iklim global.
Dengan adanya isu pemanasan global telah merebak dikalangan masyarakat sejak lebih 50 tahun lalu. Para ilmuwa berargumentasi apabila kondisi ini terus belansung, dapat diprediksi beberapa puluh tahun lagi kita tidak akan mengenal planet bumi ini sama dengan bumi yang kita huni sekarang.
Berdasarkan hasil penelitian, ternyata peningkatan kadar CO2 dalam udara lah yang memicu munculnya peristiwa pemanasan global. Pemanasan global ini diklaim sudah terjadi semejak revolusi industri merabak di Inggris pada abad ke-18 yang diawali dengan penemuan mesin uap oleh James Watt. Pada waktu itu, pembakaran batu bara sebagai sumber energi mesin uap ternyata juga melepaskan gas CO2 yang sangat banyak ke udara bebas. Bahkan, sampai saat ini peningkatan  kadar CO2 di udara  bebas semakin naik saja. Pembakaran  bahan bakar fosil akan selalu menghasilkan kadar gas CO2. Belum lagi kejadian kebakaran hutan yang akhir-akhir ini marak terjadi hampir diseluruh dunia.

B. Perdebatan Tentang Pemanasan Global

           Tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat dari Pemanasan Global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah suhu benar-benar meningkat. Yang lainnya  mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan pada masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti- bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan beragumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan suhu. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.
         Para Ilmuwan mempertanyakan Pemanasan Global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan prilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga decade pada pertengahan abad kedua puluh bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970an. Kedua jumlah total pemanasan selama abad kedua puluh hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga troposfer, lapisan atmosfer terendah tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi,  pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.
         Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer. Partukulat ini , juga dikenal sebagai aerosol, memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya control terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.
          Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerpan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S National oceanik and  atmosferik atmanistrasion (NOAA)  memberikan hasil analisi baru tentang suhu air yang di ukur oleh para pengamat diseluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecendrungan pemanasan; suhu laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3 derajat fahraienhait) dari pada suhu rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukub berarti.
         Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendetiksi lebih sedikit pemanasan di trofposfer dibandingkan prediksi model. Menurud beberapa kritikus pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan bumi tidak dapat di percaya. Pada bulan januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National academy of sciences untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.
            Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuawan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana  pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengurangi konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokl Kyoto, yang mengarah kepada emisi gas-gas rumah kaca.


BAB II
Penyebab Pemanasan Global

Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan nitro oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
kecuali dunia mengambil tindakan untuk membatas emisi gas rumah kaca. Sepertinya, angka itu tidak begitu berarti bagi Anda. Akan tetapi, Anda perlu tahu, selama Zaman Es terakhir sekitar 11.500 tahun yang lalu, suhu rata-rata dunia hanya 5ºC lebih rendah daripada suhu udara sekarang, dan saat itu hampir seluruh benua Eropa tertutup lapisan es tebal! Tren pemanasan ini terus berlanjut: 11 tahun terpanas dalam sejarah semuanya terjadi dalam 12 tahun terakhir.
Penelitian University College London (2007) menunjukkan gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami dipicu oleh pemanasan global atau perubahan iklim. Lalu, apa penyebab pemanasan global?  
Selain Efek rumah kaca kegiatan manusia yang menyebabkan pemanasan Global adalah sebagai berikut:
a.Peternakan

     Pada tahun 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengeluarkan laporan “Livestock’s Long Shadow” dengan kesimpulan bahwa sektor peternakan merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Sumbangan sektor peternakan terhadap pemanasan global sekitar 18%,6 lebih besar dari sumbangan sektor transportasi di dunia yang menyumbang sekitar 13,1%.2 Selain itu, sektor peternakan dunia juga menyumbang 37% metana (72 kali lebih kuat daripada CO2 selama rentang waktu 20 tahun)2, dan 65% nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2).
2.  Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan
a.   Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
b.   Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.
3.  Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
a.   Emisi CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.
b.   Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.

        Industri peternakanNations Environment Program (UNEP) menegaskan dalam buku panduan “Kick The Habit” bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2.9 Saat ini, penduduk Bumi berjumlah sekitar 6,7 miliar orang. Bila 5 miliar orang di antaranya adalah pemakan daging, coba Anda hitung berapa triliun CO2 yang dihasilkan setiap tahunnya? Kita perlu memprogram ulang kebiasaan makan kita. Dan Anda perlu tahu, vegetarian, menurut laporan UNEP, hanya menyumbang 190 kg CO2per tahunnya.
          Divisi Lingkungan Bank Dunia baru-baru ini mengemukakan penelitian mengejutkan bahwa produksi dan konsumsi daging menyebabkan 51% pemanasan global dalam laporan penelitian mereka yang bertajuk Livestock and Climate Change (2009)10. Berikut adalah tabel koreksi emisi produksi dan konsumsi daging setelah menggabungkan berbagai aspek yang tidak diperhitungkan dalam laporan FAO “Livestock Long Shadow” (2006) menurut Bank Dunia : 
Beban gas rumah kaca yang disebabkan oleh berbagai diet hewan dibanding dengan diet vegan  dengan pemasukan kalori yang sama. Sebagai perbandingan, perbedaan emisi gas rumah kaca antara berbagai model mobil juga diperlihatkan.  Misalnya, diet daging campur, yang mengkombinasikan daging merah dengan unggas dan ikan, sebanding dengan perbedaan emisi antara sebuah Suburban dan sebuah Camry saat masukan kalori dari sumber hewan mencapai 47 persen.
            Pilihannya ada di dapur Anda: Sekalipun seseorang memilih untuk menutup matanya terhadap kekejaman dalam pertanian pakan ternak, akan tetapi keadaan darurat untuk menghentikan perubahan iklim dan bagaimana cara melakukannya sangatlah jelas. Sekarang bukan hanya para vegetarian atau pencinta lingkungan yang mengatakannya; tetapi ketua dari sebuah badan internasional, Dr. Pachauri, telah mengumumkan kepada dunia bahwa pengaruh makan daging telah merusak planet kita, dan bahwa kita harus menghentikan makan daging agar dapat membalikkan keadaan. Namun itu semua tergantung pada pilihan orang. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat Bumi ini menjadi lebih sejuk, lebih bersih, dan lebih sehat. Jadi mulailah dari dapur Anda:  Pilihlah diet vegetarian dan bantulah mengerem perubahan iklim.


Konsumsi air untuk menghasilkan satu kilo makanan dalam pertanian pakan ternak Amerika Serikat.
1 kg daging
Air (liter)
Daging sapi
1.000.000
Ayam
3.500
Kedelai
2.000
Beras
1.912





Gandum
900
Kentang
500



Peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak.
Menurut laporan Bapak Steinfeld,  pengarang   senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu dan Pilihan      Lingkungan (Livestock’s Long Shadow–Environmental Issues and Options), peternakan adalah "penggerak utama dari penebangan hutan  kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.
Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem , tidak sulit untuk menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di atas meja makan orang. Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum; akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi! Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak hanya untuk membuat sebuah hamburger daripada konsumsi yang diperlukan untuk membuat hamburger dari kacang kedelai! Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih.
Tahun lalu, penyelidik dari Departemen Sains Geofisika (Department of Geophysical Sciences) Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin, juga menyingkap hubungan antara produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka mengukur jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas, susu, dan telur, serta membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang berdiet vegan. Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika beralih ke diet tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat  mencegah satu setengah ton emisi gas rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari sebuah sebuah sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius hibrida menghemat kurang lebih satu ton emisi CO2.
b. Pembangkit Energi
             Sektor energi merupakan sumber penting gas rumah kaca, khususnya karena energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, di mana batu bara banyak digunakan untuk menghasilkan listrik.9 Sumbangan sektor energi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 25,9%.2
            Pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil adalah pembangkit listrik yang membakar bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, atau minyak bumi untuk produksi listrik. Pembangkit listik tenaga bahan bakar fosil di desain untuk produksi skala besar yang berlangsung terus menerus. Di banyak negara, pembangkit listrik jenis ini memproduksi sebagian besar energi listrik yang digunakan. Pembagkit listrik tenaga bahan bakar fosil selalu memiliki mesin rotasi yang mengubah panas dari pembakaran menjadi energi mekanik yang lalu mengoporasi generator listrik. Pengerak utamanya mungkin adalah uap, gas bertekanan tinggi, atau mesin siklus dari mesin pembakaran dalam. Hasil sampingan dari mesin pembakaran dalam harus dipertimbangkan dalam desain mesin dan operasinya. Panas yang terbuang karena efisiensi yang terbatas dari siklus energi, ketika tidak direcovery sebagai pemanas ruangan, akan dibuang ke atmosfer. Gas sisa hasil pembakaran dibuang ke atmosfer; mengandung karbon dioksida dan uap air, juga substansi lain seperti nitrogen, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan abu ringan (khusus batu bara) dan mungkin merkuri. Abu padat dari pembakaran batu bara juga harus dibuang, meski saat ini abu padat sisa pembakaran batu bara dapat di daur ulang sebagai bahan bangunan.
            Pembangkit listrik bahan bakar fosil  tenaga bahan bakar adalah penyumbang utama gas rumah kaca dan berkontrubusi besar terhadap pemanasan global. Batu bara menghasilkan gas rumah kaca sedikitnya tiga kali lebih banyak dari gas alam.

 Konsep dasar pada pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil, energi kimia yang tersimpan dalam bahan bakar fosil (batu bara, gas alam, minyak bumi) dan oksigen dari udara dikonversikan menjadi energi termal, energi mekanis, lalu energi listrik untuk penggunaan berkelanjutan dan distribusi secara luas.
Konversi energi kimia menjadi panas Pembakaran sempurna dari bahan bakar fosil menggunakan oksigen untuk menginsias pembakaran. Dimana koefisien stoikiometri x dan y bergantung pada tipe bahan bakar. Persamaan yang lebih simpel lagi adalah bahan bakar oksigen + oksigen, Sisa pembakaran seperti nitrogen dan sulfur dioksida, datang dari bahan bakar yang tidak murni karena terdapat campuran yang tidak diharapkan (pengotor) dari bahan bakar tersebut.
Konversi panas menjadi energi mekanis hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa setiap siklus tertutup hanya bisa mengkonservasi sebagian panas yang diproduksi menjadi kerja. Sisa panas harus dipindahkan ke reservoir yang lebih dingin, menjadi panas yang terbuang. Sebagian panas yang terbuang adalah sama atau lebih besar dari rasio temperatur mutlak reservoir dingin dan resorvoir panas. Meningkatkan temperatur reservoir dapat meningkatkan efisien mesin. Panas yang terbuang tidak dapat dimanfaatkan menjadi energi mekanis. Namun dapat dimanfaatkan untuk menghangatkan bangunan, memproduksi air panas, atau memanaskan material dalam skala industri.
Efek lingkungan pembakaran batu bara dapat memicu hujan asam dan polusi udara, dan telah dihubungi dengan pemanasan global karena komposisi kimia dari batu bara dan sulitnya memindahkan pengotor dari bahan bakar padat ini untuk pembakaran. Hujan asam disebabkan oleh emisi nitrogen oksida dan sulfur dioksida ke udara. emisi tersebut bereaksi denga uab air diatmosfer, menciptakan bahan asam (asam sulfur, asam nitrit) yang jatuh sebagai hujan.
Karbon dioksida pembangkit listrik tenaga bahan bakar posil bertanggung jawab penuh terhadap sebagian besar dari emisi karbon dioksida diseluruh dunia, dan 41% dari seluruh emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh manusia. karbon dioksida diproduksi secara alami oleh alam melalui letusan gunung berapi, pemecahan biologis, atau respirasi organisme hidup. Karbon dioksida diserap oleh tanaman melalui fotosintesis atau perairan, masalnya laut. Peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer memicu perubahan iklim termasuk pemanasan global.
Partikulat masalah lainnya dari pembakaran bahan bakar posil adalah emisi partikulat yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Pembangkit listrik bahan bakar fosil memidahkan partikulat dari gas sisa hasil pembakaran dengan baghouse filter atau electrostatic frecipitator. Materi partikulat terdiri yang utama adalah abu ringan, namun ada juga sulfat dan nitrat. Abu ringan mengandung bahan yang tidak dapat terbakar yang tersisa setelah pembakaran. Ukuran partikulat bervariasi dari yang berukuran lebih besar dari 2,5 mikrometer hingga yang berukuran lebih kecil dari 1.0 mikrometer semakin kecil ukuran, semakin sulit dihilangkan.
Terdapat beberapa metode untuk menghilangkan emisi partikulat agar tidak mencemari atmosfer:
§   Baghouse filter, yang mengumpulkan partikel abu.
§   Electrostatic precipitator, yang mengunakan tegangan tinggi untuk menghasilkan medan listrik untuk menangkap partikal abu.
§   Cyclone collector, menggunakan perinsip sentrifugasi untuk menangkap partikel.
Alternartif bahan bakar fosil. Alternatif bahan bakar fosil meliputi energi nuklir, energi surya, dan energi terbarukan lainnya.
Menurut Dapartemen Energi dan Sumberdaya Mineral (2003), komsumsi energi bahan bakar fosil memakan sebanyak 70% dari total komsumsi energi, sedangkan listrik menempati posisi kedua dengan memakan 10% dari total komsumsi energi. Dari sektor ini, Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi gas rumah kaca.
      Indonesia termasuk negara pengkomsumsi energi terbesar setelah Cina, Jepang, India dan Korea Selatan. Komsumsi energi  yang besar ini diperoleh  karena banyaknya penduduk yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam perhitungan penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar  penggunaan energi per orang di negara maju. Menurut  Prof. Emil Salim, USA mengemisikan 3 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar penduduk, sementara India mengemisikan 1,2 ton CO2/ orang dengan jumlah 1 milyar penduduk.
            Dengan demikian, banyaknya gas rumah kaca yang terbuang ke atmosfer  dari sektor  ini berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah penduduk. USA merupakan negara dengan penduduk yang mempunyai gaya hidup  sangat boros, dalam mengkomsumsi  energi yang berasal dari bahan bakar fosil, berbeda dengan negara berkembang yang mengemisikan sejumlah gas rumah kaca, karena akumulas banyaknya penduduk.

