Global
Warming
M.a Al Muttaqien
Suhaid
BAB
I
Pemanasan Global
A.
Pengertian Pemanasan
Global
Pemanasan global adalah meningkatnya suhu
rata-rata permukaan.
bumi sebagai akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer.
Menurut Budianto (2000:195) dalam Rajaguguk, E dan Ridwan K (2001) pemanasan
Global sebagai peristiwa naiknya intensitas efek
rumah kaca yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar
panas yaitu sinar infra merah yang dipancarkan oleh bumi.
Pemanasan
global adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi, disebabkan terutama
karena meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca ini
sebagian besar diproduksi sebagai hasil dari aktivitas manusia. Hal ini
akhir-akhir ini menjadi masalah serius, yang mengancam untuk mengganggu
keseimbangan dasar lingkungan dan menyebabkan kerusakan besar-besaran.
LAPAN
(2002;1) mendefinisikan perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu
atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu. Sedangkan istilah perubahan
iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah Bumi secara
keseluruhan.
Definisi
yang umumnya diterima adalah berdasarkan pasal 1 Konvensi PBB mengenai
Perubahan Iklim yang menyatakan :
“Climate
change means a change of climate which is attributed directly or inderictly to
human activities that alters the composition of the global atmosphere and which
is in addition to natural climate variability observed over comparable time
periods.
Atau
diterjemahkan :
“Perubahan
iklim ialah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh
aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global
dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati
pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.”
Kementerian
Lingkungan Hidup (2001:1) mendefinisikan perubahan iklim adalah berubahnya
kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang
membawa dampak luas terhadap berbagai sector kehidupan manusia. Perubahan fisik
ini tidak terjadi hanya sesaat tetapi dalam kurun waktu yang panjang.
Sedangkan IPCC (2001) menyatakan
bahwa climate change refers to a statistically significant variation in
either the mean state of the climate or in its variability, persisting for an
extended period (typically decades or longer).
Selain itu diperjelas juga bahwa climate
change may be due to natural internal processes or external forcings , or to
persistent anthropogenic changes in the composition of the atmosphere or in
land use.
Pemanasan Global (Inggris: global warming) adalah suatu
proses meningkatnya suhu rata- rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Global warming adalah suatu peristiwa yang
disebabkan meningkatnya efek rumah kaca (green house effect). Sebenarnya efek
rumah kaca bukanlah suatu hal yang buruk, justru dengan adanya efek rumah kaca
bumi kita bisa tetap hangat, bahkan memungkinkan kita bisa survive hingga
sekarang.
Kamu bisa mengibaratkan bumi kita
seperti mobil yang sedang diparkir dalam cuaca yang cerah. Kamu pasti akan
berpikir bahwa temperature di dalam mobil pasti akan lebih panas dibandingkan
temperature di luar mobil. Sinar matahari memasuki mobil tersebut melalui
celah-celah pada kaca jendela dan secara otomatis panas dari sinar matahari
akan diserap oleh jok, karpet, dashboard serta benda-benda lain yang berada di
dalam mobil. Ketika semua objek tersebut melepaskan kembali panas yang
diserapnya, tidak semua panas tersebut akan bisa keluar melalui celah jendela,
sebagian justru akan dipantulkan kembali- panas tersebut akan diradiasikan
kembali oleh benda-benda yang ada di dalam mobil dengan panjang gelombang yang
berbeda-beda. Sehingga sejumlah energy panas akan tetap tinggal di dalam mobil,
dan hanya sebagian kecil dari energy tersebut yang bisa melepaskan diri. Pada
akhirnya, mobil tersebut akan mengalami peningkatan temperature secara berkala,
semakin lama akan semakin panas.
Ketika cahaya matahari mengenai
atmosfer serta permukaan bumi, sekitar 70% dari energi tersebut tetap tinggal
di bumi, diserap oleh tanah, lautan, tumbuhan serta benda-benda lainnya. 30 %
sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif
lainnya. Tetapi panas yang 70 % tersebut tidak selamanya ada di bumu, karena
bila demikian maka suatu saat bumi kita akan menjadi “bola api”). Benda-benda
di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali
panas yang diserapnya. Sebagian panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal
di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan bumi ketika mengenai
zat yang berada di atmosfer, seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air.
Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat dari pada di luar
angkasa, karena energy lebih banyak yang terserap dibandingkan dengan yang
dipantulkan kembali. Itulah peristiwa yang disebut dengan efek rumah kaca
(green house effect).
Suhu
rata- rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °c (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun
terakhir. Intergovernmental panel on climate change (IPCC) menyimpulkan
bahwa ‘’ sebagian besar peningkatan suhu
rata- rata global sejak pertengahan abad ke- 20 kemungkinan besar disebabkan
oleh meningkatnya konsentrsasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia’’
melalui efek rumah kaca. Keseimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh
setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademik sains nasional
dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuan yang tidak
setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC
menunjukan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °c (2.0 hingga
11.5 °F) antara tahun 1990 sampai 2100. Perbedaan angka perkiraan itu
disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas
rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang
berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada priode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjutan selama
lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini
mencerminkan besarnya kapasitas panasnya dari lautan.
Pada intinya, pemanasan global
adalah peningkatan suhu udara di permukaan Bumi dan di lautan yang dimulai
sejak abad ke-20 dan diprediksikan terus mengalami peningkatan. Sebagian
besar ilmuwan menggunakan terminologi perubahan iklim daripada pemanasan
global. Asumsinya adalah, yang terjadi sekarang ini tidak hanya fenomena
bertambah panasnya suhu udara, tetapi juga iklim yang berubah-ubah. Kenapa itu
bisa terjadi? Semuanya berasal dari bertambah panasnya suhu udara di Bumi. Arus
angin dan laut lalu memindahkan panas ini ke segala penjuru Bumi. Pergerakan
tersebut mendinginkan beberapa wilayah, memanaskan beberapa wilayah lainnya,
dan mengubah jumlah curah hujan dan salju yang turun ke suatu tempat. Sebagai
akibatnya, terjadi perubahan pola iklim global.
Dengan
adanya isu pemanasan global telah merebak dikalangan masyarakat sejak lebih 50
tahun lalu. Para ilmuwa berargumentasi apabila kondisi ini terus belansung,
dapat diprediksi beberapa puluh tahun lagi kita tidak akan mengenal planet bumi
ini sama dengan bumi yang kita huni sekarang.
Berdasarkan
hasil penelitian, ternyata peningkatan kadar CO2 dalam udara lah
yang memicu munculnya peristiwa pemanasan global. Pemanasan global ini diklaim
sudah terjadi semejak revolusi industri merabak di Inggris pada abad ke-18 yang
diawali dengan penemuan mesin uap oleh James Watt. Pada waktu itu, pembakaran batu
bara sebagai sumber energi mesin uap ternyata juga melepaskan gas CO2
yang sangat banyak ke udara bebas. Bahkan, sampai saat ini peningkatan kadar CO2 di udara bebas semakin naik saja. Pembakaran bahan bakar fosil akan selalu menghasilkan
kadar gas CO2. Belum lagi kejadian kebakaran hutan yang akhir-akhir
ini marak terjadi hampir diseluruh dunia.
B. Perdebatan Tentang Pemanasan Global
Tidak semua ilmuwan
setuju tentang keadaan dan akibat dari Pemanasan Global. Beberapa pengamat
masih mempertanyakan apakah suhu benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui
perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini
untuk membuat prediksi tentang keadaan pada masa depan. Kritikan seperti ini
juga dapat membantah bukti- bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap
pemanasan global dengan
beragumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan suhu. Mereka juga
menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di
beberapa daerah.
Para Ilmuwan
mempertanyakan Pemanasan Global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih
dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan prilaku sebenarnya
yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga
decade pada pertengahan abad kedua puluh bahkan ada masa pendinginan sebelum
naik kembali pada tahun 1970an. Kedua jumlah total pemanasan selama abad kedua
puluh hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga troposfer, lapisan
atmosfer terendah tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung
adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.
Kurangnya pemanasan
pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan
partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer. Partukulat ini , juga
dikenal sebagai aerosol, memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa
luar. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena
adanya control terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.
Keadaan pemanasan
global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan
penyerpan panas secara besar oleh
lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup
data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S National oceanik and atmosferik atmanistrasion (NOAA) memberikan hasil analisi baru tentang suhu
air yang di ukur oleh para pengamat diseluruh dunia selama 50 tahun terakhir.
Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecendrungan pemanasan; suhu
laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3 derajat
fahraienhait) dari pada suhu rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan
tetapi cukub berarti.
Pertanyaan ketiga masih
membingungkan. Satelit mendetiksi lebih sedikit pemanasan di trofposfer
dibandingkan prediksi model. Menurud beberapa kritikus pembacaan atmosfer
tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan bumi tidak dapat
di percaya. Pada bulan januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National
academy of sciences untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan
permukaan bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer
yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.
Beberapa hal yang masih diragukan
para ilmuawan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi
di masa depan, dan bagaimana pemanasan
serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu
tempat ke tempat yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik
dan publik di dunia mengenai tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengurangi
konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di
dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokl Kyoto, yang mengarah kepada
emisi gas-gas rumah kaca.
BAB
II
Penyebab Pemanasan Global
Dalam laporan terbaru, Fourth
Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh
dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah
yang membuat planet kita semakin panas. Sejak
Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm
menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan
konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun
terakhir! IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan
manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan nitro oksida, khususnya selama 50
tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri,
aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan
penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar
fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang
pada pemanasan global.
kecuali dunia mengambil tindakan
untuk membatas emisi gas rumah kaca. Sepertinya, angka itu tidak begitu berarti
bagi Anda. Akan tetapi, Anda perlu tahu, selama Zaman Es terakhir sekitar
11.500 tahun yang lalu, suhu rata-rata dunia hanya 5ºC lebih rendah daripada
suhu udara sekarang, dan saat itu hampir seluruh benua Eropa tertutup lapisan
es tebal! Tren
pemanasan ini terus berlanjut: 11 tahun terpanas dalam sejarah semuanya terjadi
dalam 12 tahun terakhir.
Penelitian
University College London (2007) menunjukkan gempa bumi, letusan gunung berapi,
dan tsunami dipicu oleh pemanasan global atau perubahan iklim. Lalu, apa
penyebab pemanasan global?
Selain Efek rumah kaca kegiatan manusia yang
menyebabkan pemanasan Global adalah sebagai berikut:
a.Peternakan
Pada
tahun 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengeluarkan laporan
“Livestock’s Long Shadow” dengan kesimpulan bahwa sektor peternakan merupakan
salah satu penyebab utama pemanasan global. Sumbangan sektor peternakan
terhadap pemanasan global sekitar 18%,6 lebih besar dari sumbangan
sektor transportasi di dunia yang menyumbang sekitar 13,1%.2 Selain
itu, sektor peternakan dunia juga menyumbang 37% metana (72 kali lebih kuat
daripada CO2 selama rentang waktu 20 tahun)2, dan 65%
nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2).
2. Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan
a.
Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton
per tahunnya.
b.
Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per
tahunnya.
3. Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen
a.
Emisi CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per
tahun.
b.
Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih
dari 0,8 juta ton per tahun.
Industri peternakanNations Environment Program (UNEP) menegaskan
dalam buku panduan “Kick The Habit” bahwa pola makan daging untuk setiap orang
per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2.9
Saat ini, penduduk Bumi berjumlah sekitar 6,7 miliar orang. Bila 5 miliar orang di antaranya adalah pemakan daging,
coba Anda hitung berapa triliun CO2 yang dihasilkan setiap tahunnya?
Kita perlu memprogram ulang kebiasaan makan kita. Dan Anda perlu tahu,
vegetarian, menurut laporan UNEP, hanya menyumbang 190
kg
CO2per tahunnya.
Divisi Lingkungan Bank
Dunia baru-baru ini mengemukakan penelitian mengejutkan bahwa produksi dan konsumsi daging menyebabkan 51% pemanasan
global dalam laporan penelitian mereka yang bertajuk Livestock
and Climate Change (2009)10. Berikut adalah tabel koreksi emisi
produksi dan konsumsi daging setelah menggabungkan berbagai aspek yang tidak
diperhitungkan dalam laporan FAO “Livestock Long Shadow” (2006) menurut Bank
Dunia :
Beban gas rumah kaca yang disebabkan oleh berbagai
diet hewan dibanding dengan diet vegan dengan pemasukan kalori yang sama.
Sebagai perbandingan, perbedaan emisi gas rumah kaca antara berbagai model
mobil juga diperlihatkan. Misalnya,
diet daging campur, yang mengkombinasikan daging merah dengan unggas dan ikan,
sebanding dengan perbedaan emisi antara sebuah Suburban dan sebuah Camry saat
masukan kalori dari sumber hewan mencapai 47 persen.
Pilihannya ada di dapur Anda:
Sekalipun seseorang memilih untuk menutup matanya terhadap kekejaman dalam pertanian
pakan ternak, akan tetapi keadaan darurat untuk menghentikan perubahan iklim
dan bagaimana cara melakukannya sangatlah jelas. Sekarang bukan hanya para
vegetarian atau pencinta lingkungan yang mengatakannya; tetapi ketua dari
sebuah badan internasional, Dr. Pachauri, telah mengumumkan kepada dunia bahwa
pengaruh makan daging telah merusak planet kita, dan bahwa kita harus
menghentikan makan daging agar dapat membalikkan keadaan. Namun itu semua
tergantung pada pilihan orang. Kita semua bertanggung jawab untuk membuat Bumi
ini menjadi lebih sejuk, lebih bersih, dan lebih sehat. Jadi mulailah dari
dapur Anda: Pilihlah diet vegetarian dan
bantulah mengerem perubahan iklim.
Konsumsi air untuk menghasilkan satu kilo makanan dalam pertanian pakan
ternak Amerika Serikat.
1 kg daging
|
Air (liter)
|
Daging sapi
|
1.000.000
|
Ayam
|
3.500
|
Kedelai
|
2.000
|
Beras
|
1.912
|
Gandum
|
900
|
Kentang
|
500
|
Peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan
bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan
ternak.
Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang
senior dari Organisasi Pangan dan
Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock’s Long Shadow–Environmental
Issues and Options), peternakan adalah "penggerak utama dari
penebangan hutan kira-kira 70 persen
dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Selain
itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari
padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan,
dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang
sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi
digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari
sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga
menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.
Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem , tidak sulit untuk
menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri
ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di
atas meja makan orang. Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah
menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk
memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar
fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum;
akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi!
Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak hanya
untuk membuat sebuah hamburger daripada konsumsi yang diperlukan untuk membuat
hamburger dari kacang kedelai! Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air,
penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan
jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet
tumbuh-tumbuhan atau lebih.
Tahun lalu, penyelidik dari Departemen Sains Geofisika (Department of
Geophysical Sciences) Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin,
juga menyingkap hubungan antara produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka
mengukur jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas,
susu, dan telur, serta membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang
berdiet vegan. Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika beralih ke diet
tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat mencegah satu setengah ton emisi gas
rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari sebuah sebuah
sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius hibrida menghemat
kurang lebih satu ton emisi CO2.
b. Pembangkit Energi
Sektor
energi merupakan sumber penting gas rumah kaca, khususnya karena energi
dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, di mana
batu bara banyak digunakan untuk menghasilkan listrik.9 Sumbangan
sektor energi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 25,9%.2
Pembangkit listrik tenaga bahan
bakar fosil adalah pembangkit listrik yang membakar bahan bakar fosil seperti
batu bara, gas alam, atau minyak bumi untuk produksi listrik. Pembangkit listik
tenaga bahan bakar fosil di desain untuk produksi skala besar yang berlangsung
terus menerus. Di banyak negara, pembangkit listrik jenis ini memproduksi
sebagian besar energi listrik yang digunakan. Pembagkit listrik tenaga bahan
bakar fosil selalu memiliki mesin rotasi yang mengubah panas dari pembakaran
menjadi energi mekanik yang lalu mengoporasi generator listrik. Pengerak
utamanya mungkin adalah uap, gas bertekanan tinggi, atau mesin siklus dari
mesin pembakaran dalam. Hasil sampingan dari mesin pembakaran dalam harus
dipertimbangkan dalam desain mesin dan operasinya. Panas yang terbuang karena
efisiensi yang terbatas dari siklus energi, ketika tidak direcovery sebagai
pemanas ruangan, akan dibuang ke atmosfer. Gas sisa hasil pembakaran dibuang ke
atmosfer; mengandung karbon dioksida dan uap air, juga substansi lain seperti
nitrogen, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dan abu ringan (khusus batu bara)
dan mungkin merkuri. Abu padat dari pembakaran batu bara juga harus dibuang,
meski saat ini abu padat sisa pembakaran batu bara dapat di daur ulang sebagai
bahan bangunan.
Pembangkit listrik bahan bakar
fosil tenaga bahan bakar adalah
penyumbang utama gas rumah kaca dan berkontrubusi besar terhadap pemanasan
global. Batu bara menghasilkan gas rumah kaca sedikitnya tiga kali lebih banyak
dari gas alam.
Konsep
dasar pada pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil, energi kimia yang tersimpan dalam
bahan bakar fosil (batu bara, gas alam, minyak bumi) dan oksigen dari udara
dikonversikan menjadi energi termal, energi mekanis, lalu energi listrik untuk
penggunaan berkelanjutan dan distribusi secara luas.
Konversi energi kimia
menjadi panas Pembakaran
sempurna dari bahan bakar
fosil menggunakan oksigen untuk menginsias pembakaran. Dimana koefisien
stoikiometri x dan y bergantung pada tipe bahan bakar. Persamaan yang lebih
simpel lagi adalah bahan bakar oksigen + oksigen, Sisa pembakaran seperti
nitrogen dan sulfur dioksida, datang dari bahan bakar yang tidak murni karena
terdapat campuran yang tidak diharapkan (pengotor) dari bahan bakar tersebut.
Konversi panas menjadi energi mekanis hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa setiap siklus
tertutup hanya bisa mengkonservasi sebagian panas yang diproduksi menjadi
kerja. Sisa panas harus dipindahkan ke reservoir yang lebih dingin, menjadi
panas yang terbuang. Sebagian panas yang terbuang adalah sama atau lebih besar
dari rasio temperatur mutlak
reservoir dingin dan resorvoir panas. Meningkatkan temperatur reservoir dapat
meningkatkan efisien mesin. Panas yang terbuang tidak dapat dimanfaatkan
menjadi energi mekanis. Namun dapat dimanfaatkan untuk menghangatkan bangunan,
memproduksi air panas, atau memanaskan material dalam skala industri.
Efek lingkungan pembakaran batu bara
dapat memicu hujan asam dan polusi udara, dan telah dihubungi dengan pemanasan
global karena komposisi kimia dari batu bara dan sulitnya memindahkan pengotor dari bahan bakar padat ini
untuk pembakaran. Hujan asam disebabkan oleh emisi nitrogen oksida dan sulfur
dioksida ke udara. emisi tersebut bereaksi denga uab air diatmosfer,
menciptakan bahan asam (asam sulfur, asam nitrit) yang jatuh sebagai hujan.
Karbon dioksida pembangkit listrik tenaga bahan bakar posil
bertanggung jawab penuh terhadap sebagian besar dari emisi karbon dioksida
diseluruh dunia, dan 41% dari seluruh emisi karbon dioksida yang dihasilkan
oleh manusia. karbon dioksida diproduksi secara alami oleh alam melalui letusan
gunung berapi, pemecahan biologis, atau respirasi organisme hidup. Karbon
dioksida diserap oleh tanaman melalui fotosintesis atau perairan, masalnya
laut. Peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer memicu perubahan iklim
termasuk pemanasan global.
Partikulat masalah lainnya dari pembakaran bahan bakar
posil adalah emisi partikulat yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan.
Pembangkit listrik bahan bakar fosil memidahkan partikulat dari gas sisa hasil
pembakaran dengan baghouse filter atau electrostatic frecipitator. Materi
partikulat terdiri yang utama adalah abu ringan, namun ada juga sulfat dan
nitrat. Abu ringan mengandung bahan yang tidak dapat terbakar yang tersisa
setelah pembakaran. Ukuran partikulat bervariasi dari yang berukuran lebih
besar dari 2,5 mikrometer hingga yang berukuran lebih kecil dari 1.0 mikrometer
semakin kecil ukuran, semakin sulit dihilangkan.
Terdapat
beberapa metode untuk menghilangkan emisi partikulat agar tidak mencemari
atmosfer:
§
Baghouse filter, yang mengumpulkan partikel
abu.
§
Electrostatic precipitator, yang mengunakan
tegangan tinggi untuk menghasilkan medan listrik untuk menangkap partikal abu.
§
Cyclone collector, menggunakan perinsip
sentrifugasi untuk menangkap partikel.
Alternartif bahan bakar fosil. Alternatif bahan bakar fosil meliputi energi nuklir,
energi surya, dan energi terbarukan lainnya.
Menurut
Dapartemen Energi dan Sumberdaya Mineral (2003), komsumsi energi bahan bakar
fosil memakan sebanyak 70% dari total komsumsi energi, sedangkan listrik
menempati posisi kedua dengan memakan 10% dari total komsumsi energi. Dari
sektor ini, Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total
emisi gas rumah kaca.
Indonesia termasuk negara pengkomsumsi
energi terbesar setelah Cina, Jepang, India dan Korea Selatan. Komsumsi
energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk yang menggunakan
bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam perhitungan
penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar penggunaan energi per orang di negara maju.
Menurut Prof. Emil Salim, USA
mengemisikan 3 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar penduduk,
sementara India mengemisikan 1,2 ton CO2/ orang dengan jumlah 1 milyar
penduduk.