c. Industri
            Sumbangan sektor industri terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 19,4%.2 Sebagian besar sumbangan sektor industri ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau dari produksi C02 secara langsung sebagai bagian dari pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen. Hampir semua emisi gas rumah kaca dari sektor ini berasal dari industri besi, baja, kimia, pupuk, semen, kaca dan keramik, serta kertas.   
            Sektor indrustri menjadi salah satu kontributor terbesar penyumbang asap pabrik, CO2, dan pengunaan peralatan listrik yang menghasilkan emisi. Pengunaan aircondionair (AC) pada ruangan akan menghasilkan CFC yang dapat merusak ozon yang menjadi pelindung Bumi di sinar ultraviolete langsung pengunaan energi terbarukan juga menjadi salah satu solusi yang baik. Salah satu energi terburukan adalah energi geothermal memiliki hasil, emisi yang rendah sehingga dapat dikembang. Konsep green energi hijau ini tentunya akan menjadi salah satu langkah dalam megurangi perubahan iklim.
            Kelebihan solusi tentu tidak terlepas dari peraturan dan regulasi yamg ditetapkan oleh pemerintah dalam mengurangi dampak pemanasan global. Disamping diciptakan regulasi  oleh pemerintah, pemanasan global dapat di kurangi degan cara prilaku kita sehari-hari tentunya. Bayak hal yamg bisa kita lakukan degan menagani penyebab-penyebab dari pemanas global. Solusi atas parmasalahan ini tentunya ada pada diri kita masing-masing.
Pemanasan global merupakan salah satu krisis yang sedang dihadapi dunia. Fenomena dimana suhu bumi secara bertahap memanas hingga mencapai titik yang mengganggu keseimbangan global. Pemanasan global dapat menjadikan kutub es mencair dan menigkatkan volume air laut.
            Salah satu penyebab utama dari pemanasa global adalah meningkatnya karbon dioksida yang dihasilkan antara lain oleh mesin pabrik industri dan kendaraan bermotor, pembakaran sampah, dan berbagai sebab lainnya yang disebabkan oleh manusia. Sedangkan hutan dan pohon-pohon yang dapat menyerap karbon dioksida terus berkurang oleh penebangan karena pertumbuhan yang terus berkembang. Tercatat kadar CO2  meningkat dari 280 PPM menjadi 380 PPM. CO2 yang berlebihan akan merusak lapisan ozon sebagai ”selimut” yang melindungi bumi dari sinar matahari langsung dan menjaga keseimbangan suhu di bumi. Sinar UV yang berlebihan dapat menyebabkan kangker kulit hingga timbulnya hujan asam yang tentunya akan mengganggu ke langsungan makhluk hidup di bumi.
            Pengurangan emisi tentunya merupakan  salah satu solusi dalam masalah ini adalah emisi karbon tentunya banyak disebabkan oleh berbagai sektor industri. Pemakaian energi terbarukan sebagai salah satu langkah dalam megurangi emisi dunia. Salah satu energi terbarukan adalah dengan penggunaan energi geothermal atau panas bumi yang memiliki emisi rendah. Geothermal di Indonesia memiliki potensial yang sangat besar karena Indonesia dilewati jalur oleh gunung api yang menjadi sumber panas dibumi. Energi geothermal dapat menggantikan pengunaan tenaga energi lain yang menghasilkan emisi tinggi untuk dunia. Energi selain geothermal yang dapat digunakan adalah potensi energi alternatif berupa tenaga air agin, biomasa, dan tenaga surya.
            Selain pengurangan emisi, salah satu solusinya adalah dengan kembali meningkatkan penghijauan dan penanaman pohon didunia. Gerakan penanaman pohon telah banyak dilakukan pemerintah dan berbagai komunitas pencinta lingkngan. Hutan sebagai penyerab karbon akan menjadikan suatu bantuan terhadap emisi karbon. Negara berkembang dan negara maju tentunya harus berkerja sama  dengan baik dalam mengurangi emisi.
            Kemudian emisi atau gas buangan tersebut kebanyakan berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Untuk  meminimalkannya ketika dapat mengatur termostar AC dengan suhu dluar ruangan. Penguragan pemakaian AC akan membantu mengurangi CFC dan emisi lainnya yang merusak ozon. Efisien peggunaan AC tentunya menjadi salah satu solusinya. Lebih baik kita pintu rumah kita lebar-lebar untuk mendapatkan kesejukan yang alami.
            Langkah selanjutya adalah pengurangan kedaraan bermotor apabila tidak terlalu jauh lebih baik berjalan kaki atau gunakan kendaraan umum, karena sektor transfortasi menyumbang 14% emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaraan publik maka kita  mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan  itu sangat hemat enegi tentunnya.  Pendirian komunitas lingkungan juga merupakan langkah yang baik. Banyak hal positif yang akan dilakukan. Tentunya, Penanaman pohon ataupun kegiatan positif lainnya. Mengadakan diskusi di berbagai forum juga akan mucul ide kreatif kita terhadap penguragan emisi du
d. Pertanian
 
         Sumbangan sektor pertanian terhadap emisi gas rumah kaca sebesar 13,5%.2 Sumber emisi gas rumah kaca pertama-tama berasal dari pengerjaan tanah dan pembukaan hutan. Selanjutnya, berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pembuatan pupuk dan zat kimia lain. Penggunaan mesin dalam pembajakan, penyemaian, penyemprotan, dan pemanenan menyumbang banyak gas rumah kaca. Yang terakhir, emisi gas rumah kaca berasal dari pengangkutan hasil panen dari lahan pertanian ke pasar.
            Sektor ini memberi kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang menghasilkan gas metana, pemanfaatan pupuk serta  praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan pembusukan sisa-sisa pertanian. Dari sektor ini  gas rumah kaca yang dihasilkan yaitu gas metana  dan gas nitrogen oksida. Di Indonesia, sektor pertanian menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 8.05% dari total gas rumah kaca yang dimisikan ke atmosfer.

e. Alih Fungsi Lahan dan Pembabatan Hutan
          Sumber lain C02 berasal dari alih fungsi lahan di mana ia bertanggung jawab sebesar 17.4%. Pohon dan tanaman menyerap karbon selagi mereka hidup. Ketika pohon atau tanaman membusuk atau dibakar, sebagian besar karbon yang mereka simpan dilepaskan kembali ke atmosfer.9 Pembabatan hutan juga melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah. Bila hutan itu tidak segera direboisasi, tanah itu kemudian akan menyerap jauh lebih sedikit CO2.
Kerusakan lingkungan disebabkan ulah manusia serakah mengekploitasi hutan melampaui batas-batas kewajaran. Kerena keserakahan manusia tersebut, ekosistem hutan yang awalnya baik menjadi rusak. Kalau manusia menyadari bahwa dari kerusakan lingkungan, tentu manusia tidak akan membabat hutan dengan penuh keserakahan. Lingkungan harus dijaga dan dilestarikan demi keamanan manusia dari keganasan alam dan bencana. Oleh karena itu, semua jajaran, baik Pemerintah, lembaga swasta, maupun masyarakat harus harus menyadari pentingnya menjaga lingkungan.
            Menurut dari data Yayasan Pelangi, pada tahun 1990, emisi gas karbon dioksida yang dilepaskan oleh sektor kehutanan, termasuk perubahan tata guna lahan, mencapai 64% dari total emisi CO2  Indonesia yang mencapai 748,61 KiloTon. Pada tahun 1994 terjadi peningkatan emisi karbon menjadi 74%.
            Proses pembabatan hutan ataupun penggundulan hutan untuk membuat ruang yang lebih luas  untuk industri dan rumah tangga dari populasi yang terus meningkat. Penebangan hutan yang berlebihan untuk memperluas area perkotaan dan tujuan lainnya sebenarnya merugikan keseimbangan lingkungan. Hal ini perlu dapat dikatakkan bahwa deforestasi memiliki beberapa  dampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu kerugian utama dari deforestasi adalah menggangu siklus air. Pohon berguna untuk menyerap air dan membuat lingkungan lebih kering. Perubahan iklim adalah hasil arah dari penebangan hutan berlebihan. Pepohonan menyimpan karbon dari atmosfer selama proses fotosintesis.

            Penggundulan hutan akan menghasilkan peningkatan jumlah karbon dan gas rumah kaca bagi lingkungan. Kebakaran hutan juga membuang sejumlah besar karbon dioksida ke udara. Karbon dioksida dan gas rumah kaca lain seperti oksida nitrogen dan metana menambah panas di atmosfer, sehingga meningkatkan suhu permukaan bumi. Peningkatan suhu dipermukaan bumi dan lautan disebut sebagai pemanasan global.
            Kita tidak boleh lupa bahwa pohon berpengaruh dalam keanekaragaman hayati. Dengan menebangi pohon, kita merampas sumber makanan hewan dan menyebabkan kehancuran kehidupan hewan. Hal ini dapat menyebabkan kepunahan berbagi spesies hewan. Pemanasan global yang sebagian besar disebabkan oleh penebangan hutan membahayakan kehidupan tanaman dan hewan sehingga mengganggu keseimbangan alam. Deforestasi, menjadi salah satu alasan utama di balik penyebab pemanasan global, kita perlu menunjukan perhatian yang lebih besar terhadap penebangan hutan. Kita perlu mengambil tindakan untuk mencegah deforestasi sehingga kita dapat mewujud kan suatu lingkungan yang kondusif bagi kehidupan kita.
            Kerusakan hutan salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerab karbon dioksida yang merupakan salah satu dari gas rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen. Saat ini di Indonesia, diketahui telah terjadi kerusakan hutan yang cukup parah. Laju kerusakan hutan di Indonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia (2001) sekitar 2,2 juta/tahun. Kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan, antara lain perubahan hutan menjadi perkebunan dengan tanaman tunggal secara besar-besaran, misalnya perkebunan kelapa sawit, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan  Hutan Tanaman Industri (HTI)  dengan kerusakan seperti tersebut diatas, tentu saja proses  penyerapan karbon dioksida tidak dapat optimal. Hal ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.
Alih fungsi pemanfaaatan lahan dibedakan menjadi penggunaan lahan secara umum dan pemanfaatan terbatas. Penggunaan lahan secara umum dipengaruhi oleh kondisi reliefnya, misalnya kegiatan pertanian dilakukan pada lahan berelief datar karena mudah di olah. Pertanian pada lahan miring dapat diatasi dengan sistem terasering. Selain itu, penggunaan lahan secara umum dimanfaatkan untuk lokasi kegiatan bidang-bidang lain seperti industri, permukiman, dan parawisata. Salah satu kegiata parawisata yang dapat menambah kesadaran dalam menjaga lingkungan hidup adalah wisata alam atau outbond.
Pertambahan penduduk yang semakin pesat menigkatkan kebutuhan lahan tempat tinggal. Oleh karena itu, penduduk memanfaatkan berbagai jenis lahan terbatas. Untuk mengatasinya, banyak negara melakukan reklamasi lahan. Reklamasi lahan adalah proses perluasan atau penambahan lahan. Reklamasi dilakukan dengan cara pengeringan rawa, penimbunan bahan bekas tambang, dan pengurukan pantai.


 f. Transportasi
           Sumbangan seluruh sektor transportasi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%. Sektor transportasi dapat dibagi menjadi transportasi darat, laut, udara, dan kereta api. Dari total sumbangan 13,1% itu, sumbangan terbesar berasal dari transportasi darat (79,5%), disusul kemudian oleh transportasi udara (13%), transportasi laut (7%), dan terakhir kereta api (0,5%).
            Permasalahan-permasalahan transportasi memang telah banyak terjadi di manapun. Tetapi setiap negara atau wilayah mempunyai cara sendiri-sendiri untuk mengatasinya. Cara untuk mengatasi pun berbeda-beda tergantung kondisi yang terdapat di wilayah atau daerah tertentu. Setiap negara memang saat ini sedang gencar dalam mengatasi banyaknya permasalahan transportasi. Karena masalah transportasi memang kompleks dan juga termasuk  pemanasan global. Dan  masalah transportasi pun harus diatasi untuk mengatasi isu pemanasan global  tersebut. Dan konsep transportasi berkelanjutan memang harus diterapkan di setiap negara atau wilayah. Karena dengan konsep transportasi berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dan ramah lingkungan, pemansan global akan sedikit bisa teratasi. Lingkungan memang suatu yang harus dijaga dalam kehidupan ini. Karena tanpa lingkungan yang baik, kehidupan kehidupan manusia juga tidak akan seimbang. Sehingga yang terjadi adalah pemanasan global tersebut. Dikarenakan ketidak seimbangan antara lingkungan dengan sistem-sistem yang ada. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan saat ini adalah menjaga lingkungan yang ada dan memperbaiki lingkungan yang rusak. Dan ini bisa dilakukan dengan cara melakukan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan tidak hanya pada pembangunan fisik saja, tetapi juga pembangunan sistem-sistem yang ada yang berkelajutan dan berwawasan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan khususnya transportasi berkelanjutan memang sangat penting untuk mendukung perbaikan dari lingkungan. Karena dengan transportasi yang ramah lingkungan dan mendukung perbaikan lingkungan, maka pemanasan global akan bisa diatasi. Konsep transportasi berkelanjutan ini memang sudah melampaui batas memang juga ikut memberi dampak negatif pada lingkungan.

            Perkembagan jaman memang semakin moderen dan semakin canggih karena perkembangan IPTEK juga berpengaruh terhadap perkembangan transportasi. Moda transportasi saat ini memang lebih canggih, moderen, dan mudah untuk dipergunakan. Dan masyarakat memang sudah tergantung kepada transportasi dalam melakukan aktivitas hidupnya. Pemenuhan kebutuhan manusia juga bergantung dengan transportasi. Tetapi semakin canggih dan moderen moda transportasi tersebut juga semakin besar dampak yang disebabkan oleh moda transportasi tersebut. Dampak yang dihasilkan transportasi kebanyakan menghasilkan dampak negatif terhadap lingkungan. Dan dampak ini memang sudah sangat terasa dikehidupan manusia. Misalnya perubahan iklim menjadi lebih panas atau pemanasan global tersebut.
            Dikota besar, polusi udara yang dihasilkan oleh moda tranportasi sekitar 60%-80% dan itu merupakan yang terbesar setelah itu polusi dari industri dan rumah tangga.  Kebijakan yang mengatur tentang pengendalian pencemaran udara adalah Perda No.2 tahun 2005 yang mengharuskan uji emisi bagi kendaraan bermotor. Uji ini dilakukan karena dalam kenyataan kualitas udara Kota Jakarta sekitar 70%  pencemaran udaranya diakibatkan oleh kendaraan bermotor. Sebelumnya sudah lama pemerintah membuat undang-undang anti polusi, yaitu UU Lalu Lintas No. 14/1992 pasal 50 yang menyatakan bahwa untuk mencegah pencemaran udara dan kebisingan suara kendaraan bermotor yang dapat menggangu kelestarian lingkungan hidup, setiap kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan.
            Namun, pada kenyaataan peraturan tersebut hanya peraturan tertulis tanpa direalisasikan dengan kenyataan. Peraturan tersebut seharusnya dilaksanakan pada kendaraan-kendaraan umum dalam paket uji kir. Hingga pada saat ini masih banyak kendaraan dengan asap tebal dan keadaan yang sudah tidak layak. Dan pemerintah sebagai pengawas kebijakan tersebut juga tidak berbuat banyak bagi yang melanggar kebijakan tersebut. Oleh sebab itu, sistem transportasi yang ada pun menjadi rusak dan buruk karena salah satu sistem yaitu sistem kelembangaan juga tidak berbuat banyak dan tidak bisa menindak yang melakukan pelanggaran.
Solusinya adalah pengurangan kedaraan bermotor apabila tidak terlalu jauh lebih baik berjalan kaki atau gunakan kendaraan umum,  jika kita menggunakan kendaraan publik maka kita  mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan  itu sangat hemat enegi tentunnya.
  
g. Hunian dan Bangunan Komersial
        Sektor hunian dan bangunan bertanggung jawab sebesar 7,9%. Namun, bila dipandang dari penggunaan energi, maka hunian dan bangunan komersial bisa menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang besar. Misalnya saja dalam penggunaan listrik untuk menghangatkan dan mendinginkan ruangan, pencahayaan, penggunaan alat-alat rumah tangga, maka sumbangan sektor hunian dan bangunan bisa mencapai 30%. Konstruksi bangunan juga mempengaruhi tingkat emisi gas rumah kaca. Sebagai contohnya, semen, menyumbang 5% emisi gas rumah kaca.
h. Sampah
Limbah sampah menyumbang 3,6% emisi gas rumah kaca. Sampah di sini bisa berasal dari sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (2%) atau dari air limbah atau jenis limbah lainnya (1,6%). Gas rumah kaca yang berperan terutama adalah metana, yang berasal dari proses pembusukan sampah tersebut. Sampah bisa di manfaatkan sebagai upaya mengurangi pemanasan global. Sampah menghasilkan gas metana. Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapi  kota-kota Indonesia.

2.3 VariaMatahari


             

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari matahari, dengan kemungkinan  diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontributor dalam  pemanasan saat ini.
            Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (penipisan apisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an).
Fenomena variasi matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University memperkirakan bahwa matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun1980-2000.
Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingka dengan pengaru Matahari mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginaan dari debu vulkanik dan aeosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa dengan meningkatkan seensitivitas iklim terhadap pengaruh matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca. Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat ‘’keterangan’’ dari matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus matahari Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tigkat ‘’ keterangannya’’ selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Frohlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output matahari maupun variasi dalam sinar kosmi.


BAB III

 Mengukur Pemanasan Global


Pada awal tahun 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan suhu rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasikan tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu Internasional Geophysical Year, menggambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mana Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukan terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus di ukur degan cermat. Data-data yang dikumulkan menunjukan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Suhu terus bervariasi dari waktu ke waktu  dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memproleh data-data yang menunjukan suatu kecenderungan yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit tidak dapat dipercaya.
Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran suhu akan dipengaruhi  oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan jalan. Sejak 1957, data-data diproleh dari statiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan akurat, terutama pada70% permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang akurat ini menujukan bahwa kecenderungan menghangatnya pemukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke 20, tercatat bahwa sepuluh tahun terakhir terjadi setelah 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 mejadi yang paling panas.
Dalam laporan yang dikeluarkannya 2001 IPCC menyimpulkan bahwa suhu udara global telah meningkat 0,6 derajat celsius atau satu derajat fahrenheit sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksikan peningkatan suhu rata-rata  global akan meningkat 1.1 hingga 6.4°C (20 hingga 11.5°F) antara tahun 1990 dan 2100.
IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangatkan selama priode tertentu akibat emisi yang telah  dilepaskan sebelumnya. Karbon dioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meingkatkan hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibadingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah di bumi, manusia akan menghadapi populasi yang sangat besar.
Model Iklim
Perhitungan pemanasan global pada tahun 2100 dari beberapa model iklim berdasarkan skenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi. Para ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model computer berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamika flurida, transfer radiasi, dan proses-proses lainnya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat. Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas  rumah kaca pada masa depan. Sensitivitas iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukan unsur-unsur ketidak pastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan  sekitar 1.1°C hingga  6.4°C (2.0°F hingga 11.5°F) antara tahun 1990 dan 2100.
            Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan iklim yang terjadi pada saat ini dengan membandingkan perubahan yang  teramati dengan hasil prediksi model terhadap berbagi penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia. Model iklim saat ini akan menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan suhu global hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi mensimulasi semua aspek dari iklim.
Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oeh proses alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukan bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.
Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitungkan iklim pada masa depan, dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari laporan khusus terhadap skenario emisi IPCC. Yang jarang dilakukan menghiung denga meambahkan simulasi terhadap siklus karbon;yang biasanya biasanya menghasilkan umpan balik yang fositif, walaupun responnya masih belum pasti untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO.
            Bagi Kehidupan Bumi Beberapa studi-studi juga menunjukan beberapa unpan balik positif. Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidak pastian terhadap model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telahada kemajuan dalam meyesaikan masalah ini. Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih belanjut mengenai apakah model-model iklim mengesampingkan efek-efek upan balik tak langsung dari variasi matahari.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °c (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 sampai 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada priode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan  muka air laut diperkirakan akan terus berlanjutan Selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.



BAB IV

Dampak Pemanasan Global


Para ilmuwan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitas, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa perkiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar daan kesehatan manusia.
                        Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitas. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain.
Hingga saat ini masih terjadi perdepatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsenkuensi-konsenkuensi yang ada. Sebagai besar pemerintahan negara-negara didunia menandatangani dan meratifikasi protokol kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
                Pemanasan global merupakan masalah serius yang kita hadapi saat ini. Pemanasan global dapat berdampak pada kesehatan manusia. Salah satu cara untuk melindungi kesehatan generasi sekarang dan masa depan   dari dampak pemanasan global adalah mengurangi emisi karbon. Oleh sebab itu, kita harus mengurangi penggunaan peralatan elektronik yang mempercepat pertambahan emisi karbon di bumi. Adapun cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk menghambat pemanasan global yaitu melakukan penghijauan di lingkungan tempat tinggal kita. Cara tersebut efektif untuk mengurangi karbon dioksida yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal kita.



BAB V
Dampak Pemanasan Global Bagi Kehidupan Bumi
Meskipun kita baik menyadari berbagai dampak pemanasan global di Bumi, kita tidak benar-benar tahu kapan kita akan dihadapkan karenanya. Ini termasuk gletser mencair, perubahan iklim, kepunahan massal, dan sebagainya. Bahkan, United States Geological Survey telah mengungkapkan bahwa pada tahun 2030 yang terkenal Glacier National Park di Amerika Serikat akan ditinggalkan tanpa adanya gletser!
Ancaman pemanasan global telah berlipat ganda selama bertahun-tahun dan sayangnya, itu terus memperbanyak, sebagai pergumulan antara negara maju dan berkembang untuk menerapkan pemotongan emisi berlanjut. Pemanasan global adalah masalah yang sangat serius, karena dampaknya pada satu komponen tertentu dari bumi memicu serangkaian dampak buruk pada komponen terkait lainnya. Misalnya, es di kutub mencair akan menaikkan level air, yang pada gilirannya akan menenggelamkan daerah dataran rendah di seluruh dunia.
Manusia, hewan, tumbuhan, iklim, tanah apa saja dan itu akan dipengaruhi oleh pemanasan global. Bahkan, beberapa spesies tanaman dan hewan yang sudah di ambang kepunahan. Studi menunjukkan bahwa sekitar 15-37 persen spesies tanaman dan hewan akan dihapus dari planet pada tahun 2050. Perubahan pola iklim sudah mulai menunjukkan, permukaan laut meningkat. Singkat kata, kita hanya menuju kehancuran.

  

Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas.2Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir!
IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan nitro oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Dampak  Pada Lingkungan


  Suhu rata-rata planet untuk setiap tahun, selama dekade terakhir, telah menampilkan di atas 25 suhu yang tinggi sepanjang masa. Bahkan, tahun 1998 dan 2005 adalah tahun-tahun terpanas dalam sejarah Bumi. Planet ini semakin panas dari hari ke hari, dan hanya karena perubahan yang terjadi secara bertahap kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kita rentan terhadap ancaman pemanasan global. Bahkan, ungkapan tepat akan – ‘seluruh planet terancam oleh bahaya nya.
  

Dampak pada Hewan

        
 Sejumlah besar spesies hewan akan hilang dari planet ini, karena hilangnya habitat dipicu oleh pemanasan global. Tidak ada keraguan bahwa banyak hewan akan menanggung beban perubahan iklim dikaitkan dengan itu. Bahkan, itu dikhawatirkan bahwa cepat atau lambat akan memicu kepunahan massal, dan sepertiga dari spesies hewan akan punah pada tahun 2050.
Beruang Kutub: Beruang kutub tergantung pada es terbentuk di laut ketika berburu. Jika es mencair, kisaran beruang kutub akan berkurang untuk sebagian besar, dan ini kehilangan habitat pada gilirannya akan menyebabkan penurunan populasi beruang kutub.
Penguins: es laut lebur juga akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan alga, yang pada gilirannya akan mengakibatkan penurunan organisme kecil, seperti udang krill, yang merupakan bagian yang sangat penting dari makanan penguin. Dan dengan demikian, kelangkaan pangan dan hilangnya habitat akhirnya akan mendorong penguin menuju kepunahan.
Serigala Arktik: suhu hangat telah mendorong rubah Arktik lebih jauh ke utara untuk mencari habitat dingin, tapi tingkat di mana kita kehilangan daerah dingin, rubah Arktik terikat untuk kehilangan pertempuran untuk bertahan hidup dalam waktu dekat.
Ini adalah hanya beberapa dari hewan yang terancam oleh pemanasan global. Daftar panjang meliputi karibu, kupu-kupu, hewan hibernate, burung migran dan berbagai jenis ikan juga.
Hewan merupakan  makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
 

Dampak pada Tanaman

           Karena perubahan drastis dalam tingkat suhu, berbagai jenis tanaman telah mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan daerah dimana ketika mereka berkembang. Musim pertumbuhan beberapa spesies tanaman juga telah diubah, yang pada gilirannya telah mengganggu siklus reproduksi spesies, sehingga memberikan pukulan drastis pada populasi tanaman. Bahkan perubahan pola curah hujan dapat menyebabkan dampak berbahaya pada berbagai jenis tanaman. Dampak pemanasan global pada pertanian adalah contoh terbaik dari ini. Sering hujan akan menyebabkan banjir, sedangkan kurang hujan akan mengakibatkan kekeringan, keduanya hanya akan menyebabkan kerusakan lahan pertanian, misalnya keterlambatan musim tanam atau panen, kegagalan penanaman, atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Sehingga akan terjadi penurunan produksi pangan di Indonesia. Singkatnya, perubahan iklim akan mempengaruhu ketahanan pangan nasional.
Bencana alam lainnya, seperti badai, yang juga disebabkan karena pemanasan global, dapat memiliki dampak buruk pada kehidupan tanaman. Selanjutnya kepunahan hewan juga akan menyebabkan dampak negatif terhadap kehidupan tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, kepunahan harimau akan mengakibatkan peningkatan jumlah herbivora dan makan berlebihan oleh herbivora akan mengakibatkan menipisnya cakupan hutan. Kepunahan burung akan mempengaruhi proses penyerbukan dan menghambat reproduksi pada tumbuhan. Karena semua faktor ini, berbagai spesies tanaman juga diharapkan menjadi punah pada akhir abad ini.
Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat.  
              Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi keringdi beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang megunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin,yang berfungsi sebagai resrevoir alami, akan mencair sebelum pujak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangga-serangga dan penyakit yang lebih hebat.
            Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru, habitat lamanya menjadi hagat.  Akan tetepi, pembagunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bemikrasi keutara atau keselatan yang tehalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.  
            Beberapa tahun terakhir ini, terjadi perubahan iklim dan telah di rasakan  berbeda  dampak pada pertanian ketahanan pangan, kesehatan manuasia, dan permukimaan, termasuk sumber daya air dan keaneka ragaman hayati .
            Dalam konteks Indonesia, petani memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Selain karena kepemilikan lahan yang sangat kecil serta lemahnya akses terhadap berbagai input pertanian serta kerterbatasan akses pada pasar dan pengelolahan hasil pertanian, petani juga memiliki pengetahuan yang sangat minim tentang strategi terhadap perubahan iklim global.

 Dampak pada Cuaca

          Peningkatan suhu akan menyebabkan dampak yang merugikan pada cuaca juga. Bahkan perubahan kecil dalam suhu global akan memicu serangkaian ekstremitas cuaca, dan mengubah pola iklim di planet ini. Jumlah bencana alam telah meningkat selama jangka waktu tertentu. Tiga dekade terakhir telah menyaksikan peningkatan jumlah kategori badai 4 dan kategori 5. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengakui fakta bahwa frekuensi hujan lebat telah meningkat selama 50 tahun terakhir. Di satu sisi, pemanasan laut akibat pemanasan global menimbulkan badai ganas, sementara lebih dari suhu normal di darat menimbulkan gelombang panas yang hebat. Suhu yang lebih tinggi menyebabkan penguapan lebih cepat dari air dan menyebabkan kekeringan di satu bagian, dan membawa hujan deras dan menyebabkan banjir di bagian lain dunia. Meskipun kita tidak dapat menyimpulkan dampak serius dari pemanasan global terhadap cuaca dengan mempertimbangkan satu tahun kekeringan tunggal atau badai menghancurkan tunggal, tren ini kejadian alam berbicara dalam volume untuk diri mereka sendiri.
      Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.



Dampak pada Glester
              Salah satu dampak yang lebih parah dari pemanasan global di Bumi adalah mencairnya es abadi dan permanen menutupi di muka bumi. Ada beberapa ribu gletser tersebar di seluruh dunia yang merupakan sumber penting air tawar. Pemantauan dari gletser ini, oleh proyek-proyek seperti Global Ice Pengukuran Tanah dari angkasa (GLIMS), telah mengungkapkan bahwa gletser ini menghilang pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal ini dipandang sebagai salah satu faktor yang paling menonjol untuk naiknya permukaan air laut. Gletser di bidang es Patagonia Argentina telah surut 1,5 kilometer lebih dua dekade terakhir. Jumlah gletser di Taman Nasional Gletser di Montana   telah turun dari angka perkiraan dari 150-50 dalam kurun waktu 150 tahun, dan diperkirakan akan turun lebih jauh, akhirnya mengarah pada hilangnya semua gletser pada 2030. Mencairnya gletser dapat memicu bencana alam yang parah, seperti banjir bandang, di daerah sekitarnya. Lebih penting lagi, air meleleh mengalir ke lautan sehingga menyebabkan permukaan laut naik, yang akhirnya mengarah pada merendam daerah dataran rendah seperti Bangladesh dan Maladewa.
Mencairnya Es di Kutub: Pemanasan global berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah Kutub Utara dan Kutub Selatan. Es di Greenland yg telah mencair hampir mencapai 19 juta ton! Volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yg ada 4 tahun sebelumnya! Baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh.
 Mencairnya gletser-gletser dunia mengancam ketersediaan air bersih dan pada jangka panjang akan turut menyumbang peningkatan level air laut dunia. Gletsergletser dunia saat ini mencair hingga titik yg mengkhawatirkan! NASA mencatat bahwa sejak tahun 1960 hingga 2005 saja, jumlah gletser-gletser di berbagai belahan dunia yg hilang tidak kurang dari 8.000 m3! Para ilmuwan NASA kini telah menyadari bahwa cairnya gletser, cairnya es di kedua kutub bumi, meningkatnya temperature bumi secara global, hingga meningkatnya level air laut merupakan bukti-bukti bahwa planet bumi sedang terus memanas. Dan dipastikan bahwa umat manusialah yg bertanggung jawab untuk hal ini.