Dengan
demikian, banyaknya gas rumah kaca yang terbuang ke atmosfer dari sektor
ini berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah penduduk. USA merupakan
negara dengan penduduk yang mempunyai gaya hidup sangat boros, dalam mengkomsumsi energi yang berasal dari bahan bakar fosil,
berbeda dengan negara berkembang yang mengemisikan sejumlah gas rumah kaca,
karena akumulas banyaknya penduduk.
c. Industri
Sumbangan
sektor industri terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 19,4%.2
Sebagian besar sumbangan sektor industri ini berasal dari penggunaan bahan
bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau dari produksi C02 secara
langsung sebagai bagian dari pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen.
Hampir semua emisi gas rumah kaca dari sektor ini berasal dari industri besi,
baja, kimia, pupuk, semen, kaca dan keramik, serta kertas.
Sektor indrustri menjadi salah
satu kontributor terbesar penyumbang asap pabrik, CO2, dan pengunaan peralatan
listrik yang menghasilkan emisi. Pengunaan aircondionair (AC) pada ruangan akan
menghasilkan CFC yang dapat merusak ozon yang menjadi pelindung Bumi di sinar
ultraviolete langsung pengunaan energi terbarukan juga menjadi salah satu
solusi yang baik. Salah satu energi terburukan adalah energi geothermal
memiliki hasil, emisi yang rendah sehingga dapat dikembang. Konsep green energi
hijau ini tentunya akan menjadi salah satu langkah dalam megurangi perubahan
iklim.
Kelebihan solusi tentu tidak
terlepas dari peraturan dan regulasi yamg ditetapkan oleh pemerintah dalam
mengurangi dampak pemanasan global. Disamping diciptakan regulasi oleh pemerintah, pemanasan global dapat di
kurangi degan cara prilaku kita sehari-hari tentunya. Bayak hal yamg bisa kita
lakukan degan menagani penyebab-penyebab dari pemanas global. Solusi atas
parmasalahan ini tentunya ada pada diri kita masing-masing.
Pemanasan global merupakan salah satu krisis yang sedang dihadapi dunia.
Fenomena dimana suhu bumi secara bertahap memanas hingga mencapai titik yang
mengganggu keseimbangan global. Pemanasan global dapat menjadikan kutub es
mencair dan menigkatkan volume air laut.
Salah satu penyebab utama dari
pemanasa global adalah meningkatnya karbon dioksida yang dihasilkan antara lain
oleh mesin pabrik industri dan kendaraan bermotor, pembakaran sampah, dan
berbagai sebab lainnya yang disebabkan oleh manusia. Sedangkan hutan dan
pohon-pohon yang dapat menyerap karbon dioksida terus berkurang oleh penebangan
karena pertumbuhan yang terus berkembang. Tercatat kadar CO2 meningkat dari 280 PPM menjadi 380 PPM. CO2
yang berlebihan akan merusak lapisan ozon sebagai ”selimut” yang
melindungi bumi dari sinar matahari langsung dan menjaga keseimbangan suhu di
bumi. Sinar UV yang berlebihan dapat menyebabkan kangker kulit hingga timbulnya
hujan asam yang tentunya akan mengganggu ke langsungan makhluk hidup di bumi.
Pengurangan emisi tentunya
merupakan salah satu solusi dalam
masalah ini adalah emisi karbon tentunya banyak disebabkan oleh berbagai sektor
industri. Pemakaian energi terbarukan sebagai salah satu langkah dalam
megurangi emisi dunia. Salah satu energi terbarukan adalah dengan penggunaan
energi geothermal atau panas bumi yang memiliki emisi rendah. Geothermal di
Indonesia memiliki potensial yang sangat besar karena Indonesia dilewati jalur
oleh gunung api yang menjadi sumber panas dibumi. Energi geothermal dapat
menggantikan pengunaan tenaga energi lain yang menghasilkan emisi tinggi untuk
dunia. Energi selain geothermal yang dapat digunakan adalah potensi energi
alternatif berupa tenaga air agin, biomasa, dan tenaga surya.
Selain pengurangan emisi, salah satu
solusinya adalah dengan kembali meningkatkan penghijauan dan penanaman pohon
didunia. Gerakan penanaman pohon telah banyak dilakukan pemerintah dan berbagai
komunitas pencinta lingkngan. Hutan sebagai penyerab karbon akan menjadikan
suatu bantuan terhadap emisi karbon. Negara berkembang dan negara maju tentunya
harus berkerja sama dengan baik dalam
mengurangi emisi.
Kemudian emisi atau gas buangan
tersebut kebanyakan berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator.
Untuk meminimalkannya ketika dapat
mengatur termostar AC dengan suhu dluar ruangan. Penguragan pemakaian AC akan
membantu mengurangi CFC dan emisi lainnya yang merusak ozon. Efisien peggunaan
AC tentunya menjadi salah satu solusinya. Lebih baik kita pintu rumah kita
lebar-lebar untuk mendapatkan kesejukan yang alami.
Langkah selanjutya adalah
pengurangan kedaraan bermotor apabila tidak terlalu jauh lebih baik berjalan
kaki atau gunakan kendaraan umum, karena sektor transfortasi menyumbang 14%
emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaraan publik maka
kita mengurangi emisi gas rumah kaca,
karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang, dan itu sangat hemat enegi tentunnya. Pendirian komunitas lingkungan juga merupakan
langkah yang baik. Banyak hal positif yang akan dilakukan. Tentunya, Penanaman
pohon ataupun kegiatan positif lainnya. Mengadakan diskusi di berbagai forum
juga akan mucul ide kreatif kita terhadap penguragan emisi du
d. Pertanian
Sumbangan
sektor pertanian terhadap emisi gas rumah kaca sebesar 13,5%.2
Sumber emisi gas rumah kaca pertama-tama berasal dari pengerjaan tanah dan
pembukaan hutan. Selanjutnya, berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk
pembuatan pupuk dan zat kimia lain. Penggunaan mesin dalam pembajakan,
penyemaian, penyemprotan, dan pemanenan menyumbang banyak gas rumah kaca. Yang
terakhir, emisi gas rumah kaca berasal dari pengangkutan hasil panen dari lahan
pertanian ke pasar.
Sektor ini memberi kontribusi
terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang menghasilkan
gas metana, pemanfaatan pupuk serta
praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan pembusukan
sisa-sisa pertanian. Dari sektor ini gas
rumah kaca yang dihasilkan yaitu gas metana
dan gas nitrogen oksida. Di Indonesia, sektor pertanian menyumbang emisi
gas rumah kaca sebesar 8.05% dari total gas rumah kaca yang dimisikan ke
atmosfer.
e. Alih Fungsi Lahan dan
Pembabatan Hutan
Sumber lain C02
berasal dari alih fungsi lahan di mana ia bertanggung jawab sebesar 17.4%. Pohon dan tanaman menyerap karbon
selagi mereka hidup. Ketika pohon atau tanaman membusuk atau dibakar, sebagian
besar karbon yang mereka simpan dilepaskan kembali ke atmosfer.9
Pembabatan hutan juga melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah. Bila
hutan itu tidak segera direboisasi, tanah itu kemudian akan menyerap jauh lebih
sedikit CO2.
Kerusakan lingkungan disebabkan ulah manusia serakah mengekploitasi hutan
melampaui batas-batas kewajaran. Kerena keserakahan manusia tersebut, ekosistem
hutan yang awalnya baik menjadi rusak. Kalau manusia menyadari bahwa dari
kerusakan lingkungan, tentu manusia tidak akan membabat hutan dengan penuh
keserakahan. Lingkungan harus dijaga dan dilestarikan demi keamanan manusia
dari keganasan alam dan bencana. Oleh karena itu, semua jajaran, baik
Pemerintah, lembaga swasta, maupun masyarakat harus harus menyadari pentingnya
menjaga lingkungan.
Menurut dari data Yayasan Pelangi, pada tahun
1990, emisi gas karbon dioksida yang dilepaskan oleh sektor kehutanan, termasuk
perubahan tata guna lahan, mencapai 64% dari total emisi CO2 Indonesia yang mencapai 748,61 KiloTon. Pada
tahun 1994 terjadi peningkatan emisi karbon menjadi 74%.
Proses pembabatan hutan ataupun
penggundulan hutan untuk membuat ruang yang lebih luas untuk industri dan rumah tangga dari populasi
yang terus meningkat. Penebangan hutan yang berlebihan untuk memperluas area
perkotaan dan tujuan lainnya sebenarnya merugikan keseimbangan lingkungan. Hal
ini perlu dapat dikatakkan bahwa deforestasi memiliki beberapa dampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu
kerugian utama dari deforestasi adalah menggangu siklus air. Pohon berguna
untuk menyerap air dan membuat lingkungan lebih kering. Perubahan iklim adalah
hasil arah dari penebangan hutan berlebihan. Pepohonan menyimpan karbon dari
atmosfer selama proses fotosintesis.
Penggundulan hutan akan menghasilkan
peningkatan jumlah karbon dan gas rumah kaca bagi lingkungan. Kebakaran hutan
juga membuang sejumlah besar karbon dioksida ke udara. Karbon dioksida dan gas
rumah kaca lain seperti oksida nitrogen dan metana menambah panas di atmosfer,
sehingga meningkatkan suhu permukaan bumi. Peningkatan suhu dipermukaan bumi
dan lautan disebut sebagai pemanasan global.
Kita tidak boleh lupa bahwa pohon
berpengaruh dalam keanekaragaman hayati. Dengan menebangi pohon, kita merampas
sumber makanan hewan dan menyebabkan kehancuran kehidupan hewan. Hal ini dapat
menyebabkan kepunahan berbagi spesies hewan. Pemanasan global yang sebagian
besar disebabkan oleh penebangan hutan membahayakan kehidupan tanaman dan hewan
sehingga mengganggu keseimbangan alam. Deforestasi, menjadi salah satu alasan
utama di balik penyebab pemanasan global, kita perlu menunjukan perhatian yang
lebih besar terhadap penebangan hutan. Kita perlu mengambil tindakan untuk
mencegah deforestasi sehingga kita dapat mewujud kan suatu lingkungan yang
kondusif bagi kehidupan kita.
Kerusakan hutan salah satu fungsi
tumbuhan yaitu menyerab karbon dioksida yang merupakan salah satu dari gas
rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen. Saat ini di Indonesia, diketahui
telah terjadi kerusakan hutan yang cukup parah. Laju kerusakan hutan di
Indonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia (2001) sekitar 2,2
juta/tahun. Kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan
tata guna lahan, antara lain perubahan hutan menjadi perkebunan dengan tanaman
tunggal secara besar-besaran, misalnya perkebunan kelapa sawit, serta kerusakan-kerusakan
yang ditimbulkan oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan kerusakan seperti tersebut diatas,
tentu saja proses penyerapan karbon
dioksida tidak dapat optimal. Hal ini akan mempercepat terjadinya pemanasan
global.