 Dampak pada Tingkat Laut

           Salah satu yang paling menyedihkan di antara berbagai dampak pemanasan global di bumi adalah naiknya permukaan air laut, yang mengancam untuk mengganggu sampai di darat. Jika permukaan air laut naik maka akan menghasilkan kuburan air ke beberapa daerah dataran rendah, pulau-pulau kecil dan bagian reklamasi lahan. Jadi bagaimana sebenarnya hal itu mempengaruhi permukaan air laut? Dasar-dasar studi geografis menunjukkan bahwa air mengembang ketika dipanaskan. Dalam kasus ini, suhu global meningkat yang menyebabkan badan air panas, memperluas dan dengan demikian melanggar batas di darat. Alasan lain yang menonjol untuk kenaikan permukaan laut yang mencair es dari gletser dan lapisan es kutub – yang sekali lagi dipercepat oleh pemanasan global. Toko-toko es jauh besar daripada yang kita bayangkan. Bahkan, mencairnya Barat Ice Sheet Antartika saja mungkin dapat menyebabkan laut naik kekalahan 10 meter.
              Menurut Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) permukaan air laut telah melihat peningkatan dari 6,7 inci pada abad lalu, dan jika tingkat mengkhawatirkan pemanasan global terus berlanjut, tingkat air laut akan naik hingga 22 inci pada tahun 2100. Ini akan berarti bahwa pulau seperti Maladewa dan Tuvalu dan daerah dataran rendah seperti Bangladesh akan pergi di bawah air, dan kota-kota penting seperti Mumbai, Shanghai dan Florida akan menjadi rentan terhadap kuburan air seperti kota legendaris Atlantis. Bahkan,  Maladewa pulau tenggelam adalah contoh terbaik dari kehancuran karena kenaikan permukaan air laut.
            Kenaikan temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub  utara dan selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut. Hal ini akan menurun produksi  tambak ikan dan udang, serta terjadinya pemutihan terambu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan. Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil di Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat masuknya atau merembesnya air laut, serta infrastruktur  perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat tegenang oleh air laut.

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda , 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Dampak pada Terumbu Karang


Dampak dari pemanasan global terhadap terumbu karang yang menghancurkan ke mana-mana, bahwa ekosistem besar terumbu ini akan pertama yang dihapus dari planet dalam waktu dekat. Ketika air laut menjadi hangat, ganggang di lautan cenderung menghasilkan senyawa oksigen beracun yang disebut superoksida yang merusak bagi karang. Sebagai mekanisme pertahanan, karang mengeluarkan tumpangan alga mereka, yang meninggalkan terumbu kelaparan untuk nutrisi dan warna berubah menjadi putih. Proses ini disebut sebagai pemutihan. Pemanasan global mengancam terumbu karang untuk sebagian besar, dan faktanya adalah bahwa jika terumbu karang yang dihapus dari planet ini, itu akan mempengaruhi planet sepertiga dari keanekaragaman hayati laut, serta ekosistem lainnya yang terkait dengan terumbu karang secara langsung maupun tidak langsung.

  

Dampak pada Manusia


Beberapa pola hidup manusia yang serakah dapat menyebabkan perubahan fisik dan kondisi dunia, samapi saat ini mungkin kita bisa melihat betapa banyaknya gejala-gejala alam yang terjadi seperti bajir, longsor, gunung meletus, gempa bumi, bahkan tsunami. Kejadian-kejadian tersebut seharusnya menjadi kaca buat kita untuk melihat dan membaca kenapa semua itu terjadi.
              Ketika seluruh lingkungan akan mengalami dampak pemanasan global, secara alami manusia tidak akan menjadi pengecualian. Bahkan, kita akan menjadi makhluk yang terkena dampak terburuk di planet karena langsung atau tidak langsung kita tergantung pada semua komponen lingkungan yang dibahas di atas. Hewan dan tanaman terkait satu sama lain, kepunahan baik akan memberikan tekanan besar pada lainnya, akhirnya menyebabkan kepunahan. Manusia, pada gilirannya, tergantung dari keduanya untuk berbagai tujuan, sehingga punahnya hewan atau tanaman juga akan mempengaruhi manusia untuk sebagian besar. Cuaca yang tidak teratur akan memiliki dampak yang parah pada beberapa aktivitas manusia. Musim panas yang hangat akan berarti lebih banyak alergi dan bahkan lebih penyebaran penyakit serangga. Curah hujan tidak alami akan menyebabkan kehancuran tanaman dan menghambat pertanian. Meningkatnya suhu akan menyebabkan pemanasan tubuh laut, yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi badai.
             Selain itu, penghancuran terumbu karang akan menyebabkan hilangnya kehidupan laut termasuk ikan yang merupakan konstituen penting dari makanan manusia. Daerah pesisir di seluruh dunia yang sangat padat, sehingga setiap kenaikan permukaan air laut akan mengakibatkan dampak yang berat pada orang-orang yang tinggal di daerah pesisir. Perkiraan Ahli glasier bahwa jika mencairnya gletser pada tingkat sekarang terus berlanjut, sekitar 20 persen dari Bangladesh akan mendapatkan terendam dalam laut pada tahun 2020. Negara-negara seperti Maladewa, dengan titik tertinggi dari 2,4 meter di atas permukaan laut rata-rata, akan mendapatkan terendam jika tingkat air laut naik 3 meter. Hilangnya gletser akan menghambat pasokan air bagi jutaan orang. Kenaikan permukaan laut akan mengubah garis pantai sehingga mempengaruhi sektor pariwisata. di garam air dari lautan akan mengalir ke dasar sungai sehingga air sungai tidak dapat digunakan.
Dan Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, demam dengue (demam berdarah), demam kuning, dan encephalitis . Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.
Dampak Pada Ekonomi
      Dampak dari dampak pemanasan global di Bumi juga akan terasa pada perekonomian berbagai negara. Yang paling terkena dampak akan menjadi negara dengan pertanian yang dipimpin ekonomi. Fenomena ini akan memicu serangkaian perubahan dalam kondisi cuaca yang akan mengambil tol pada kegiatan pertanian dan bersekutu. Karena pola curah hujan yang tidak wajar, gagal panen akan menjadi fenomena yang sangat umum. Ekonomi tergantung pada pariwisata, seperti Maladewa, juga akan menanggung beban pemanasan global. Ketika tingkat air naik semua daerah pesisir akan mendapatkan terendam meninggalkan dunia tanpa semua pantai yang indah. Menimbang bahwa dunia telah menjadi desa global, dampak domino juga akan terlihat pada negara-negara lain dan yang lebih penting pada perekonomian dunia.
      Tidak segala sesuatu tentang pemanasan global akan buruk sekalipun. Iklim hangat akan berarti musim tumbuh lebih lama dan karenanya peningkatan produksi. Di Amerika Serikat, itu akan mencairkan kutub sepanjang Barat Laut Bagian yang akan menurunkan biaya pengiriman. Masalahnya adalah bahwa dampak negatif yang jauh melebihi dampak positif, dan dengan demikian seluruh dunia prihatin tentang masa depan – dan mencoba untuk menemukan beberapa solusi untuk masalah ini. Penyebab alami pemanasan global yang meliputi uap air dan gunung berapi berada di luar jangkauan kita, tapi kita dapat memastikan bahwa buatan manusia penyebab dikurangi. Jika kita tidak melakukan langkah yang diperlukan segera kita akan menghadapi murka sekitar tahun waktu dekat.
        Beberapa hal harus dipertimbangkan sebelum kita benar-benar menentukan dampak pemanasan global di planet kita. Skeptis berpendapat bahwa sebagian besar masalah ini dibesar-besarkan. Menutup mata terhadap tanda-tanda kehancuran, mereka merasa bahwa dampak perubahan iklim tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Tapi kemudian, jika setetes 5 derajat selama periode yang cukup lama dapat memicu zaman es, tidak akan naik sebesar 5 derajat memiliki dampak yang menghancurkan di muka bumi?
     Tidak segala sesuatu tentang pemanasan global akan buruk sekalipun. Iklim hangat akan berarti musim tumbuh lebih lama dan karenanya peningkatan produksi. Di Amerika Serikat, itu akan mencairkan kutub sepanjang Barat Laut Bagian yang akan menurunkan biaya pengiriman. Masalahnya adalah bahwa dampak negatif yang jauh melebihi dampak positif, dan dengan demikian seluruh dunia prihatin tentang masa depan – dan mencoba untuk menemukan beberapa solusi untuk masalah ini. Penyebab alami pemanasan global yang meliputi uap air dan gunung berapi berada di luar jangkauan kita, tapi kita dapat memastikan bahwa buatan manusia penyebab dikurangi. Jika kita tidak melakukan langkah yang diperlukan segera kita akan menghadapi murka sekitar tahun waktu dekat.
        Beberapa hal harus dipertimbangkan sebelum kita benar-benar menentukan dampak pemanasan global di planet kita. Skeptis berpendapat bahwa sebagian besar masalah ini dibesar-besarkan. Menutup mata terhadap tanda-tanda kehancuran, mereka merasa bahwa dampak perubahan iklim tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Tapi kemudian, jika setetes 5 derajat selama periode yang cukup lama dapat memicu zaman es, tidak akan naik sebesar 5 derajat memiliki dampak yang menghancurkan di muka bumi?
      Para ilmuwan menggunakan model komputer dari suhu, pola presipitas, dan sirkulita atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tertentu, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
Iklim mulai tidak stabil
            Iklim di dunia selalu berubah,  baik menurut ruang maupun waktu. Perubahan iklim dapat dibedakan berdasarkan wilayah (ruang), yaitu  perubahan iklim secara lokal dan global. Berdasarkan waktu, iklim dapat berubah  dalam bentuk siklus, baik harian, musiman, tahunan, maupun puluhan tahun. Perubahan iklim adalah perubahan unsur-unsur iklim yang memiliki kecenderungan naik atau turun secara nyata.
             Perubahan iklim global  disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas di atmosfer. Hal ini terjadi sejak revolusi industri batu bara, membangun sumber energi yang berasal dari batu bara, minyak Bumi, dan gas yang membuang limbah gas di atmosfer seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida. Matahari meghasilkan radiasi panas yang di tangkap oleh atmosfer sehingga udara di Bumi bersuhu nyaman bagi kehidupan manusia. Apabila atmosfer dipenuhi gas, terjadilah efek selimut suhu Bumi naik menjadi panas. Semakin banyak gas dilepas ke udara, semakin panas pula suhu Bumi.
              Para Ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global daerah bagian utara dari belahan bumi utara akan memanas lebih dari daerah – daeerah lain di bumi. Akibatnya, gunung – gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan ebih sedikit es yang terapung di perairan utara tersebut. Daerah – daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Suhu pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuwan begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, dimana hal ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata sekitar 1% untuk setiap °F pemanasan.( curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar seratus tahun terakhir ini).
Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem.
Perubahan iklim juga berdampak bagi tumbuhan dan hewan. Hewan dan tanaman merupakan makhluk hidup yang sulit untuk menghindari dari efek pemanasan global.    
            Perubahan iklim yang sejalan dengan pemanasan global merupakan suatu permasalahan bersama yang harus segera dicarikan solusinya. Masalah ini dapat kita kurangi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai generasi penerus tentunya ini menjadi tugas  kita bersama. Kelangsunga idup dimasa depan ditentukan oleh hari ini.
            Lewat kesadaran lingkungan, kita dapat memberikan kontribusi dengan cara sederhanan merek masing-masing dalam menganggulangi masalah perubahan iklim.
Pengurangan peralatan berlistrik, pengurangan kendaraan bermotor menjadi salah satu solusinya.
            Perubahan ikim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada priode yang singkat serta musim kemarau  yang panjang. Dibeberapa tempat terjadi peningkatan curah hujan sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor, sementara ditempat lain terjadi penurunan curah hujan berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai(DAS) akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam. Hal ini mengakibatkan kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan. Kondisi ini akan semakin parah apabila daya tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara akibat erosi.


Dampak perubahan iklim pada peningkatan temperatur sebenarnya sudah ditengarai sejak tahun 1990-an. DFID (Dapertement for International Development, badan dari pemerintah inggris yang mengurusi bantuan pembagunan untuk negara-negara lain) da World Bank (2007) melaporkan rata-rata ke-naikan suhu pertahun  sebesar 0.3 derajat celsius. Pada tahun 1998 terjadi kenaikan suhu yang luar biasa mencapai 1 derajat celsius. Indonesia memprediksi akan mengalami lebih banyak hujan dengan perubahan 2-3% per tahun.
Intentitas hujan akan meningkat, namun jumlah hari hujan akan semakin pendek. Dampak yang nyata adala meningkatnya resiko banjir. Secara umum, perubahan cuaca akan memicu kemarau panjang dan penuruan kesuburan tanah. Hal ini akan mempengaruhi kelansungan produksi pangan secara nasional. Pemanasan global juga mengandug resiko yang besar akan kegagalan panen dan kematian hewan ternak.
            Sebagaimana disinyalir oleh DFID dan Work Bank (2007), indonesia nampaknya belum menyiapkan secar komprehensif kebijakan dan strategi operasional untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan iklim global. Padahal tindakan ini sangat mendesak untuk berbagi aspek pembangunan, khususnya ketahanan pangan. Beberapa rekomendasi dari World Bank Development Report (2008) antara lain : menanam variasi yang memiliki daya adaptasi tinggi, mengubah masa tanam menyesuaikan cuaca, mempraktekkan pertanian dengan masa tanam yang lebih singkat.
            Dalam konteks Indonesia, pertania memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Selain karena kepemlikan lahan yang sangat kecil serta lemahnya akses tehadap berbagai input pertanian serta keterbatasan akses pada pasar dan pengelolahan hasil pertanian, petani juga memiliki pengetahuan dan “ know how“ yang sangat minim tentang strategi adaptasi produksi pertanian terhadap perubahan iklim global.
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.