Alih fungsi pemanfaaatan lahan dibedakan
menjadi penggunaan lahan secara umum dan pemanfaatan terbatas. Penggunaan lahan
secara umum dipengaruhi oleh kondisi reliefnya, misalnya kegiatan pertanian
dilakukan pada lahan berelief datar karena mudah di olah. Pertanian pada lahan
miring dapat diatasi dengan sistem terasering. Selain itu, penggunaan lahan
secara umum dimanfaatkan untuk lokasi kegiatan bidang-bidang lain seperti
industri, permukiman, dan parawisata. Salah satu kegiata parawisata yang dapat
menambah kesadaran dalam menjaga lingkungan hidup adalah wisata alam atau
outbond.
Pertambahan penduduk yang semakin pesat menigkatkan kebutuhan lahan tempat
tinggal. Oleh karena itu, penduduk memanfaatkan berbagai jenis lahan terbatas.
Untuk mengatasinya, banyak negara melakukan reklamasi lahan. Reklamasi lahan
adalah proses perluasan atau penambahan lahan. Reklamasi dilakukan dengan cara
pengeringan rawa, penimbunan bahan bekas tambang, dan pengurukan pantai.
f. Transportasi
Sumbangan
seluruh sektor transportasi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%.
Sektor transportasi dapat dibagi menjadi transportasi darat, laut, udara, dan
kereta api. Dari total sumbangan 13,1% itu, sumbangan terbesar berasal dari
transportasi darat (79,5%), disusul kemudian oleh transportasi udara (13%),
transportasi laut (7%), dan terakhir kereta api (0,5%).
Permasalahan-permasalahan
transportasi memang telah banyak terjadi di manapun. Tetapi setiap negara atau
wilayah mempunyai cara sendiri-sendiri untuk mengatasinya. Cara untuk mengatasi
pun berbeda-beda tergantung kondisi yang terdapat di wilayah atau daerah
tertentu. Setiap negara memang saat ini sedang gencar dalam mengatasi banyaknya
permasalahan transportasi. Karena masalah transportasi memang kompleks dan juga
termasuk pemanasan global. Dan masalah transportasi pun harus diatasi untuk
mengatasi isu pemanasan global tersebut.
Dan konsep transportasi berkelanjutan memang harus diterapkan di setiap negara
atau wilayah. Karena dengan konsep transportasi berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan dan ramah lingkungan, pemansan global akan sedikit bisa teratasi.
Lingkungan memang suatu yang harus dijaga dalam kehidupan ini. Karena tanpa
lingkungan yang baik, kehidupan kehidupan manusia juga tidak akan seimbang.
Sehingga yang terjadi adalah pemanasan global tersebut. Dikarenakan ketidak
seimbangan antara lingkungan dengan sistem-sistem yang ada. Oleh karena itu,
yang bisa dilakukan saat ini adalah menjaga lingkungan yang ada dan memperbaiki
lingkungan yang rusak. Dan ini bisa dilakukan dengan cara melakukan pembangunan
berkelanjutan. Pembangunan tidak hanya pada pembangunan fisik saja, tetapi juga
pembangunan sistem-sistem yang ada yang berkelajutan dan berwawasan lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan khususnya transportasi berkelanjutan memang sangat
penting untuk mendukung perbaikan dari lingkungan. Karena dengan transportasi
yang ramah lingkungan dan mendukung perbaikan lingkungan, maka pemanasan global
akan bisa diatasi. Konsep transportasi berkelanjutan ini memang sudah melampaui
batas memang juga ikut memberi dampak negatif pada lingkungan.
Perkembagan jaman memang semakin
moderen dan semakin canggih karena perkembangan IPTEK juga berpengaruh terhadap
perkembangan transportasi. Moda transportasi saat ini memang lebih canggih,
moderen, dan mudah untuk dipergunakan. Dan masyarakat memang sudah tergantung
kepada transportasi dalam melakukan aktivitas hidupnya. Pemenuhan kebutuhan
manusia juga bergantung dengan transportasi. Tetapi semakin canggih dan moderen
moda transportasi tersebut juga semakin besar dampak yang disebabkan oleh moda
transportasi tersebut. Dampak yang dihasilkan transportasi kebanyakan
menghasilkan dampak negatif terhadap lingkungan. Dan dampak ini memang sudah
sangat terasa dikehidupan manusia. Misalnya perubahan iklim menjadi lebih panas
atau pemanasan global tersebut.
Dikota besar, polusi udara yang
dihasilkan oleh moda tranportasi sekitar 60%-80% dan itu merupakan yang
terbesar setelah itu polusi dari industri dan rumah tangga. Kebijakan yang mengatur tentang pengendalian
pencemaran udara adalah Perda No.2 tahun 2005 yang mengharuskan uji emisi bagi
kendaraan bermotor. Uji ini dilakukan karena dalam kenyataan kualitas udara
Kota Jakarta sekitar 70% pencemaran
udaranya diakibatkan oleh kendaraan bermotor. Sebelumnya sudah lama pemerintah
membuat undang-undang anti polusi, yaitu UU Lalu Lintas No. 14/1992 pasal 50
yang menyatakan bahwa untuk mencegah pencemaran udara dan kebisingan suara
kendaraan bermotor yang dapat menggangu kelestarian lingkungan hidup, setiap
kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan
tingkat kebisingan.
Namun, pada kenyaataan peraturan
tersebut hanya peraturan tertulis tanpa direalisasikan dengan kenyataan.
Peraturan tersebut seharusnya dilaksanakan pada kendaraan-kendaraan umum dalam
paket uji kir. Hingga pada saat ini masih banyak kendaraan dengan asap tebal
dan keadaan yang sudah tidak layak. Dan pemerintah sebagai pengawas kebijakan
tersebut juga tidak berbuat banyak bagi yang melanggar kebijakan tersebut. Oleh
sebab itu, sistem transportasi yang ada pun menjadi rusak dan buruk karena
salah satu sistem yaitu sistem kelembangaan juga tidak berbuat banyak dan tidak
bisa menindak yang melakukan pelanggaran.
Solusinya adalah pengurangan kedaraan bermotor
apabila tidak terlalu jauh lebih baik berjalan kaki atau gunakan kendaraan
umum, jika kita menggunakan kendaraan
publik maka kita mengurangi emisi gas
rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa mengangkut puluhan orang,
dan itu sangat hemat enegi tentunnya.
g. Hunian dan Bangunan
Komersial
Sektor hunian
dan bangunan bertanggung jawab sebesar 7,9%. Namun, bila dipandang dari
penggunaan energi, maka hunian dan bangunan komersial bisa menjadi sumber emisi
gas rumah kaca yang besar. Misalnya saja dalam penggunaan listrik untuk
menghangatkan dan mendinginkan ruangan, pencahayaan, penggunaan alat-alat rumah
tangga, maka sumbangan sektor hunian dan bangunan bisa mencapai 30%. Konstruksi
bangunan juga mempengaruhi tingkat emisi gas rumah kaca. Sebagai contohnya,
semen, menyumbang 5% emisi gas rumah kaca.
h. Sampah
Limbah sampah
menyumbang 3,6% emisi gas rumah kaca. Sampah di sini bisa berasal dari sampah
yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (2%) atau dari air limbah atau jenis
limbah lainnya (1,6%). Gas rumah kaca yang berperan terutama adalah metana,
yang berasal dari proses pembusukan sampah tersebut. Sampah bisa di manfaatkan sebagai upaya
mengurangi pemanasan global. Sampah menghasilkan gas metana. Diperkirakan 1 ton
sampah padat menghasilkan 50kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang
dihadapi kota-kota Indonesia.
2.3 VariaMatahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari
matahari, dengan kemungkinan diperkuat
oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontributor dalam pemanasan saat ini.
Perbedaan
antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah
meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya akan
mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah
diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari
menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (penipisan apisan ozon juga dapat
memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai
akhir tahun 1970-an).
Fenomena variasi matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi
mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga
tahun1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa
kontribusi matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University
memperkirakan bahwa matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50%
peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35%
antara tahun1980-2000.
Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang
dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas
rumah kaca dibandingka dengan pengaru Matahari mereka juga mengemukakan bahwa
efek pendinginaan dari debu vulkanik dan aeosol sulfat juga telah dipandang
remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa dengan meningkatkan
seensitivitas iklim terhadap pengaruh matahari sekalipun, sebagian besar
pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas
rumah kaca. Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan
swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat
‘’keterangan’’ dari matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus matahari
Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tigkat ‘’
keterangannya’’ selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk
berkontribusi. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Frohlich menemukan bahwa
tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi matahari sejak tahun
1985, baik melalui variasi dari output matahari maupun variasi dalam sinar
kosmi.
BAB III
Mengukur Pemanasan Global
Pada awal tahun 1896, para ilmuan beranggapan bahwa
membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat
meningkatkan suhu rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasikan tahun 1957
ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu
Internasional Geophysical Year, menggambil sampel atmosfer dari puncak gunung
Mana Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukan terjadi peningkatan
konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer
terus di ukur degan cermat. Data-data yang dikumulkan menunjukan bahwa memang
terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global
semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang
tepat. Suhu terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya.
Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memproleh data-data yang menunjukan
suatu kecenderungan yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan
kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit
tidak dapat dipercaya.
Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah
perkotaan sehingga pengukuran suhu akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan
kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan jalan. Sejak
1957, data-data diproleh dari statiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari
perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan akurat, terutama
pada70% permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang akurat ini
menujukan bahwa kecenderungan menghangatnya pemukaan Bumi benar-benar terjadi.
Jika dilihat pada akhir abad ke 20, tercatat bahwa sepuluh tahun terakhir
terjadi setelah 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990,
dengan 1998 mejadi yang paling panas.
Dalam laporan yang dikeluarkannya 2001 IPCC menyimpulkan
bahwa suhu udara global telah meningkat 0,6 derajat celsius atau satu derajat
fahrenheit sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama
disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer.
IPCC memprediksikan peningkatan suhu rata-rata
global akan meningkat 1.1 hingga 6.4°C (20 hingga 11.5°F) antara tahun
1990 dan 2100.
IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun
konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap
terus menghangatkan selama priode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbon dioksida akan
tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu
menerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meingkatkan hingga tiga
kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibadingkan masa sebelum era industri.
Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya
peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah di
bumi, manusia akan menghadapi populasi yang sangat besar.
Model
Iklim
Perhitungan pemanasan global pada tahun 2100 dari
beberapa model iklim berdasarkan skenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada
tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi. Para ilmuan telah mempelajari
pemanasan global berdasarkan model-model computer berdasarkan prinsip-prinsip
dasar dinamika flurida, transfer radiasi, dan proses-proses lainnya, dengan
beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model
ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang
lebih hangat. Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi
gas rumah kaca pada masa depan.
Sensitivitas iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukan unsur-unsur ketidak pastian terhadap
konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan
pemanasan sekitar 1.1°C hingga 6.4°C (2.0°F hingga 11.5°F) antara tahun 1990
dan 2100.
Model-model
iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan iklim yang
terjadi pada saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil prediksi model terhadap
berbagi penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia. Model iklim saat ini
akan menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan suhu global hasil
pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi mensimulasi semua aspek dari
iklim.
Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa
pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oeh proses
alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukan bahwa pemanasan
sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.
Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitungkan
iklim pada masa depan, dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca,
biasanya dari laporan khusus terhadap skenario emisi IPCC. Yang jarang
dilakukan menghiung denga meambahkan simulasi terhadap siklus karbon;yang
biasanya biasanya menghasilkan umpan balik yang fositif, walaupun responnya
masih belum pasti untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan
20 dan 200 ppm CO.
Bagi
Kehidupan Bumi Beberapa
studi-studi juga menunjukan beberapa unpan balik positif. Pengaruh awan juga
merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidak pastian terhadap
model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telahada kemajuan dalam
meyesaikan masalah ini. Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih
belanjut mengenai apakah model-model iklim mengesampingkan efek-efek upan balik
tak langsung dari variasi matahari.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC
menunjukan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °c (2.0 hingga
11.5 °F) antara tahun 1990 sampai 2100. Perbedaan angka perkiraan itu
disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas
rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang
berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada priode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut
diperkirakan akan terus berlanjutan Selama lebih dari seribu tahun walaupun
tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.
BAB IV
Dampak Pemanasan Global
Para ilmuwan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitas,
dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model
tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa perkiraan mengenai dampak
pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan laut, pantai, pertanian,
kehidupan hewan liar daan kesehatan manusia.
Meningkatnya suhu global
diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya
permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta
perubahan jumlah dan pola presipitas. Akibat-akibat pemanasan global yang lain
adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai
jenis hewan. Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai
jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana
pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari
satu daerah ke daerah yang lain.
Hingga saat ini masih terjadi perdepatan politik dan
publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk
mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi
terhadap konsenkuensi-konsenkuensi yang ada. Sebagai besar pemerintahan
negara-negara didunia menandatangani dan meratifikasi protokol kyoto, yang
mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Pemanasan global merupakan masalah serius yang kita
hadapi saat ini. Pemanasan global dapat berdampak pada kesehatan manusia. Salah
satu cara untuk melindungi kesehatan generasi sekarang dan masa depan dari dampak pemanasan global adalah
mengurangi emisi karbon. Oleh sebab itu, kita harus mengurangi penggunaan peralatan
elektronik yang mempercepat pertambahan emisi karbon di bumi. Adapun cara
sederhana yang dapat kita lakukan untuk menghambat pemanasan global yaitu
melakukan penghijauan di lingkungan tempat tinggal kita. Cara tersebut efektif
untuk mengurangi karbon dioksida yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal
kita.
BAB
V
Dampak
Pemanasan Global Bagi Kehidupan Bumi
Meskipun
kita baik menyadari
berbagai dampak pemanasan global di Bumi, kita tidak benar-benar tahu kapan
kita akan dihadapkan karenanya. Ini termasuk gletser mencair, perubahan iklim,
kepunahan massal, dan sebagainya. Bahkan, United States Geological Survey telah
mengungkapkan bahwa pada tahun 2030 yang terkenal Glacier National Park di
Amerika Serikat akan ditinggalkan tanpa adanya gletser!
Ancaman
pemanasan global telah berlipat ganda selama bertahun-tahun dan sayangnya, itu
terus memperbanyak, sebagai pergumulan antara negara maju dan berkembang untuk
menerapkan pemotongan emisi berlanjut. Pemanasan global adalah masalah yang
sangat serius, karena dampaknya pada satu komponen tertentu dari bumi memicu
serangkaian dampak buruk pada komponen terkait lainnya. Misalnya, es di kutub
mencair akan menaikkan level air, yang pada gilirannya akan menenggelamkan
daerah dataran rendah di seluruh dunia.
Manusia, hewan,
tumbuhan, iklim, tanah apa saja dan
itu akan dipengaruhi oleh pemanasan global. Bahkan, beberapa spesies tanaman
dan hewan yang sudah di ambang kepunahan. Studi menunjukkan bahwa sekitar 15-37
persen spesies tanaman dan hewan akan dihapus dari planet pada tahun 2050.
Perubahan pola iklim sudah mulai menunjukkan, permukaan laut meningkat. Singkat kata, kita hanya menuju
kehancuran.
Dalam laporan terbaru, Fourth
Assessment Report, yang
dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB
yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90%
aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita
semakin panas.2Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida
beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir.
Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu
tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir!
IPCC juga menyimpulkan bahwa 90%
gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan
nitro oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan
suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan
gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri
peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di
atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi
sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Dampak Pada Lingkungan
Suhu
rata-rata planet untuk setiap tahun, selama dekade terakhir, telah menampilkan
di atas 25 suhu yang tinggi sepanjang masa. Bahkan, tahun 1998 dan 2005 adalah
tahun-tahun terpanas dalam sejarah Bumi. Planet ini semakin panas dari hari ke
hari, dan hanya karena perubahan yang terjadi secara bertahap kita tidak bisa
mengabaikan fakta bahwa kita rentan terhadap ancaman pemanasan global. Bahkan,
ungkapan tepat akan – ‘seluruh planet terancam oleh bahaya nya.
Dampak pada Hewan
Sejumlah besar spesies hewan
akan hilang dari planet ini, karena hilangnya habitat dipicu oleh pemanasan
global. Tidak ada keraguan bahwa banyak hewan akan menanggung beban perubahan
iklim dikaitkan dengan itu. Bahkan, itu dikhawatirkan bahwa cepat atau lambat
akan memicu kepunahan massal, dan sepertiga dari spesies hewan akan punah pada
tahun 2050.
Beruang Kutub: Beruang kutub tergantung pada es terbentuk di laut ketika berburu. Jika es mencair, kisaran beruang kutub akan berkurang untuk sebagian besar, dan ini kehilangan habitat pada gilirannya akan menyebabkan penurunan populasi beruang kutub.
Beruang Kutub: Beruang kutub tergantung pada es terbentuk di laut ketika berburu. Jika es mencair, kisaran beruang kutub akan berkurang untuk sebagian besar, dan ini kehilangan habitat pada gilirannya akan menyebabkan penurunan populasi beruang kutub.
Penguins: es laut lebur juga akan
mengakibatkan penurunan pertumbuhan alga, yang pada gilirannya akan
mengakibatkan penurunan organisme kecil, seperti udang krill, yang merupakan
bagian yang sangat penting dari makanan penguin. Dan dengan demikian,
kelangkaan pangan dan hilangnya habitat akhirnya akan mendorong penguin menuju
kepunahan.
Serigala Arktik: suhu hangat telah mendorong
rubah Arktik lebih jauh ke utara untuk mencari habitat dingin, tapi tingkat di
mana kita kehilangan daerah dingin, rubah Arktik terikat untuk kehilangan
pertempuran untuk bertahan hidup
dalam waktu dekat.
Ini adalah hanya beberapa dari hewan yang terancam oleh pemanasan global. Daftar panjang meliputi karibu, kupu-kupu, hewan hibernate, burung migran dan berbagai jenis ikan juga.
Ini adalah hanya beberapa dari hewan yang terancam oleh pemanasan global. Daftar panjang meliputi karibu, kupu-kupu, hewan hibernate, burung migran dan berbagai jenis ikan juga.
Hewan merupakan makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam
pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas
pegunungan. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang
terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.
Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub
mungkin juga akan musnah.
Dampak pada Tanaman
Karena perubahan
drastis dalam tingkat suhu, berbagai jenis tanaman telah mengalami kesulitan
dalam beradaptasi dengan daerah dimana ketika mereka berkembang. Musim
pertumbuhan beberapa spesies tanaman juga telah diubah, yang pada gilirannya
telah mengganggu siklus reproduksi spesies, sehingga memberikan pukulan drastis
pada populasi tanaman. Bahkan perubahan pola curah hujan dapat menyebabkan
dampak berbahaya pada berbagai jenis tanaman. Dampak pemanasan global pada
pertanian adalah contoh terbaik dari ini. Sering hujan akan menyebabkan banjir,
sedangkan kurang hujan akan mengakibatkan kekeringan, keduanya hanya akan
menyebabkan kerusakan lahan pertanian, misalnya keterlambatan musim tanam atau panen, kegagalan penanaman, atau
panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Sehingga akan terjadi
penurunan produksi pangan di Indonesia. Singkatnya, perubahan iklim akan
mempengaruhu ketahanan pangan nasional.
Bencana alam
lainnya, seperti badai, yang juga disebabkan karena pemanasan global, dapat
memiliki dampak buruk pada kehidupan tanaman. Selanjutnya kepunahan hewan juga
akan menyebabkan dampak negatif terhadap kehidupan tanaman, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Misalnya, kepunahan harimau akan mengakibatkan
peningkatan jumlah herbivora dan makan berlebihan oleh herbivora akan mengakibatkan
menipisnya cakupan hutan. Kepunahan burung akan mempengaruhi proses penyerbukan
dan menghambat reproduksi pada tumbuhan. Karena semua faktor ini, berbagai
spesies tanaman juga diharapkan menjadi punah pada akhir abad ini.
Orang mungkin
beranggapan bahwa bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari
sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat.
Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh,
mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih
lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi keringdi
beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang
megunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack
(kumpulan salju) musim dingin,yang berfungsi sebagai resrevoir alami, akan
mencair sebelum pujak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat
mengalami serangga-serangga dan penyakit yang lebih hebat.
Tumbuhan
akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru, habitat lamanya menjadi
hagat. Akan tetepi, pembagunan manusia
akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bemikrasi keutara atau
keselatan yang tehalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan
mati.
Beberapa
tahun terakhir ini, terjadi perubahan iklim dan telah di rasakan berbeda
dampak pada pertanian ketahanan pangan, kesehatan manuasia, dan
permukimaan, termasuk sumber daya air dan keaneka ragaman hayati .
Dalam
konteks Indonesia, petani memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Selain
karena kepemilikan lahan yang sangat kecil serta lemahnya akses terhadap
berbagai input pertanian serta kerterbatasan akses pada pasar dan pengelolahan
hasil pertanian, petani juga memiliki pengetahuan yang sangat minim tentang
strategi terhadap perubahan iklim global.
Dampak pada Cuaca
Peningkatan suhu
akan menyebabkan dampak yang merugikan pada cuaca juga. Bahkan perubahan kecil
dalam suhu global akan memicu serangkaian ekstremitas cuaca, dan mengubah pola
iklim di planet ini. Jumlah bencana alam telah meningkat selama jangka waktu
tertentu. Tiga dekade terakhir telah menyaksikan peningkatan jumlah kategori
badai 4 dan kategori 5. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC)
mengakui fakta bahwa frekuensi hujan lebat telah meningkat selama 50 tahun
terakhir. Di satu sisi, pemanasan laut akibat pemanasan global menimbulkan
badai ganas, sementara lebih dari suhu normal di darat menimbulkan gelombang
panas yang hebat. Suhu yang lebih tinggi menyebabkan penguapan lebih cepat dari
air dan menyebabkan kekeringan di satu bagian, dan membawa hujan deras dan
menyebabkan banjir di bagian lain dunia. Meskipun kita tidak dapat menyimpulkan
dampak serius dari pemanasan global terhadap cuaca dengan mempertimbangkan satu
tahun kekeringan tunggal atau badai menghancurkan tunggal, tren ini kejadian
alam berbicara dalam volume untuk diri mereka sendiri.
Para
ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari
belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari
daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan
daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara
tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak
akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang
ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam
akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam
hari akan cenderung untuk meningkat.
Dampak pada Glester
Salah satu dampak yang
lebih parah dari pemanasan global di Bumi adalah mencairnya es abadi dan
permanen menutupi di muka bumi. Ada beberapa ribu gletser tersebar di seluruh
dunia yang merupakan sumber penting air tawar. Pemantauan dari gletser ini,
oleh proyek-proyek seperti Global Ice Pengukuran Tanah dari angkasa (GLIMS),
telah mengungkapkan bahwa gletser ini menghilang pada tingkat yang
mengkhawatirkan. Hal ini dipandang sebagai salah satu faktor yang paling
menonjol untuk naiknya permukaan air laut. Gletser di bidang es Patagonia
Argentina telah surut 1,5 kilometer lebih dua dekade terakhir. Jumlah gletser
di Taman Nasional Gletser di Montana telah turun dari angka
perkiraan dari 150-50 dalam kurun waktu 150 tahun, dan diperkirakan akan turun
lebih jauh, akhirnya mengarah pada hilangnya semua gletser pada 2030.
Mencairnya gletser dapat memicu bencana alam yang parah, seperti banjir
bandang, di daerah sekitarnya. Lebih penting lagi, air meleleh mengalir ke
lautan sehingga menyebabkan permukaan laut naik, yang akhirnya mengarah pada
merendam daerah dataran rendah seperti Bangladesh dan Maladewa.
Mencairnya Es di Kutub: Pemanasan global berdampak langsung
pada terus mencairnya es di daerah Kutub Utara dan Kutub Selatan. Es di
Greenland yg telah mencair hampir mencapai 19 juta ton! Volume es di Artik pada
musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yg ada 4 tahun sebelumnya!
Baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi
ini. Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer
persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh.
Mencairnya gletser-gletser dunia mengancam
ketersediaan air bersih dan pada jangka panjang akan turut menyumbang
peningkatan level air laut dunia. Gletsergletser dunia saat ini mencair hingga
titik yg mengkhawatirkan! NASA mencatat bahwa sejak tahun 1960 hingga 2005
saja, jumlah gletser-gletser di berbagai belahan dunia yg hilang tidak kurang
dari 8.000 m3! Para ilmuwan NASA kini telah menyadari bahwa cairnya gletser,
cairnya es di kedua kutub bumi, meningkatnya temperature bumi secara global,
hingga meningkatnya level air laut merupakan bukti-bukti bahwa planet bumi
sedang terus memanas. Dan dipastikan bahwa umat manusialah yg bertanggung jawab
untuk hal ini.
Dampak pada Tingkat Laut
Salah satu yang
paling menyedihkan di antara berbagai dampak pemanasan global di bumi adalah
naiknya permukaan air laut, yang mengancam untuk mengganggu sampai di darat.
Jika permukaan air laut naik maka akan menghasilkan kuburan air ke beberapa
daerah dataran rendah, pulau-pulau kecil dan bagian reklamasi lahan. Jadi
bagaimana sebenarnya hal itu mempengaruhi permukaan air laut? Dasar-dasar studi
geografis menunjukkan bahwa air mengembang ketika dipanaskan. Dalam kasus ini,
suhu global meningkat yang menyebabkan badan air panas, memperluas dan dengan
demikian melanggar batas di darat. Alasan lain yang menonjol untuk kenaikan
permukaan laut yang mencair es dari gletser dan lapisan es kutub – yang sekali
lagi dipercepat oleh pemanasan global. Toko-toko es jauh besar daripada yang
kita bayangkan. Bahkan, mencairnya Barat Ice Sheet Antartika saja mungkin dapat
menyebabkan laut naik kekalahan 10 meter.
Menurut Panel
Antar pemerintah tentang Perubahan
Iklim (IPCC) permukaan air laut telah melihat peningkatan dari 6,7 inci pada
abad lalu, dan jika tingkat mengkhawatirkan pemanasan global terus berlanjut,
tingkat air laut akan naik hingga 22 inci pada tahun 2100. Ini akan berarti
bahwa pulau seperti Maladewa dan Tuvalu dan daerah dataran rendah seperti
Bangladesh akan pergi di bawah air, dan kota-kota penting seperti Mumbai,
Shanghai dan Florida akan menjadi rentan terhadap kuburan air seperti kota
legendaris Atlantis. Bahkan, Maladewa pulau tenggelam adalah contoh
terbaik dari kehancuran karena kenaikan permukaan air laut.
Kenaikan
temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan, sehingga mengakibatkan
terjadinya pemuaian massa air laut. Hal ini akan menurun produksi tambak ikan dan udang, serta terjadinya
pemutihan terambu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan.
Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil di
Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu memburuknya
kualitas air tanah, sebagai akibat masuknya atau merembesnya air laut, serta
infrastruktur perkotaan yang mengalami
kerusakan, sebagai akibat tegenang oleh air laut.
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan
menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan
laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar
Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh
dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para
ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada
abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah
pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda
, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing,
pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara
sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya
akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya,
sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari
daerah pantai.
Dampak pada Terumbu Karang
Dampak dari
pemanasan global terhadap terumbu karang yang menghancurkan ke mana-mana, bahwa
ekosistem besar terumbu ini akan pertama yang dihapus dari planet dalam waktu
dekat. Ketika air laut menjadi hangat, ganggang di lautan cenderung
menghasilkan senyawa oksigen beracun yang disebut superoksida yang merusak bagi
karang. Sebagai mekanisme pertahanan, karang mengeluarkan tumpangan alga
mereka, yang meninggalkan terumbu kelaparan untuk nutrisi dan warna berubah
menjadi putih. Proses ini disebut sebagai pemutihan. Pemanasan global mengancam
terumbu karang untuk sebagian besar, dan faktanya adalah bahwa jika terumbu
karang yang dihapus dari planet ini, itu akan mempengaruhi planet sepertiga
dari keanekaragaman hayati laut, serta ekosistem lainnya yang terkait dengan
terumbu karang secara langsung maupun tidak langsung.
Dampak pada Manusia
Beberapa
pola hidup manusia yang serakah dapat menyebabkan perubahan fisik dan kondisi
dunia, samapi saat ini mungkin kita bisa melihat betapa banyaknya gejala-gejala
alam yang terjadi seperti bajir, longsor, gunung meletus, gempa bumi, bahkan
tsunami. Kejadian-kejadian tersebut seharusnya menjadi kaca buat kita untuk
melihat dan membaca kenapa semua itu terjadi.
Ketika seluruh
lingkungan akan mengalami dampak pemanasan global, secara alami manusia tidak
akan menjadi pengecualian. Bahkan, kita akan menjadi makhluk yang terkena
dampak terburuk di planet karena langsung atau tidak langsung kita tergantung
pada semua komponen lingkungan yang dibahas di atas. Hewan dan tanaman terkait
satu sama lain, kepunahan baik akan memberikan tekanan besar pada lainnya,
akhirnya menyebabkan kepunahan. Manusia, pada gilirannya, tergantung dari
keduanya untuk berbagai tujuan, sehingga punahnya hewan atau tanaman juga akan
mempengaruhi manusia untuk sebagian besar. Cuaca yang tidak teratur akan
memiliki dampak yang parah pada beberapa aktivitas manusia. Musim panas yang
hangat akan berarti lebih banyak alergi dan bahkan lebih penyebaran penyakit
serangga. Curah hujan tidak alami akan menyebabkan kehancuran tanaman dan
menghambat pertanian. Meningkatnya suhu akan menyebabkan pemanasan tubuh laut,
yang pada gilirannya akan meningkatkan frekuensi badai.
Selain itu, penghancuran terumbu karang
akan menyebabkan hilangnya kehidupan laut termasuk ikan yang merupakan
konstituen penting dari makanan manusia. Daerah pesisir di seluruh dunia yang
sangat padat, sehingga setiap kenaikan permukaan air laut akan mengakibatkan
dampak yang berat pada orang-orang yang tinggal di daerah pesisir. Perkiraan
Ahli glasier bahwa jika mencairnya gletser pada tingkat sekarang terus
berlanjut, sekitar 20 persen dari Bangladesh akan mendapatkan terendam dalam
laut pada tahun 2020. Negara-negara seperti Maladewa, dengan titik tertinggi
dari 2,4 meter di atas permukaan laut rata-rata, akan mendapatkan terendam jika
tingkat air laut naik 3 meter. Hilangnya gletser akan menghambat pasokan air
bagi jutaan orang. Kenaikan permukaan laut akan mengubah garis pantai sehingga
mempengaruhi sektor pariwisata. di garam air dari lautan akan mengalir ke dasar
sungai sehingga air sungai tidak dapat digunakan.
Dan Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi
bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress
panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit
yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya,
akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya
terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di
daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat
menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya
juga dapat menyebar seperti malaria, demam dengue (demam berdarah), demam kuning,
dan encephalitis . Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara
yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora
mold dan serbuk sari.
Dampak Pada Ekonomi
Dampak
dari dampak pemanasan global di Bumi
juga akan terasa pada perekonomian berbagai negara. Yang paling terkena dampak
akan menjadi negara dengan pertanian yang dipimpin ekonomi. Fenomena ini akan
memicu serangkaian perubahan dalam kondisi cuaca yang akan mengambil tol pada
kegiatan pertanian dan bersekutu. Karena pola curah hujan yang tidak wajar,
gagal panen akan menjadi fenomena yang sangat umum. Ekonomi tergantung pada
pariwisata, seperti Maladewa, juga akan menanggung beban pemanasan global.
Ketika tingkat air naik semua daerah pesisir akan mendapatkan terendam
meninggalkan dunia tanpa semua pantai yang indah. Menimbang bahwa dunia telah
menjadi desa global, dampak domino juga akan terlihat pada negara-negara lain
dan yang lebih penting pada perekonomian dunia.
Tidak segala sesuatu
tentang pemanasan global akan buruk sekalipun. Iklim hangat akan berarti musim
tumbuh lebih lama dan karenanya peningkatan produksi. Di Amerika Serikat, itu
akan mencairkan kutub sepanjang Barat Laut Bagian yang akan menurunkan biaya
pengiriman. Masalahnya adalah bahwa dampak negatif yang jauh melebihi dampak
positif, dan dengan demikian seluruh dunia prihatin tentang masa depan – dan
mencoba untuk menemukan beberapa solusi untuk masalah ini. Penyebab alami
pemanasan global yang meliputi uap air dan gunung berapi berada di luar
jangkauan kita, tapi kita dapat memastikan bahwa buatan manusia penyebab
dikurangi. Jika kita tidak melakukan langkah yang diperlukan segera kita akan
menghadapi murka sekitar tahun waktu dekat.