Peningkatan Permukaan Laut
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan laut juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemansan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm selama abad keduapuluh, dan para ilmuwan di IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9-88 cm pada abad ke 21.
 Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daeerah pantai. Kenaikan 100 cm akan menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% Bangladesh, dan banyak pulau – pulau.Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat didaratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapt melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50cm akan menennggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan memutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
Kenaikan temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub  utara dan selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut. Hal ini akan menurun produksi  tambak ikan dan udang, serta terjadinya pemutihan terambu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan. Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil di Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat masuknya atau merembesnya air laut, serta infrastruktur  perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat tegenang oleh air laut.
Suhu Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian selatan Canada, sebagai contoh, akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Dilain pihak, lahan pertanian tropis semi kering dibeberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daeerha pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung- gunung yang jauh dapat menderita jika kumpulan salju musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan – bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga.


Gangguan Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam Pemanasan Global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mecari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau Selatan yang terhalangi oleh kota- kota atau lahan-lahan pertanian mung kin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
Perubahan Cuaca dan Lautan
Dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang beerhubungan dengan panas (Heat Stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibatnya mencairnya es di Kutub Utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai, dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat –tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, sseperti: diare, malnutrisi, defesiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit dan lain-lain.
Pergeseran Ekosistem
Dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air maupun penyebaran penyakit melalui air (Waterbrne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). seperti meningkatnya kejadian demam berdarah karena munculnya ruang (Ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembangbiak. Dengan adanya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq aedes aeqypi),  virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adalah organisme tersebut.
 Selain itu bisa diprediksi bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perubaha ekosistem yang ekstrem ini. Hal ini juga akan berdampak  pada perubahan iklim (climate change) yang berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA ( kemarau panjang/ hutan, DBD kaitan dengan musim hujan tidak menentu).
Gradasi lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga disebabkan pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne diseases. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkonribusI terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan.

Peristiwa-peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak pada beberapa sektor sebagai berikut:
Kehutanan. Terjadinya pergantian beberapa spesies flora dan faunan. Kenaikan suhu akan menjadi faktor penyeleksi alam, dimana spesies yang mampu beradaptasi akan bertahan dan, bahkan kemungkinan akan berkembang biak dengan pesat. Sedangkan spesies yang tidak mampu beradaptasi, akan mengalami kepunahan. Adanya kebakaran hutan yang terjadi merupakan akibat dari peningkatan suhu di sekitar hutan, sehingga menyebabkan rumput-rumput dan ranting yang mengering mudah terbakar. Selain itu, kebakaran hutan menyebabnya  punahnya keanekaragaman hayati.
Perikanan. Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terambu karang, dan selanjutnya matinya terambu karang, sebagai habitat bagi berbagai jenis ikan. Suhu air laut yang meningkat juga memicu terjadinya migran ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu secara besar-besaran menuju ke daerah yang lebih dingin. Peristiwa matinya terambu karang dan migrasi ikan, secara ekonomis, merugikan nelayan karena menurunkan hasil tangkapan mereka.
Dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi:
1. Ganguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai.
2. Gangguan terhadap fungsi prasarana dan saran seperti jaringan jalan, pelabuhan dan          bandara.
3. Gangguan terhadap permukiman penduduk,
4.  Pengurangan produktivitas lahn pertanian.
5. Peningkatan resiko kangker dan wabah penyakit dan sebagainya.





  
ü  Ancaman produksi pangan.
            Global warming mempengaruhi pola presipitasi, evaporasi, water run of, kalembaban tanah dan variasi klim yang sangat teluktuatif yang secara keseluruhan mengancam keberhasilan produksi pangan. Kejian terkait dampak perubahan iklim pada bidang pertanian oleh National Academy of Science/NAS (2007) menunjukan bahwa pertanian Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Austral-Asia Monsoon and El Nino-Southern Oscilation (ENSO) .
            Sebagaimana dilaporkan oleh FAO (1996), kekeringan akibat kemarau panjang yang merupakan efek El Nino pada tahun 1997 telah menyebabkan gagalnya produksi padi dalam skala yang sangat besar besar yaitu mencangkup luasan 426.000 ha. Selain tanaman padi, komoditas pertanaian non-pangan yang lain seperti kopi, coklat, karet dan kelapa sawit juga mengalami penurunan produksi yang nyata akibat adannya kemarau panjang. Suatu simuasi model yang dikembangkan oleh UK Meteorgical Office sebagaimana dilaporkan DFID (2007) , memprediksi bahwa perubahan cuaca akan menurunkan produksi pangan di Jawa Barat dan Jawa Timur akibat penurunan kesuburan tanah sebesar 2-8%. Degradasi kesuburan lahan tersebut akan memicu penurunan produksi padi 4% per ahun, kedele sebesar 10% serta produksi jagung akan mengaklaimi penurunan luar basa sampai dengan 50%.
            Menurut laporan Rossane Skirble (2007), penurunan cuaca dan pemanasan global melebih khusus seperti India dan Afrika akan mengalami peenurunan produksi pertanian yang lebih tinggi lagi.



BAB   VI
  Cara Menanggulangi Pemanasan Global
Ada banyak cara yang harus diketahui untuk mengurangi emisi karbon dioksida, yaitu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil; menggunakan energi terbarukan seperti energi surya atau angin; mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang barang-barang keperluan sehari-hari; mengendarai mobil berbahan bakar efisien atau yang menggunakan energi alternatif; menggunakan alat-alat elektronik yang hemat energi, dan lain-lain. Namun cara yang paling cepat untuk menghentikan pemanasan global adalah menjalani diet vegetarian!
Dalam konferensi pers pada tanggal 15 Januari yang diselenggarakan oleh Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), ketua IPCC - Dr. Pachuari mengingatkan bahwa jika umat manusia tidak bertindak sekarang, maka perubahan iklim akan berdampak serius. Ia juga dengan jelas mengatakan cara untuk menghentikan perubahan iklim, yaitu dengan berhenti makan daging dan beralih ke gaya hidup yang lebih hijau.
Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, "Sektor peternakan adalah satu dari dua atau tiga penyumbang terbesar bagi krisis lingkungan yang paling serius dalam setiap skala, mulai dari lokal hingga global." Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan reboisasi yang dapat mengantisipasi global warming. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan trend penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara.
Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya. Untuk kendaraan bermotor, perlu digunakan alat penyaring khusus gas buangan pada bagian knalpot (tempat keluar gas buangan) yang dapatmenetralisirdan mengurangi dampak negatif gas buangan tersebut. Bisa juga dengan mengganti bahan bakar dengan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, seperti tenaga surya (matahari) atau biodisel. Perlu dikeluarkan regulasi tentang usia kendraan bermotor yang boleh beroperasi agar tidak menimbulkan pencemaran.
Untuk skala industri, perlu dibuat sistem pembuangan dan daur ulang gas buangan yang baik. Saluran buangan perlu diperhatikan, kearah mana akan dibuang dan haruslah memperhatikan lingkungan sekitar. Reboisasi lahan yang gundul merupakan salah satu langkah untuk menahan laju karbondioksida yang berlebih diudara. Termasuk penanaman pohon-pohon disepanjang jalan raya yang d   apat menetralisir pencemaran udara disepanjang jalan raya.Tetapi tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
Selain itu diperlukan juga adanya pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.
Selain itu perlu diadakan kerja sama internasional untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Apabila pada suatu negara diterapkan peraturan kebijakan lingkungan yang ketat, maka ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon dioksida. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang serius, konsisten, dan kontinyu agar masalah kerusakan lingkungan ini dapat diatasi atau diminimalisir.



BAB VII
Manfaat Efek Rumah Kaca Bagi Kehidupan di Bumi

Bumi Tanpa Efek Rumah Kaca
            Apa yang akan terjadi bila bumi kita tanpa efek rumah kaca, maka bumi akan seperti planet Mars. Mars tidak memiliki atmosfer yang cukup tebal untuk mempertahankan panas matahari, di sana sangat dingin. Sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan.
Efek Rumah Kaca untuk Kehidupan di Bumi
Green house effect atau lebih kita kenal dengan sebutan efek rumah kaca adalah sebuah kondisi di mana suhu dari sebuah benda permukaan langit, seperti planet dan bintang, meningkat secara drastis. Meningkatnya suhu ini disebabkan karena adanya perubahan kondisi dari komposisi serta keadaan atmosfir yang mengelilingi benda langit tersebut.
Sebenarnya, penggunaan istilah efek rumah kaca diadopsi dari petani di negara Eropa dan Amerika, karena mekanisme pemanasan bumi ini sama seperti yang terjadi di rumah kaca yang digunakan untuk perkebunan di negara tersebut. Biasanya para petani menggunakan rumah kaca di musim dingin. Tanaman yang ditanam di dalam rumah kaca akan tetap hidup dan tidak mati membeku, oleh pengaruh musim dingin. Karena kaca akan menghalangi suhu yang masuk dan memantulkan kembali keluar. Ini menyebabkan seringnya terjadi kesalah pahaman. bahwa efek rumah kaca disebabkan oleh banyaknya rumah berdinding kaca.
Yang terjadi pada bumi adalah, ketika cahaya matahari mengenai atmosfer serta permukaan bumi, sekitar 70 persen dari energi tersebut tetap tinggal di bumi, diserap oleh tanah, tumbuhan, lautan dan benda lainnya. Tiga puluh persen sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif lainnya. Tetapi panas 70 persen itu, tidak selamanya berada di bumi. Benda-benda di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali panas yang diserapnya.
Sebagian panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan bumi, ketika mengenai zat yang berada di atmosfer. Seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat daripada di luar angkasa, karena energi lebih banyak yang terserap dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali.


Jadi, jika bumi tidak memiliki gas rumah kaca, maka suhu di bumi akan terlalu dingin untuk kehidupan makhluk di dalamnya. Sebagai contoh, planet Mars tidak memiliki gas rumah kaca, sehingga suhu di sana berada di sekitar -30°C. Jika suhu yang sama terjadi di bumi, tentu saja tidak ada makhluk hidup dapat hidup di bumi. Tidak menjadi masalah seadainya konsentrasi gas-gas rumah kaca berada dalam keadaan konstan, tidak terjadi lonjakan drastis seperti sekarang ini. Meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca diakibatkan berbagai aktivitas manusia yang memicu pancaran gas tersebut ke atmosfir. Dengan adanya pancaran gas ini, maka konsentrasinya di lapisan atmosfir bumi akan semakin tinggi. Kondisi ini akan mengakibatkan sinar matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi akan sulit lewat dan menjadi terperangkap di permukaan bumi. Pengaruh masing-masing gas rumah kaca terhadap terjadinya efek rumah kaca bergantung pada besarnya kadar gas rumah kaca di atmosfer, waktu tinggal di atmosfer dan kemampuan penyerapan energi. Peningkatan kadar gas rumah kaca akan meningkatkan efek rumah kaca yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Adapun gas-gas yang terdapat dalam rumah kaca, adalah sebagai berikut:
CO2 (Karbon Dioksida)
CO2 adalah gas rumah kaca terpenting penyebab pemanasan global yang sedang ditimbun di atmosfer karena kegiatan manusia. Sumbangan utama manusia terhadap jumlah karbon dioksida dalam atmosfer berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas bumi.
Pembukaan lahan baru pertanian dan penggundulan hutan juga meningkatkan jumlah karbon dioksida dalam atmosfer. Namun selain efek rumah kaca, CO2 juga memainkan peranan sangat penting untuk kehidupan tanaman. Karbon dioksida diserap oleh tanaman dengan bantuan sinar matahari dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman dalam proses yang dikenal sebagai fotosintesis. Proses yang sama terjadi di lautan di mana karbon dioksida diserap oleh ganggang.
Dampak dari meningkatnya CO2 di atmosfer antara lain: meningkatnya suhu permukaan bumi, naiknya permukaan air laut, anomali iklim, timbulnya berbagai penyakit pada manusia dan hewan (Astin,2008). Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju peningkatan emisi CO2 di atmosfer.
H2O (Uap Air)
Uap air merupakan penyumbang terbesar bagi efek rumah kaca. Uap air tidak terlihat dan harus dibedakan dari awan dan kabut yang terjadi ketika uap membentuk butir-butir air. Jumlah uap air dalam atmosfer berada di luar kendali manusia dan dipengaruhi terutama oleh suhu global. Jika bumi menjadi lebih hangat, jumlah uap air di atmosfer akan meningkat karena naiknya laju penguapan. Ini akan meningkatkan efek rumah kaca dan pemicu naiknya pemanasan global.
CH4 (Metana)
Metana dihasilkan ketika jenis-jenis mikroorganisme tertentu menguraikan bahan organik pada kondisi tanpa udara (anaerob). Gas ini juga dihasilkan secara alami pada saat pembusukan biomassa di rawa-rawa sehingga disebut juga gas rawa. Metana mudah terbakar, dan menghasilkan karbon dioksida sebagai hasil sampingan. Kegiatan manusia telah meningkatkan jumlah metana yang dilepaskan ke atmosfer. Sawah merupakan kondisi ideal bagi pembentukannya, di mana tangkai padi nampaknya bertindak sebagai saluran metana ke atmosfer. Meningkatnya jumlah ternak sapi, kerbau dan sejenisnya merupakan sumber lain yang berarti, karena metana dihasilkan dalam perut mereka dan dikeluarkan ketika mereka bersendawa dan kentut. Metana juga dihasilkan dalam jumlah cukup banyak di tempat pembuangan sampah, sehingga menguntungkan bila mengumpulkan metana sebagai bahan bakar bagi ketel uap untuk menghasilkan energi listrik. Metana merupakan unsur utama dari gas bumi. Gas ini terdapat dalam jumlah besar pada sumur minyak bumi atau gas bumi.
CFC (Chloro Flouro Carbon)
Chloro fluoro carbon adalah sekelompok gas buatan. CFC mempunyai sifat tidak mudah terbakar dan tidak beracun. CFC amat stabil sehingga dapat digunakan dalam berbagai peralatan. Mulai digunakan secara luas setelah Perang Dunia II. Chloro fluoro carbon yang paling banyak digunakan mempunyai nama dagang Freon. Dua jenis chlorofluorocarbon yang umum digunakan adalah CFC R-11 dan CFC R-12. Zat-zat tersebut digunakan dalam proses mengembangkan busa, di dalam peralatan pendingin ruangan dan lemari es selain juga sebagai pelarut untuk membersihkan mikrochip.CFC menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.
O3 (Ozon)
Ozon terdapat secara alami di atmosfer (troposfer, stratosfer). Di troposfer, ozon merupakan zat pencemar hasil sampingan yang terbentuk ketika sinar matahari bereaksi dengan gas buang kendaraan bermotor. Ozon pada troposfer dapat mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ternyata, tanpa kita sadari, begitu banyak pemicu terjadinya efek rumah kaca. Maka mari kita jaga bumi ini, demi anak cucu kelak.