Beberapa
hal harus dipertimbangkan sebelum kita benar-benar menentukan dampak pemanasan
global di planet kita. Skeptis berpendapat bahwa sebagian besar masalah ini
dibesar-besarkan. Menutup mata terhadap tanda-tanda kehancuran, mereka merasa
bahwa dampak perubahan iklim tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Tapi
kemudian, jika setetes 5 derajat selama periode yang cukup lama dapat memicu
zaman es, tidak akan naik sebesar 5 derajat memiliki dampak yang menghancurkan
di muka bumi?
Tidak
segala sesuatu tentang pemanasan global akan buruk sekalipun. Iklim hangat akan
berarti musim tumbuh lebih lama dan karenanya peningkatan produksi. Di Amerika
Serikat, itu akan mencairkan kutub sepanjang Barat Laut Bagian yang akan
menurunkan biaya pengiriman. Masalahnya adalah bahwa dampak negatif yang jauh
melebihi dampak positif, dan dengan demikian seluruh dunia prihatin tentang
masa depan – dan mencoba untuk menemukan beberapa solusi untuk masalah ini.
Penyebab alami pemanasan global yang meliputi uap air dan gunung berapi berada
di luar jangkauan kita, tapi kita dapat memastikan bahwa buatan manusia
penyebab dikurangi. Jika kita tidak melakukan langkah yang diperlukan segera
kita akan menghadapi murka sekitar tahun waktu dekat.
Beberapa hal harus dipertimbangkan
sebelum kita benar-benar menentukan dampak pemanasan global di planet kita.
Skeptis berpendapat bahwa sebagian besar masalah ini dibesar-besarkan. Menutup
mata terhadap tanda-tanda kehancuran, mereka merasa bahwa dampak perubahan
iklim tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Tapi kemudian, jika setetes 5
derajat selama periode yang cukup lama dapat memicu zaman es, tidak akan naik
sebesar 5 derajat memiliki dampak yang menghancurkan di muka bumi?
Para ilmuwan menggunakan
model komputer dari suhu, pola presipitas, dan sirkulita atmosfer untuk
mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tertentu, para ilmuan telah
membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global cuaca, tinggi
permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan
manusia.
Iklim
mulai tidak stabil
Iklim di dunia selalu berubah, baik menurut ruang maupun waktu. Perubahan
iklim dapat dibedakan berdasarkan wilayah (ruang), yaitu perubahan iklim secara lokal dan global.
Berdasarkan waktu, iklim dapat berubah
dalam bentuk siklus, baik harian, musiman, tahunan, maupun puluhan
tahun. Perubahan iklim adalah perubahan unsur-unsur iklim yang memiliki
kecenderungan naik atau turun secara nyata.
Perubahan iklim
global disebabkan oleh meningkatnya
konsentrasi gas di atmosfer. Hal ini terjadi sejak revolusi industri batu bara,
membangun sumber energi yang berasal dari batu bara, minyak Bumi, dan gas yang
membuang limbah gas di atmosfer seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen
oksida. Matahari meghasilkan radiasi panas yang di tangkap oleh atmosfer
sehingga udara di Bumi bersuhu nyaman bagi kehidupan manusia. Apabila atmosfer
dipenuhi gas, terjadilah efek selimut suhu Bumi naik menjadi panas. Semakin
banyak gas dilepas ke udara, semakin panas pula suhu Bumi.
Para Ilmuwan
memperkirakan bahwa selama pemanasan global daerah bagian utara dari belahan
bumi utara akan memanas lebih dari daerah – daeerah lain di bumi. Akibatnya,
gunung – gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan ebih sedikit es
yang terapung di perairan utara tersebut. Daerah – daerah yang sebelumnya
mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan
di daerah subtropis bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan
lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Suhu pada
musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih
banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuwan begitu yakin apakah
kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang
lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca,
sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan
tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak,
sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, dimana hal
ini akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan
curah hujan, secara rata-rata sekitar 1% untuk setiap °F pemanasan.( curah
hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar seratus tahun terakhir ini).
Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan
lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih
kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan
pola yang berbeda. Topan badai yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air,
akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa
periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak
terprediksi dan lebih ekstrem.
Perubahan iklim juga berdampak bagi tumbuhan dan hewan.
Hewan dan tanaman merupakan makhluk hidup yang sulit untuk menghindari dari
efek pemanasan global.
Perubahan
iklim yang sejalan dengan pemanasan global merupakan suatu permasalahan bersama
yang harus segera dicarikan solusinya. Masalah ini dapat kita kurangi dalam
kehidupan kita sehari-hari. Sebagai generasi penerus tentunya ini menjadi tugas
kita bersama. Kelangsunga idup dimasa
depan ditentukan oleh hari ini.
Lewat kesadaran
lingkungan, kita dapat memberikan kontribusi dengan cara sederhanan merek
masing-masing dalam menganggulangi masalah perubahan iklim.
Pengurangan peralatan berlistrik, pengurangan kendaraan bermotor menjadi
salah satu solusinya.
Perubahan ikim
mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada priode yang singkat serta musim
kemarau yang panjang. Dibeberapa tempat
terjadi peningkatan curah hujan sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir
dan tanah longsor, sementara ditempat lain terjadi penurunan curah hujan
berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai(DAS)
akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam. Hal ini
mengakibatkan kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan. Kondisi ini akan
semakin parah apabila daya tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara
akibat erosi.
Dampak perubahan iklim pada
peningkatan temperatur sebenarnya sudah ditengarai sejak tahun 1990-an. DFID
(Dapertement for International Development, badan dari pemerintah inggris yang
mengurusi bantuan pembagunan untuk negara-negara lain) da World Bank (2007)
melaporkan rata-rata ke-naikan suhu pertahun
sebesar 0.3 derajat celsius. Pada tahun 1998 terjadi kenaikan suhu yang
luar biasa mencapai 1 derajat celsius. Indonesia memprediksi akan mengalami
lebih banyak hujan dengan perubahan 2-3% per tahun.
Intentitas hujan akan
meningkat, namun jumlah hari hujan akan semakin pendek. Dampak yang nyata adala
meningkatnya resiko banjir. Secara umum, perubahan cuaca akan memicu kemarau
panjang dan penuruan kesuburan tanah. Hal ini akan mempengaruhi kelansungan
produksi pangan secara nasional. Pemanasan global juga mengandug resiko yang
besar akan kegagalan panen dan kematian hewan ternak.
Sebagaimana
disinyalir oleh DFID dan Work Bank (2007), indonesia nampaknya belum menyiapkan
secar komprehensif kebijakan dan strategi operasional untuk mengadaptasikan
diri terhadap perubahan iklim global. Padahal tindakan ini sangat mendesak
untuk berbagi aspek pembangunan, khususnya ketahanan pangan. Beberapa
rekomendasi dari World Bank Development Report (2008) antara lain : menanam
variasi yang memiliki daya adaptasi tinggi, mengubah masa tanam menyesuaikan
cuaca, mempraktekkan pertanian dengan masa tanam yang lebih singkat.
Dalam
konteks Indonesia, pertania memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Selain
karena kepemlikan lahan yang sangat kecil serta lemahnya akses tehadap berbagai
input pertanian serta keterbatasan akses pada pasar dan pengelolahan hasil
pertanian, petani juga memiliki pengetahuan dan “ know how“ yang sangat minim
tentang strategi adaptasi produksi pertanian terhadap perubahan iklim global.
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam
pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas
pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru
karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia
akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau
selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan
mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju
kutub mungkin juga akan musnah.
Peningkatan
Permukaan Laut
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah
dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat,
lapisan permukaan laut juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar
dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemansan juga akan mencairkan banyak es di
kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut.
Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm selama abad
keduapuluh, dan para ilmuwan di IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9-88
cm pada abad ke 21.
Perubahan tinggi
muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daeerah pantai. Kenaikan 100 cm
akan menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% Bangladesh, dan banyak pulau –
pulau.Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi
lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat
didaratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk
melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapt
melakukan evakuasi dari daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
ekosistem pantai. Kenaikan 50cm akan menennggelamkan separuh dari rawa-rawa
pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di
area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan
memutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
Kenaikan temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan, sehingga mengakibatkan
terjadinya pemuaian massa air laut. Hal ini akan menurun produksi tambak ikan dan udang, serta terjadinya
pemutihan terambu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan.
Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil di
Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu memburuknya
kualitas air tanah, sebagai akibat masuknya atau merembesnya air laut, serta
infrastruktur perkotaan yang mengalami
kerusakan, sebagai akibat tegenang oleh air laut.
Suhu
Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat akan
menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya
tidak sama di beberapa tempat. Bagian selatan Canada, sebagai contoh, akan
mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa
tanam. Dilain pihak, lahan pertanian tropis semi kering dibeberapa bagian
Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daeerha pertanian gurun yang menggunakan air
irigasi dari gunung- gunung yang jauh dapat menderita jika kumpulan salju musim
dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak
bulan – bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan
serangga.
Gangguan
Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit
menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai
manusia. Dalam Pemanasan Global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub
atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mecari
daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi,
pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang
bermigrasi ke utara atau Selatan yang terhalangi oleh kota- kota atau lahan-lahan
pertanian mung kin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara
cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
Perubahan
Cuaca dan Lautan
Dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang
beerhubungan dengan panas (Heat Stroke) dan kematian. Temperatur yang panas
juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan
malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut
akibatnya mencairnya es di Kutub Utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai, dan kebakaran) dan kematian
akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan
penduduk ke tempat –tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, sseperti:
diare, malnutrisi, defesiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit
dan lain-lain.
Pergeseran
Ekosistem
Dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air
maupun penyebaran penyakit melalui air (Waterbrne diseases) maupun penyebaran
penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). seperti meningkatnya kejadian
demam berdarah karena munculnya ruang (Ekosistem) baru untuk nyamuk ini
berkembangbiak. Dengan adanya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies
vektor penyakit (eq aedes aeqypi),
virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu
yang target nya adalah organisme tersebut.
Selain itu bisa
diprediksi bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi
ataupun punah dikarenakan perubaha ekosistem yang ekstrem ini. Hal ini juga
akan berdampak pada perubahan iklim
(climate change) yang berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu
seperti ISPA ( kemarau panjang/ hutan, DBD kaitan dengan musim hujan tidak
menentu).
Gradasi lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah
pada sungai juga disebabkan pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi
pada waterborne diseases dan vector-borne diseases. Ditambah pula dengan polusi
udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan
berkonribusI terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan.
Peristiwa-peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak pada
beberapa sektor sebagai berikut:
Kehutanan.
Terjadinya pergantian beberapa
spesies flora dan faunan. Kenaikan suhu akan menjadi faktor penyeleksi alam,
dimana spesies yang mampu beradaptasi akan bertahan dan, bahkan kemungkinan
akan berkembang biak dengan pesat. Sedangkan spesies yang tidak mampu
beradaptasi, akan mengalami kepunahan. Adanya kebakaran hutan yang terjadi
merupakan akibat dari peningkatan suhu di sekitar hutan, sehingga menyebabkan
rumput-rumput dan ranting yang mengering mudah terbakar. Selain itu, kebakaran
hutan menyebabnya punahnya
keanekaragaman hayati.