Pengaruh Efek Rumah Kaca Terhadap Pertumbuhan dan Produktifitas Tanaman.
Iklim dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas tanaman pangan. Sistem produksi pertanian dunia saat ini mendasarkan pada kebutuhan akan tanaman setahun, kecuali beberapa tanaman seperti pisang, kelapa, buah-buahan, anggur, kacang-kacangan, beberapa sayuran seperti asparagus, rhubarb, dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dikembangbiakan dalam kondisi pertanaman tertentu.
Produktifitas pertanian berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun. Perubahan drastis cuaca, lebih berpengaruh terhadap pertanian dibanding perubahan rata-rata. Tanaman dan ternak sangat peka terhadap perubahan cuaca yang sifatnya sementara dan drastis. Perbedaan cuaca antar tahun lebih berpengaruh dibanding dengan perubahan iklim yang diproyeksikan. Dan tak terdapat bukti bahwa perubahan iklim akan mempengaruhi perubahan cuaca tahunan.
Petani selalu berhadapan dengan perubahan iklim. Besaran perbedaan antar tahun telah melampaui prakiraan perubahan iklim. Fluktuasi iklim tahunan, dalam beberapa urutan besaran lebih tinggi dibanding dengan besar prediksi perubahan pelan-pelan iklim yang diajukan para ahli ekologi. Hal ini digambarkan pada Musim panas daerah pertanian Jagung Amerika serikat, antara tahun 1988 (kering dan panas) dan 1992 (basah dan dingin). Suhu selama Juli dan Agustus berbeda 80F dalam dua tahun dibeberapa negara bagian. Hal paling kritis yang belum diketahui adalah pola frekuensi kemarau. Kemarau terjadi dibeberapa tempat didunia setiap tahun. Kemarau tahunan juga lumrah terjadi di area pertanian India, China, Rusia dan beberapa negara Afrika.
 Pengaruh Iklim terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman
Variabel menonjol yang diperkirakan akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman pangan akibat terjadinya peningkatan kadar CO2 adalah bumi yang memanas. Berdasarkan pengamatan obyektif di lapangan, diperkirakan akan lebih rendah dibanding permodelan iklim yang lemah dan kasar menggunakan komputer. Berdasarkan permodelan komputer, muka bumi rata-rata akan memanas sebesar 1,5-4,5OC jika kadar CO2 meningkat duakali. Secara keseluruhan iklim akan memanas 3 kali 1,5OC pada akhir abad nanti, dan pemanasaan terbesar terjadi dikutub, dan lebih rendah dikhatulistiwa.
Kedua, kenaikan suhu dapat diperkirakan dan akan berpengaruh terhadap pola hujan. Untuk kebanyakan tanaman pangan dan serat dan beberapa spesies lain perubahan dalam ketersediaan air memiliki akibat yang lebih besar dibanding kenaikan suhu. Permodelan iklim secara regional telah dimodelkan dalam tingkat yang lebih kurang meyakinkan dibanding model untuk iklim global.
Perubahan yang diperkirakan, jika terjadi dalam pola hujan dan suhu dengan kadar CO2 yang tinggi akan menguntungkan produksi tanaman pangan beririgasi. Pertambahan areal pertanian beririgasi di Amerika terjadi di delta misisipi dan dataran utara. Hal serupa terjadi di India, China dan Rusia bagian selatan. Di USA, area tanam jagung dan gandum musim dingin akan bergeser ke utara dan akan digantikan sorgum dan padi-padian.
Ketiga, pemanasan global mempengaruhi variabel yang berpengaruh terhadap produktifitas pertanian. Hal ini akan sangat penting bagi pertanian yang terkait zona suhu, baik bagi pertambahan maupun intensitas masa tanam atau satuan tingkat pertumbuhan. Perhatian petani akan tertuju pada perbedaan musiman dan antar tahun pada curah hujan, salju,  lama musim tanam, dan beda suhu dalam hari-hari yang berpengaruh pada tahap pertumbuhan. Stabilitas dan keandalan produksi adalah sama pentingnya dengan besaran jumlah produksi itu sendiri.
Keprihatinan akan perubahan iklim dimasa depan dan perubahan yang lebih besar lagi akan diimbangi dengan penelitian mengenai manfaat peningkatan CO2 bagi fotosintesis dan berkurangnya kebutuhan tanaman akan air, dan tetap meningkatnya hasil. Selama 70 tahuan, perubahan cuaca, mencerminkan bahwa hasil tanam di USA, Rusia, India, China, Argentina, Canada dan Australia, memungkinkan negara dengan cuaca baik dapat menjaga keamanan pangan negara dari cuaca yang buruk. Kekeringan secara menyeluruh di dunia hampir tak pernah terjadi saat ini.
Walau ada kepastian bahwa pertanian dunia dapat mengantisipasi perubahan iklim, perubahan itu akan menambah masalah yang harus ditangani dalam dasa warsa kedepan. Masalah lain adalah Kelangkaan air dan kualitas air, tanah yang menjadi gersang, pengadaan energi dari bahan bakar fosil serta kelangsungan praktek pertanian yang sekarang ada. Beberapa praktek yang membahayakan kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan harus diubah bersamaan dengan tingkat produksi yang aman dan dapat diandalkan juga harus terus ditingkatkan. Prakiraan terjadinya perubahan iklim membuat penelitian pertanian yang komprehensif menjadi sangat penting dalam menghadapi perubahan itu secara efektif.
Penelitian mengenai perubahan iklim, akan melengkapi usaha peningkatan produktivitas tanaman, yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, yang kini tengah dilakukan melalui rekayasa genetik, perlakuan kimiawi dan pola pengolahan. Ini akan memberi dua manfaat sekaligus, baik sebagai pelindung mengahadapi perubahan jangka pendek lingkungan, seperti kemarau dan juga membantu menghadapi perubahan iklim dalam jangka panjang, dan untuk mengkapitalisasi sumberdaya hayati  bagi peningkatan produksi.
Pandangan yang berbeda mengenai pemanasan global yang memiliki bobot ilmiah yang baik muncul, mendukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sekarang telah disimpulkan oleh beberapa ilmuwan bahwa model prakiraan iklim yang dibuat merupakan penyederhanaan yang sangat simplistis dari proses atmosfir dan lautan yang sangat kompleks. Dan tak dapat dibuktikan bahwa pengeluaran gas rumah kaca akan berpengaruh signifikan terhadap iklim dunia, sebab-sebab pemanasan global juga lebih tidak dapat lagi dipastikan.
Pengaruh Biologis Langsung:
Pertumbuhan Tanaman dalam rumah Kaca
Penelitian mengenai manfaat pengayaan CO2 dimulai abad lalu. Awal 1888, manfaat pemupukan dengan CO2 telah dilakukan pada tanaman di dalam rumah kaca di Jerman, dan beberapa tahun kemudian di Inggris, serta 80 tahun yang lalu di USA. Hasil yang menguntungkan pertama kali dilaporkan terjadi pada tanaman pangan seperti letuce, tomat, mentimun, dan kemudian bunga dan tanaman hias.
Banyak catatan dan pernyataan yang disusun mengenai pertumbuhan tanaman yang berada dalam lingkungan yang dikontrol dan diberi pengayaan CO2. Wittwer dan Robb membuat catatan menyeluruh mengenai data-data sebelumnya dan ditambah hasil penelitiannya sendiri bahwa tanaman tomat mencapai usia dewasa dan hasil produksi yang menguntungkan dalam rumah kaca yang diperkaya CO2. Sementara Strain dan Cure menyusun Bibliographi literature mengenai pengayaan CO2 dan efeknya terhadap lingkungan dan tanaman yang lengkap. Kimball dkk. pada tahun 1983, 1985 dan 1996 mengumpulkan 770 penelitian mengenai hasil tanaman dalam rumah kaca dengan pengayaan CO2, dan terbukti hasil tanaman tersebut meningkat 32%.
Pada tahun 1982 diselenggarakan Konferensi Internasional yang bertujuan mengidentifikasi makalah yang terkait dengan pengaruh biologis langsung dari pengaruh peningkatan CO2 pada produktifitas tanaman, sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dengan efisiensi photositensis, efisiensi penggunaan air, Penyerapan Nitrogen biologis terkait dengan sumberdaya iklim seperti cahaya, suhu dan kelembaban. Fokus makalah ini dibuat dengan mengacu kepada tindak konferensi tersebut. Dokumentasi yang lebih lengkap mengenai efek langsung CO2 terhadap produkstifitas tanaman diterbitkan Departemen Energi USA pada Tahun 1985-1987 secara berseri, makalah Wittwer tahun 1985 dan 1992. Itu semua dilengkapi oleh materi yang diedit oleh Enoch dan Kimball pada 1968 mengenai Pengayaan Karbondioksida Pada Tanaman Rumah Kaca meliputi status dan sumber CO2, physiologi, hasil daan ekonomi. Juga telah dilakukan riset selama 35 tahun oleh sebuah grup dalam Komisi Tanaman Terlindung pada International Society for Holticultural Science, yang membuktikan bahwa pengayaan CO2 menambah hasil sebesar 12-13 %, dibanding pada kadar atmosfir biasa sebesar 335 ppm. Pengaruh paling mencolok dari pengayaan tersebut dalah efisiensi fotosintesis dan Penggunaan Air yang lebih efisien.

  
Efisiensi Fotosintesis
Hanya sedikit keraguan bahwa kadar CO2 dalam atmosfir adalah kurang optimal bagi fototosintesis ketika faktor lain yang berpengaruh terhadap tanaman (cahaya, air, suhu dan unsur hara) mencukupi. Fotosintesa Netto adalah jumlah fotosintesa brutto minus fotorespirasi, dan fotorespirasi setidaknya memiliki besaran mengubah 50% karbohidrat hasil fotosintesa kembali menjadi CO2, dengan peningkatan CO2 fotorespirasi diperkirakan akan menurun. Peningkatan Biomassa terbukti terjadi ketika dilakukan pengayaan CO2. Ini tak selalu muncul dari fotosintesa netto. Kadar CO2 yang tinggi memicu penggunaan air yang efisian dalam tanaman C4 seperti jagung. Peningkatan efisiensi air ini merangsang pertumbuhan tanaman.
Dampak langsung yang dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah peningkatan tingkat fotosintesa daun dan kanopi. Peningkatan fotosintesis akan meningkat sampai kadar CO2 mendekati 1000 ppm. Hasil paling pasti adalah tanaman tumbuh cepat dan lebih besar. Ada perbedaan antara spesies. Spesies C3 lebih peka terhadap peningkatan kadar CO2 dibanding C4. Terjadi juga pertambahan luas dan tebal daun, berat per luas, tinggi tunas, percabangan, bibit dan jumlah dan berat buah. Ukuran Tubuh meningkat seiring rasio akar-batang. Rasio C:N bertambah. Lebih dari itu semua hasil panen meningkat. Terutama pada Kentang, Ubi Jalar, Kedelai. Dengan meningkatnya kadar CO2 menjadi dua kali sekarang secara global, hasil pertanian diperkirakan akan meningkat sampai 32% dari sekarang.  Perkiraan sementara saat ini sekitar 5%-10% dari kenaikan produksi pertanian adalah akibat kenaikan kadar CO2. Manfaat pengayaan CO2 terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman saat ini telah dikenal telah dikenal luas. Banyak pengujian yang dilakukan dalam lingkungan terkontrol secara penuh atau sebagian, terhadap beberapa tanaman komersial (padi, Jagung, gandum, kedelai, kapas, kentang, tomat, ubi jalar, dan beberapa tanaman hutan), yang membuktikannya.
Efisiensi Penggunaan Air
Kebutuhan utama tanaman yang lainnya adalah air, baik secara kualitas maupun kuantitas. Air kini telah menjadi permasalahan penting bagi lima negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia (China, India, USA, Sovyet, Indonesia). Juga tentu dinegara-negara temur tengah, afrika utara dan sub sahara. Satu faktor penting yang berpengaruh terhadap produksi tanaman namun masih merupakan misteri adalah pola musim kering yang terjadi. Kekeringan adalah hal yang paling ditakuti oleh para petani diberbagai negara produsen pangan. Kebutuhan akan air menjadi semakin penting dan kritis, di USA, 80–85 % konsumsi air bersih adalah untuk pertanian. Sepertiga persediaan tanaman pangan sekarang tumbuh padi 18% lahan beririgasi.

Aspek penting dari peningkatan kadar CO2 dalam atmosfir adalah kecenderungan tanaman untuk menutup sebagian dari stomata pada daunnya. Dengan tertutupnya stomata ini penguapan air akan menjadi perkurang, dan dengan itu berarti efisiensi penggunaan air meningkat. Kekurangan air adalah faktor pembatas utama dari produktifitas tanaman. Bukti yang selama ini dikumpulkan menunjukan bahwa peningkatan CO2 di atmosfir meningkatkan efisiensi penggunaan air. Hal ini adalah penemuan yang penting bagi bidang pertanian dan juga bagi ekologi. Implikasi dari hal itu bermacam-macam, salah satunya adalah peningkatan daya tahan terhadap kekeringan dan berkurangnya kebutuhan air untuk pertanian.
   Efek langsung dari kadar CO2 dalam atmosfir terhadap fotosintesis tanaman C4 adalah meningkatkan efisiensi air dalam fotosintesa. Dan pada tanaman C4 dan C3 mengurangi membukanya stomata, hal ini ditunjukan oleh Roger et al. pada tanaman kedelai. Tanaman dengan cara fotosintesa C3 mendapat keuntungan dengan 3 cara. Pertama meluasnya ukuran daun, kedua peningkatan tingkat fotosintesis perunit luas daun, dan terakhir efisiensi penggunaan air.
Produksi Tanaman Pangan Beririgasi
Perubahan yang telah diperkirakan mengenai penguapan dan suhu akibat efek rumah kaca dan pemanasan global sepertinya akan menguntungkan lahan pertanian beririgasi. Di USA, luas areal pertanian beririgasi akan meluas sampai dataran utara dan delta Missisipi, hal ini juga berlaku untuk Cina, India dan negara lain. Dimana lingkungan lebih lembab dan diperuntukkan untuk tanaman biji-bijian dan kacang-kacangan. Kecenderungan ini telah terjadi di USA, China, dan India. Jagung dan Gandum kini bergeser mendekati daerah yang dingin dan lebih lembab. Produksi Sorgum dan padi-padian akan menggeser posisi areal gandum dan jagung tersebut. Diharapkan juga, dimasa mendatang model dari atmosfir dan iklim akan lebih berkembang dan melengakapi dari apa yang sekarang telah dikembangkan, sehingga sensitivitas tanaman terhadap perubahan iklim lebih dapat diketahui.
Pertumbuhan dan Produkstifitas Tanaman:
Kemampuan Adaptasi terhadap Suberdaya Iklim di Bumi
Banyak tanaman pangan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di bumi padi, ubi kayu, ubi jalar dan jagung dapat tumbuh dimana saja kelembaban dan suhu sesuai. Jagung mampu tumbuh di areal yang beraneka ragam kelembaban, suhu, dan ketinggian dibumi ini. Areal produksinya di USA telah meluas ke utara sampai 800 km selam lima puluh tahun ini. Kedelai dan Kacang tanah dapat tumbuh di daerah tropik sampai lintang 450 LU dan 400 LS. Gandum musim dingin yang lebih produktif dari gandum musim semi areal tanamnya telah meluas keutara sejauh 360 km. Ditambah dengan kemampuan rekayasa genetik yang kita miliki perluasan areal tanam akan semakin mungkin dan cepat terealisasi.
Diperkirakan penggandaan kadar CO2 akan meningkatkan produktivitas tanaman di Amerika Utara, hal serupa juga terjadi di Sovyet, Eropa dan propinsi bagian utara China. Tanaman hortikultura dapat berkembang bebearapa musim diseluruh negara bagian USA. Tanaman seperti Tebu dan Kapas semakin meluas areal tanamnya dengan dimanfaatkannya mulsa dan pelindung plastik. Pemanasan global akan lebih menguntungkan dibanding dengan kembalinya era es sebagaimana diprediksi beberapa dekade yang lalu. Terlebih dimana produksi tanaman pangan terpusat di Lintang 300 LU sampai 500 LS.
Perubahan iklim secara drastis dan ekstrem sebagaimana yang selama ini dipublikasikan adalah hal yang sangat berlebihan. Pemanasan secara perlahan mungkin menguntungkan, karena memungkinkan penanaman tumbuhan tropis seperti mangga, pepaya, nanas dan pisang , dinegara bagian selatan USA.
Prakiraan Regional:
Pola Iklim dan Respons Tanaman
Sejak 1850, kadar CO2 dalam atmosfir telah meningkat sebesar 25% akibat pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan tak ada yang menentangnya. Kadar gas rumah kaca selain CO2 juga telah meningkat melebih prosentase CO2 dan dengan efek pemanas yang setara CO2. Namun terdapat kontrovesi mengenai kapan pemanasan global pertama kali muncul, juga terdapat kontroversi mengenai besaran perubahan suhu yang terjadi, jika terjadi pada masa yang akan datang. Perkiraan yang ada berkisar antara minus 1,50C sampai 60C. Prakiraan iklim dan cuaca regional dengan sebaran variabel seperti awan, kelembaban, dan angin lebih tidak pasti lagi.
Efek langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan, sebagaimana dibahas diatas, namun bila terjadi kekeringan sebagaimana ramalan hasil permodelan iklim yang sekarang, hasil pertanian tak dapat dipastikan. Namun secara garis besar dampak yang terjadi masih dapat kita kendalikan. Tindakan dari petani, ilmuwan dan kebijkan pemerintah lebih diperlukan dibandingkan dengan perubahan pola hidup kita.
Perkiraan pengaruh CO2 terhadap iklim menimbulkan banyak spekulasi, dan beberapa riset telah dimulai untuk meneliti dampaknya terhadap hubungan hama dan tanaman dan strategi perlindungan tanaman. Gulma, Serangga, nematoda dan wabah  berdampak sangat merugikan bagi pertanian. Perubahan Iklim yang mungkin akan berdampak pada hubungan tumbuhan – hasil panen – hama, dan ekosistem lain. Peningkatan kandungan karbohidrat dan akumulasi nitrogen akan berpengaruh terhadap pola makan serangga, ini telah ditunjukan dalam beberapa eksperimen. Pengendalian hama memasuki era baru, dengan pengintegrasian penanganan hama.


 BAB VIII
 Hubungan Pemanasan Global dengan Efek Rumah Kaca
          Bumi ini sebetulnya secara alami menjadi panas karena radiasi panas matahari yang masuk ke atmosfer. Panas ini sebagian diserap oleh permukaan Bumi lalu dipantulkan kembali ke angkasa. Karena ada gas rumah kaca di atmosfer, di antaranya karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitro oksida (N2O), sebagian panas tetap ada di atmosfer sehingga Bumi menjadi hangat pada suhu yang tepat (60ºF/16ºC) bagi hewan, tanaman, dan manusia untuk bisa bertahan hidup. Mekanisme inilah yang disebut efek gas rumah kaca. Tanpa efek gas rumah kaca, suhu rata-rata di dunia bisa menjadi -18ºC. Sayangnya, karena sekarang ini terlalu banyak gas rumah kaca di atmosfer, terlalu banyak panas yang ditangkapnya. Akibatnya, Bumi menjadi semakin panas.
            Pemanasan global akibat adanya meningkatnya gas-gas rumah kaca yang menyebabkan efek rumah kaca yang berlebihan pada atmosfer bumi diyakini merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim global secara ekstrem ini.
           Istilah Efek rumah kaca itu sendiri diusulkan pengunaan namanya pertama kali oleh Joseph Fourier pada 1824, yang memiliki arti proses pemanasan permukaan suatu benda langit terutama planet atau satelit yang memiliki atmosfer yang disebabkan oleh tergangunya komposisi gas-gas rumah kaca pada atmosfernya. Komposisi gas-gas rumah kaca pada atmosfer Bumi terdiri atas CO2 (Karbon dioksida), N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbos), SF6 (Sulphur hexafluoride), PFCs (Perfluorocarbons), SO2 (sulfur dioksida), NO (nitrogen monoksida),  (NO2) nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas CH4 (Metan) dan (CFC) khloro fluoro karbon.
            Gas-gas tersebut dihasilkan lewat proses alami di Bumi ataupun merupakan hasil sampingan dari aktivitas manusia saat memenuhi kebutuhan hidup. Gas yang dihasilkan oleh letusan gunung berapi, kebakaran hutan, rawa-rawa, proses photosintesa, proses pembusukan  hingga proses bernafaspun merupakan sumber Gas Rumah Kaca alami. Sedangkan sisa pembakaran hasil industri, pembakaran bahan bakar fosil, emisi gas buang kendaraan bermotor adalah sumber Gas Rumah Kaca akibat dari aktivitas manusia. Meningkatnya Gas Rumah Kaca dimulai sejak abad 18 saat manusia menemukan teknologi industri yang banyak menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas maupun batubara untuk menghasilkan energi dan menyisakan gas-gas rumah kaca yang kemudian kian banyak terkumpul pada lapisan atmosfer melampaui batas kemampuan tumbuhan dan laut untuk mengabsorsinya. Lantas apa hubungan meningkatnya efek rumah kaca dengan perubahan iklim ?
          Meningkatnya kadar gas rumah kaca pada atmosfer yang merupakan mesin pengendali alami iklim di Bumi dapat mengganggu mekanismenya. Karena sifat dasar dari gas-gas rumah kaca yang melewatkan cahaya sinar tampak (gelombang pendek) Matahari namun menyerap gelombang panjang (sinar infra merah).  Saat pancaran / radiasi dari Matahari masuk ke Bumi, 25% dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan atau partikel-partikel gas di atmosfer,  25% diserap oleh atmosfer,  45% diteruskan ke permukaan bumi dan oleh permukaan bumi seperti permukaan air, es dan permukaan refletif lainnya 5% dipantulkan kembali dalam bentuk gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah). Proses inilah yang disebut sebagai efek rumah kaca. Sesungguhnya, tanpa adanya efek rumah kaca pada sistem perikliman di bumi, maka suhu menjadi sangat rendah dan Bumi menjadi tidak layak huni. Dalam keadaan normal, Energi yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi dalam bentuk radiasi infra merah diteruskan ke angkasa oleh atmosfer, namun saat kadar gas rumah kaca di atmosfer meningkat, Sinar infra merah tersebut terhambat dan memantul kembali ke permukaan bumi, yang jika hal ini berlangsung terus-menerus dalam kurun waktu yang lama akan menyebabkan pemanasan global di permukaan Bumi.
          Meningkatnya suhu pada pemukaan bumi dapat mengakibatkan terganggunya ekosistem dan mekasnisme biota di bumi, terutama hutan sebagai sarana pendaur ulang karbon dioksida di udara. Selain itu mengakibatkan mencairnya es di wilayah kutub hingga meningkatkan volume air laut dan mengancam kebedaraan daratan. Karena suhu merupakan salah satu parameter dari iklim maka saat terjadi perubahan suhu secara global akan mengakibatkan terjadinya perubahan iklim global yang ekstrim pula.
                      Kini tidak ada salahnya jika kita yang di Bumi hidup lebih “santun” terhadap alam dan mulai   merawat kelestarian lingkungan. Slogan-slogan seperti “back to nature” atau pun “Go Green” jangan hanya diucapakan semata, tapi harus direalisasikan dalam bentuk nyata demi kelangsungan hidup seluruh mahluk di Bumi ini.


BAB IX

Gejala Alam yang Terjadi Akibat Pemanasan Global

Pemanasan Global adalah suatu peningkatan suhu atmosfer bumi, laut dan daratan. Terjadinya pemanasan global karena adanya suatu pantulan cahaya matahari yang harusnya ke bumi tapi terhalang oleh Gas CO2 di atmosfer sehingga bumi menjadi semakin panas, air laut semakin banyak, ombak semakin besar, lempeng endogen bergeser dan gunung mengeluarkan api. Selain itu peristiwa yang paling dominan muncul dari efek pemanasan global adalah semakin banyaknya air laut, semakin besarnya ombak sehingga menimbulkan tsunami. Berikut ini adalah pemaparan kenapa itu bisa terjadi.
 
1. Tsunami => Pantulan cahaya matahari dari atmosfer ke kutub utara menyebabkan mencairnya salju menjadi air laut, oleh karena itu jika pemanasan terus-terusan maka besar kemungkinan tsunami terjadi karena ombak semakin besar dari cairan es tersebut.
2. Suhu Meningkat => Meningkatnya suhu atmosfer menjadikan bumi semakin panas dan tidak nyaman untuk ditempati. Suhu bumi meningkat dapat menyebabkan beberapa gejala alam seperti gunung meletus, bergeraknya lempeng endogen sehingga menyebabkan terjadinya pergeseran permukaan bumi (gempa).
3. Hujan Asam => Hujan yang dapat menghancurkan bangunan-bangunan. Disebabkan karena menumpuknya gas belerang di lapisan ozon.
            Hujan asam diartikan sebagai salah segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2)  udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Hujan asam disebabkan oleh belerang yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan membentuk asam sulfat dan asam nirogen yang mudah larut sehingga jatuh bersamaan air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
Sumber
            Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian. Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah. Hujan Tiongkok, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asam dan  tenaga pembangkit listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan di New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya. (catatan: bahwa Asam SO2 dan NOX memang berperan penting dalam hujan asam).
Pembentukan hujan asam:
Secara sederhana, reaksi pembentukan hujan asam sebagai berikut:
S(s) + O2(g)  => SO2(g)
2SO2(g) + O2(g)  => 2SO3(g)                  
 SO3(g)  + H2O(i)  => H2S

Bukti terjadinya pembentukan  hujan asam diproleh dari  analisis es kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya Revolusi Industri dari 6 menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diproleh dari organisme yang dikenal sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuan diatom akan meningkat pada pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan didasar kolam akan memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-masing lapisan tersebut. Sejak dimulai Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida ke stmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan bahan bakar fosil, terutaman batu bara, merupakan sumber utama meningkatnya oksida balerang ini. Pembacaan pH di area industri kadang-kadang tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Sumber-sumber ini, ditambah leh transportasi, merupakan penyumbangan-penyumbangan utama hujan asam. Masalah  hujan asam tidak hanya meningkat  sejalan dengan pertubuhan populasi dan industri tetapi telah berkembang menjadi lebih luas. Penggunaan cerebong asap yang tinggi untuk mengurangi polusi lokal berkontribusi dalam penyebaran hujan asam, karena  emisi gas yang dikeluarkan akan masuk ke sirkulasi udara regional yang dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara regional yang memiliki jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam terjadi di daerah yang jauh dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan cendrung memproleh banyak karena tingginya curah hujan disini.
 Terdapat hubungan yang erat antara rendahnya pH dengan berkurangnya populusi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak mungkin untuk bagi  ikan untuk hidup, sementara pH 6  atau lebih tinggi akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam didala air akan menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari telurya. Asam juga mengikat logam beracun seperti alumunium di danau.
Alumunium  akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar insangnya sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadikan sumber makanan ikan juga dihambat oleh  tingginya kadar pH. Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam di  alam berbagai macam cara. Lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi menghilang sehingga tanaman tidak tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan serangga. Pertubuhan akar menjadi lambat sehingga lebih sedikit nutrisi yang bisa di ambil, dan mineral-mineral penting menjadi hilang. Ion-on beracun yang terlepas akibat hujan asam menjadi ancaman yang besar bagi manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya wabah diare pada anak dan air tercemar alumunium dapat menyebabkan penyakit Alzheimer.
Sejarah
            Hujan asam dilaporkan pertama kali di Mancher, Inggris, yang menjadi kota penting dalam revolusi industri. Pada tahun 1852, menemukan hubungan hujan asam dengan polusi udara. Istilah hujan asam tersebut mulai digunakannya pada tahun 1872. Ia mengamati bahwa hujan asam dapat mengarah  pada kehancuran alam. Walaupun hujan asam ditemukan pada tahun 1852, baru pada tahun 1970-an para ilmuwan mulai mengadakan banyak melakukan penelitian mengenai fenomena ini. Kesadaran masyrakat akan hujan asam di Amerika Serikat meningkat pada tahun 1990-an setelah di New York Times membuat laporan dari Hubbard Brook Experimental Forest di New Hampshire tentang banyaknya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh hujan asam.
Metode Pencegahan
            Di Amerika Serikat, banyak pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara menggunakan Flue gas desulfurization (FGB) untuk menghilangkan gas yang mengandug balerang dari cerobong mereka. Sebagai contoh FGB adalah wet scrubber  pada dasarnya adalah tower tersebut. Kapur atau batu dalam bentuk bubur juga di injeksikan ke dalam tower sehingga bercampur dengan gas cerobong serta bereaksi dengan sulfur ber pH netral yang secara fisik dapat dikeluarkan dari scrubber oleh karena itu, scrubber mengubah menjadi sulfat industri. Dibeberapa area, sulfat tersebut dijual ke pabrik kimia sebagai gipsum bila kadar kalsium sulfatnya tinggi.

BAB  X

Pengendalian Pemanasan Global 

           Komsumsi total bahan bakar fosil didunia meningkat sebesar 1 persen pertahun.
 Langkah- langkah yang dilakukan atau yang sedag didiskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global pada masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim pada  
               Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat diindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke  daerah yang tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosonngkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan sepanjang koridor ini untuk meuju ke habitat yang lebih dingin.
            Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat sekesuburamakin bertambahnya gas rumah kaca.
Pertama, mencegah karbon dioksidadi lepaske atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya ditempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangnya karbon).
1. Menghilangnya Karbon
                Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Diseluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbu kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
            Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya denagn menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injek juga bisa dilakukan untuk mengisolasikan gas ini dibawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batu bara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer permukaan.
Salah satu penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batu bara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan ren penggunaan bahan bakar fosil sebetulnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yag lepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila di bandingkan dengan batu bara. Walaupun demikian, penggunaan  energi terbaruhi dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, tetapi tidak melepas karbon dioksida sama sekali.

2. Persetujuan Internasional

            Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Pada Thun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janerio, Brazil, 150 negara berikrar untuk mengahadapi masalah gas kaca dan setuju unuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di  Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.
            Peranjian ini, yang belum  diimplementasikan, menyurka kepala 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkatan 5%  dibawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7% dibawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang mengiginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8%; dan jepang 6%. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak dimintai untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.
            Akan tetapi,  pada tahun 2001 Presiden Amerika Serikat yang baru dipilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbon dioksida ini. Kyto Protokol tidak berpengaruh apabiala negara-nnegara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55% dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak mratifikasikannya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimiir Putin meratifikasikan perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 februari 2005.

            Banyak orang mengkritik Prokol Kyoto  terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanaka segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suhu tindakan yang keras akan diperlukan nanti terutama karena nnegara-negar berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang Protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batu bara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protkol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dolar AS, disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung  Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.
            Pada satu kebijakan negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan etapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkunga, telah berhasil mengatasi bebagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon dioksida.
            Setelah tahun 1997, para perwakilan dari pendatang Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menengoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, motode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoistor merancang sistem dimana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hal polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebaga contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi dipasar, yang dapat diproleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memprole keuntungan bila sistem ini diterabkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia  sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5% dibawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi negara-negara industri lainn, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.


  

BAB XI
Cara Mengurangi Pemanasan Global
            Setiap orang memiliki perana dalam mengurangi pemanasan global. Dengan merubah kebiasaan kita membuat jejak karbon dibumi ini, kita dapat berperan serta mengurangi pemanasan global dan menyayangi bumi ini dan memberi tempat layak bagi anak cucu kita dikemudian hari.

Berikut ini adalah tips-tips yang sederhana tetapi sangat bermanfaat jika kita meakukannya secara rutin. Tips-tips untuk mengurangi pemanasan global ini sudah dibagi beberapa kategori yang dapat memudahkan kita untuk mengingat dalam melaksanakannya.

Kurangi komsumsi daging, bervegetarian adalah yang terbaik! Berdasasakan penelitian, untuk menghasilkan  1 kg daging, sumber daya yang dihabiskan serta dengan 15 kg gandum. Bayangkan bagaimana kita bisa menyelamatkan bumi dari kekurangan pangan jika bervegetarian. Perternakan jugapenyumbang 18% “ jejak karbon” dunia, yang mana lebih besar dari sektor transportasi. Belum lagi ditambah denagn bahaya gas-gas rumah kaca tambahan yang dihasilkan oleh aktivitas perternakan lainnya. Seperti metana yang natabene 3 kali lebih berbahaya daro CO2. Dan yag pasti banyak manfaat kesehatan dan spiritual dari bervegetarian. Kita akan menjadi lebih sehat dan pengasi. Kurangi dari sekarang memakan daging sapi. Selain mengandung kalori yang tinggi daging sapi juga menyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan. Setiap kilogram deging sapi yang kita makan, serta dengan menyalakan bola lampu 20 watt selama 20 hari.

Makan dan masaklah dari bahan yang masih segar. Menghindari makanan yang sudah diolah atau dikemas akan menurunkan energi yang terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang. Makanan segar juga lebih sehat bagi tubuh kita.

Beli produk lokal, hasil pertanian lokal sangat murah dan juga sangat menghemat energi, terutama jika kita menghitung energi dan biaya transpormasinya. Makanan organik lebih ramah lingkungan, tetapi periksa juga asalnya. Jika di impor dari daerah lain, kemungkinan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar dari pada manfaatnya.
Produk lokal tentu tidak memerlukan jalur distribusi yang panjang dan membutuhkan banyak bahan bakar. Ini berarti mengurangi emisi CO2 yang dikeluarkan mobil-mobil pengangutnya. Kemudian belilah produk sayuran atau buah-buahab sesuai musimnya. 

Daur ulang aluminium, plastik dan kertas. Akan lebih baik lagi jika kita bisa menggunakan berulang-ulang. Energi untuk membuat satu kaleng aluminium setara dengan energi untuk menyalakan TV selama 3 jam.
Beli dalam kemasan besar. Akan jauh lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan. Jika terlalu banyak, ajaklah teman atau saudara untuk berbagi saat membelinya.
Matikan oven beberapa menit sebelum waktunya. Jika tetap dibiarkan tertutup, maka panas tersebut tidak akan hilang.

Hindari fast food. Fast food merupakan penghasilan sampah terbesar didunia. Selain itu komsumsi fast food juga buruk untuk kesehatan.

Bawa tas yang bisa dipakai ulang. Bawa lah sendiri tas anda, dengan demikian anda dapat mengurangi jumlah tas plastik/kresek yang diperlukan. Belakangan ini beberapa pusat perbelanjaan besar di indonesia sudah mulai mengedukasi pelanggannya untuk menggunakan sistem seperti ini. Jadi sambutlah itikad baik mereka untuk menjaga lingkungan.

Gunakan gelas yang bisa dicuci. Jika anda terbiasa dengan cara moderen yang selalu menyajikan minuman bagi tamu dengan air kopi dalam kemasan. Beralihlah ke cara lama kita. Dengan menggunaka gelas kaca, keramik, atau plastik food grade yang bisa kita cuci dan dipakai ulang.

Belanjalah di lingkungan sekitar anda. Akan sangat menghemat biaya transportasi dan BBM anda.

Turunkan suhu AC anda. Hindari penggunaan suhu maksimal. Gunakanlah AC pada tingkatan sampai kita merasa cukup nyaman saja. Dan cegah kebocoran dari ruangan ber-AC anda. Jangan biarkan ada celah yang terbuka jika anda sedang menggunakan AC bekerja lebih keras untuk mendinginkan ruangan anda. Pada akhirnya hal ini akan menghemat tagihan listrik.

Gunakan timer untuk menghindari lupa mematikan AC. Gunakan lah timer sesuai dengan kebiasaan anda. Misalnya jam kantor anda adalah pukul 8.00 sampai dengan  17.00. Set timer AC anda sesuai denagn jam kantor tersebut. Dengan begitu tidak ada lagi insiden lipa memayikan AC hingga keesokan harinya.

Gunakan pemanas air tenaga surya. Meskipun lebih mahal, dalam jangka panjang hal ini akan menghemat tagihan listrik anda. (Bahkan saat ini sudah ada penerangan jalan dengan tenaga surya).

Matikan lampu tidak terpakai dan jangan tinggalkan air menetes. Selain menghemat energi dan air bersih, ini akan menghemat banyak tagihan anda. 

Gunakan lampu hemat energi. Meskipunlebih mahal,rata-rata mereka lebih kuat 8 kali dan lebih hemat hingga 80% dari lampu pijar biasa.
Maksimalkan pencahayaan dari alam. Gunakan warna terang di tembok, gunakan genteng kaca di plafon, maksimalkan pencahayaan melalui jendela.

Hindari posisi stand by pada elektronik anda! jika peralatan rumah tangga kita matikan(bukan dalam posisi stand by) maka kita akan megurangi emisi CO2 yang luar biasa dari penghematan energi listrik. Gunakan colokan lampu yang ada tombol on-off-nya. Atau cabut kabel dari sumber listriknya.
                                                   
Jika pengisian ulang baterai anda sudah penuh, segera cabut! Telpon genggam, pencukur listrik, sikat gigi, elektik, kamera, dan lain-lain.
Jika sudah penuh segera dicabut.

            Hindari screen saver. Shut down komputer anda jika tidak akan digunakan dalam jangka lama, atau jika anda terpaksa meninggalkan koputer dalam keadaan menyala, matikan creec saver. Mengaktifkan screen saver akan memakan energi dan mengeluarkan emisi CO2. Jadi matikan screen saver anda sekarang!

Kurangi waktu dalam membuka lemari es anda. Untuk setiap menit anda membuka lemari es. Akan diperlukan 3 menit full energi untuk mengembalikan suhu kulkas ke suhu yang di inginkan.

Jangan membeli bunga potong. Jika daerah anda bukan penghasil bunga hias, maka bisa dipastikan bunga itu dikirim dari tempat lain. Hal ini akan menghasilkan “ jejak karbon” yang besar.

Potong makanan dalam ukuran relatif kecil. Ukuran potongan yang kecil akan menggunakan energi lebih sedikit untuk memasak.

Gunakan air dingin untuk mencuci dan cucilah dalam jumlah banyak. Jika anda memiliki keluarga kecil, tidaklah perlu setiap hari mencuci. Kumpulkanlah sampai kapasitas mesin cuci anda terpenuhi, hal ini akan menghemat air, mengurangi pencearan akibat deterjen anda.

Gunakan deterjen dan pembersih ramah  lingkungan. Saat ini mungkin harganya memang lebih mahal. Tetapi bila anda mampu, lakukanlah demi masa depan anak cucu kita.

Gunakan  ulang perabotan rumah tangga anda.  Jika anda sudah bsan dengan perabotan anda, anda bisa melakukan obral di garasi rumah, berikan kepada orang lain. Atau bawa ke pengerajin anda.

Donasikan mainan yang sudah tidak pantas untuk umur anak anda. Hal ini akan mengurangi produksi mainan-mainan yang hanya akan terus menghabiskan sumber daya bumi kita.

Jika menunakan dedorant atau produk-produk semprot lainnya, jangan menggunakan aerosol.  Pilihan spray dengan kemasan botol kaca akan lebih baik. Aarosol juga menyumbang besar dalam pencemaran udara kita.

Batasi penggunaan kertas. Tanamkan dalam pikiran anda kuat-kuat, bahwa setiap anda menggunakan selembar kertas maka anda telah menebang sebatang pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak ptint out bolak-balik pada setiap kertas. Bila anda menge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong.

Ganti bola lampu. Segera ganti bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu neon ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibandingkan lampu pijar. Ingat setiap daya listik yang  anda pakai maka anda turut serta menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun kedepan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis.

Periksa tekanan ban. Setiap anda ingin berpergian jangan lupa memeriksa tekanan ban kendaraan anda. ban yang kurang angin akan memperambat laju kendaraan dan akhirnya akan membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak.

Buka jendela lebar-lebar. Di Amerika, sebagian besar dari 22,7 ton emisi CO2 berasal dari rumah. Kebanyakan emisi atau gasbuang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Untuk meminimalkannya ketika dapt mengatur termostat AC dengan suhu udara di luar ruangan. Kemudian bukalah jendela lebar-lebar karena sirkulasi udara yang terjebak dapat mengkomsumsi energi.

Gunakan pupuk organik. Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen, yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek rumah kaca 320 kali lebih besar dari pada CO2. Jika anda hobi berkebun bukti mampu menyerab gunakanlah pupuk organi. Disamping aman, murah pula.

Tanamlah rumpun bambu. Pepohonan memang terbukti mampu menyerab CO2, tetapi ternyata pohon atau rumpun bambu mampu menyerab CO2 empat kali lebih banyak dari pohon-pohon lainnya.

Naik kendaraan umum.  Saat ini jumlah kendaraan peribadi sudah amat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14% emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kedaraan umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan itu sangat hemat energi. Dibandingkan dengan kendaraan pribadi seperti sedan yang hanya menyangkut maksimal empat orang.

Jangan pakai kantong plastik. Dibeberapa negara bagian Amerika, urusan kantong plastik bhkan sampai dibuat undang-undang segala. LSM peduli lingkungan mendorong pemerintah negara setempat untuk melarang penggunaan kantong pastik sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, perlu waktu 1000 tahun untuk mengurai didalam tanah.
                Hidup efisien. Apapun aktifitas manusia dibumi akan berdampak pada bumi yang diam ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan sebaliknya. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif, ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berfikir, dan sebagainya.
                Mengemudi cerdas. Hindari perjalanan yang panjang dan habiskan waktu, bila mungkin memotong jalan lakukanlah. Kurangilah aktifitas yang menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternative yang bebas macet dan tidak mengkonsumsi energi. Bila menunggu, matikan mesin sebab gas buagan tetap keluar sementara bahan bakar terpakai.
            Pakai pakaian bekas. Dengan mengurangi membeli pakaian baru maka anda membantu mengurangi pemakaian listrik di pabrik pakaian.
Apabila banyak bahan kain sintetis yang mengandung minyak bumi. Bahkan katun yang berasal dari kapas ternyata mengandung pestisida.

Mengimbangi Pemanasan Global

1. Membiasakan pola hidup sehat seperti mengurangi penggunaan teknologi yang menimbulkan gas CO2
2. Sering melakukan penghijauan
Banyak orang yang mengatakan bahwa "entah kapan kiamat itu datang" sebenarnya itu suatu hal yang harus kita fikirkan, kenapa kiamat tidak ditentukan kapan datangnya?? itu karena manusia sendiri yang membuat kiamat itu dengan pola prilakunya sehari-hari.

BAB XII

Potokol Kyoto 

A. Pengertian Protokol Kyoto
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim(UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global . Negara-negara yang meratifikasikan protokol ini berkomitmen untuk mengurangi  emisi/pengelusaran karbn dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.
Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02 °C dan 0,28 °C pada tahun 2050.
                Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konversi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Ia  dinegoisasikan di Kyoto pada Desember 1997 dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada tanggal 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.
            Amandemen terhadap Konversi Rangka Ker PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Ditanda tangani 11 Desember 1997 Lokasi kyoto, Jepang belaku 16 Februari 2005 syarat 55 pihak konvensi dan setidaknya 55% dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari pihak-pihak dalam annex I pihak 181 negara dan Uni Eropa (Mei 2008).
             Protokol kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan meguragi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% di banding dengan tahun 1990 (namunyang perlu diperhatikan adalah,jika dibandingkan dengan pikiran jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol,target ini berati pengaruh sebesar 29%). Tujuan adalah unuk menguragi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca-karbon dioksida,metan,nitrous oxide,sulfur heksafluorida,HFC,danPFC-yang dihitumg sebagai rata-rata selama tahun antara 2008-12. Target  nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa,7% untuk AS,6% untuk Jepang,0% untuk Rusia.