Perikanan. Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya
pemutihan terambu karang, dan selanjutnya matinya terambu karang, sebagai
habitat bagi berbagai jenis ikan. Suhu air laut yang meningkat juga memicu
terjadinya migran ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu secara
besar-besaran menuju ke daerah yang lebih dingin. Peristiwa matinya terambu
karang dan migrasi ikan, secara ekonomis, merugikan nelayan karena menurunkan
hasil tangkapan mereka.
Dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi:
1. Ganguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan
kota pantai.
2. Gangguan terhadap fungsi prasarana dan saran
seperti jaringan jalan, pelabuhan dan
bandara.
3. Gangguan terhadap permukiman penduduk,
4.
Pengurangan produktivitas lahn pertanian.
5. Peningkatan resiko kangker dan wabah penyakit
dan sebagainya.
ü Ancaman
produksi pangan.
Global
warming mempengaruhi pola presipitasi, evaporasi, water run of, kalembaban
tanah dan variasi klim yang sangat teluktuatif yang secara keseluruhan mengancam
keberhasilan produksi pangan. Kejian terkait dampak perubahan iklim pada bidang
pertanian oleh National Academy of Science/NAS (2007) menunjukan bahwa
pertanian Indonesia telah dipengaruhi secara nyata oleh adanya variasi hujan
tahunan dan antar tahun yang disebabkan oleh Austral-Asia Monsoon and El
Nino-Southern Oscilation (ENSO) .
Sebagaimana
dilaporkan oleh FAO (1996), kekeringan akibat kemarau panjang yang merupakan
efek El Nino pada tahun 1997 telah menyebabkan gagalnya produksi padi dalam skala
yang sangat besar besar yaitu mencangkup luasan 426.000 ha. Selain tanaman
padi, komoditas pertanaian non-pangan yang lain seperti kopi, coklat, karet dan
kelapa sawit juga mengalami penurunan produksi yang nyata akibat adannya
kemarau panjang. Suatu simuasi model yang dikembangkan oleh UK Meteorgical
Office sebagaimana dilaporkan DFID (2007) , memprediksi bahwa perubahan cuaca
akan menurunkan produksi pangan di Jawa Barat dan Jawa Timur akibat penurunan
kesuburan tanah sebesar 2-8%. Degradasi kesuburan lahan tersebut akan memicu
penurunan produksi padi 4% per ahun, kedele sebesar 10% serta produksi jagung
akan mengaklaimi penurunan luar basa sampai dengan 50%.
Menurut
laporan Rossane Skirble (2007), penurunan cuaca dan pemanasan global melebih
khusus seperti India dan Afrika akan mengalami peenurunan produksi pertanian
yang lebih tinggi lagi.
BAB
VI
Cara
Menanggulangi Pemanasan Global
Ada banyak cara yang harus diketahui untuk mengurangi emisi karbon
dioksida, yaitu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil; menggunakan energi
terbarukan seperti energi surya atau angin; mengurangi, menggunakan kembali,
dan mendaur ulang barang-barang keperluan sehari-hari; mengendarai mobil
berbahan bakar efisien atau yang menggunakan energi alternatif; menggunakan
alat-alat elektronik yang hemat energi, dan lain-lain. Namun
cara yang paling cepat untuk menghentikan pemanasan global adalah menjalani
diet vegetarian!
Dalam konferensi pers pada tanggal 15 Januari yang diselenggarakan oleh
Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), ketua IPCC - Dr. Pachuari
mengingatkan bahwa jika umat manusia tidak bertindak sekarang, maka perubahan
iklim akan berdampak serius. Ia juga dengan jelas mengatakan cara untuk
menghentikan perubahan iklim, yaitu dengan berhenti makan daging dan beralih ke
gaya hidup yang lebih hijau.
Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan lingkungan
yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, "Sektor peternakan
adalah satu dari dua atau tiga penyumbang terbesar bagi krisis lingkungan yang
paling serius dalam setiap skala, mulai dari lokal hingga global." Hampir
seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini
melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!
Ada
dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas
tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon
sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah
kaca.
Cara yang
paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan
reboisasi yang dapat mengantisipasi global warming. Pohon, terutama yang muda
dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak,
memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh
dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di
banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan
kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan
pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini
adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin
bertambahnya gas rumah kaca.
Gas
karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan
menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong
agar minyak bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan untuk
mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara
atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas
pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas
alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali
ke permukaan.
Salah
satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil.
Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada
abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk
kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad
ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi.
Perubahan trend penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak
langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena
gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak
apalagi bila dibandingkan dengan batubara.
Walaupun
demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi
pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial
karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya. Untuk kendaraan
bermotor, perlu digunakan alat penyaring khusus gas buangan pada bagian knalpot
(tempat keluar gas buangan) yang dapatmenetralisirdan mengurangi dampak negatif
gas buangan tersebut. Bisa juga dengan mengganti bahan bakar dengan bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan, seperti tenaga surya (matahari) atau
biodisel. Perlu dikeluarkan regulasi tentang usia kendraan bermotor yang boleh
beroperasi agar tidak menimbulkan pencemaran.
Untuk
skala industri, perlu dibuat sistem pembuangan dan daur ulang gas buangan yang
baik. Saluran buangan perlu diperhatikan, kearah mana akan dibuang dan haruslah
memperhatikan lingkungan sekitar. Reboisasi lahan yang gundul merupakan salah
satu langkah untuk menahan laju karbondioksida yang berlebih diudara. Termasuk
penanaman pohon-pohon disepanjang jalan raya yang d apat menetralisir pencemaran udara disepanjang jalan
raya.Tetapi tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
Selain
itu diperlukan juga adanya pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan,
pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini
biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan
biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan
atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya
alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif
dengan metode dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.
Selain
itu perlu diadakan kerja sama internasional untuk mensukseskan pengurangan
gas-gas rumah kaca. Apabila pada suatu negara diterapkan peraturan kebijakan
lingkungan yang ketat, maka ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai
macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida
terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar
yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi
tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon
dioksida. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang serius, konsisten, dan
kontinyu agar masalah kerusakan lingkungan ini dapat diatasi atau
diminimalisir.
BAB VII
Manfaat Efek Rumah Kaca Bagi Kehidupan di Bumi
Bumi Tanpa Efek Rumah Kaca
Apa yang akan terjadi bila bumi kita
tanpa efek rumah kaca, maka bumi akan seperti planet Mars. Mars tidak memiliki
atmosfer yang cukup tebal untuk mempertahankan panas matahari, di sana sangat
dingin. Sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan.
Efek Rumah Kaca untuk Kehidupan di Bumi
Green
house effect atau lebih kita kenal dengan sebutan efek rumah kaca adalah sebuah
kondisi di mana suhu dari sebuah benda permukaan langit, seperti planet dan
bintang, meningkat secara drastis. Meningkatnya suhu ini disebabkan karena
adanya perubahan kondisi dari komposisi serta keadaan atmosfir yang
mengelilingi benda langit tersebut.
Sebenarnya,
penggunaan istilah efek rumah kaca diadopsi dari petani di negara Eropa dan
Amerika, karena mekanisme pemanasan bumi ini sama seperti yang terjadi di rumah
kaca yang digunakan untuk perkebunan di negara tersebut. Biasanya para petani
menggunakan rumah kaca di musim dingin. Tanaman yang ditanam di dalam rumah
kaca akan tetap hidup dan tidak mati membeku, oleh pengaruh musim dingin.
Karena kaca akan menghalangi suhu yang masuk dan memantulkan kembali keluar.
Ini menyebabkan seringnya terjadi kesalah pahaman. bahwa efek rumah kaca
disebabkan oleh banyaknya rumah berdinding kaca.
Yang
terjadi pada bumi adalah, ketika cahaya matahari mengenai atmosfer serta
permukaan bumi, sekitar 70 persen dari energi tersebut tetap tinggal di bumi,
diserap oleh tanah, tumbuhan, lautan dan benda lainnya. Tiga puluh persen
sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif
lainnya. Tetapi panas 70 persen itu, tidak selamanya berada di bumi.
Benda-benda di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali
meradiasikan kembali panas yang diserapnya.
Sebagian
panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan
kembali ke bawah permukaan bumi, ketika mengenai zat yang berada di atmosfer.
Seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat
permukaan bumi tetap hangat daripada di luar angkasa, karena energi lebih
banyak yang terserap dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali.
Jadi,
jika bumi tidak memiliki gas rumah kaca, maka suhu di bumi akan terlalu dingin
untuk kehidupan makhluk di dalamnya. Sebagai contoh, planet Mars tidak memiliki
gas rumah kaca, sehingga suhu di sana berada di sekitar -30°C. Jika suhu yang
sama terjadi di bumi, tentu saja tidak ada makhluk hidup dapat hidup di bumi. Tidak menjadi masalah seadainya
konsentrasi gas-gas rumah kaca berada dalam keadaan konstan, tidak terjadi
lonjakan drastis seperti sekarang ini. Meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah
kaca diakibatkan berbagai aktivitas manusia yang memicu pancaran gas tersebut
ke atmosfir. Dengan adanya pancaran gas ini, maka konsentrasinya di lapisan
atmosfir bumi akan semakin tinggi. Kondisi ini akan mengakibatkan sinar
matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi akan sulit lewat dan menjadi
terperangkap di permukaan bumi. Pengaruh
masing-masing gas rumah kaca terhadap terjadinya efek rumah kaca bergantung
pada besarnya kadar gas rumah kaca di atmosfer, waktu tinggal di atmosfer dan
kemampuan penyerapan energi. Peningkatan kadar gas rumah kaca akan meningkatkan
efek rumah kaca yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Adapun
gas-gas yang terdapat dalam rumah kaca, adalah sebagai berikut:
CO2 (Karbon Dioksida)
CO2
adalah gas rumah kaca terpenting penyebab pemanasan global yang sedang ditimbun
di atmosfer karena kegiatan manusia. Sumbangan utama manusia terhadap jumlah
karbon dioksida dalam atmosfer berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu
minyak bumi, batu bara, dan gas bumi.
Pembukaan
lahan baru pertanian dan penggundulan hutan juga meningkatkan jumlah karbon
dioksida dalam atmosfer. Namun selain efek rumah kaca, CO2 juga memainkan
peranan sangat penting untuk kehidupan tanaman. Karbon dioksida diserap oleh
tanaman dengan bantuan sinar matahari dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman
dalam proses yang dikenal sebagai fotosintesis. Proses yang sama terjadi di
lautan di mana karbon dioksida diserap oleh ganggang.
Dampak
dari meningkatnya CO2 di atmosfer antara lain: meningkatnya suhu permukaan
bumi, naiknya permukaan air laut, anomali iklim, timbulnya berbagai penyakit
pada manusia dan hewan (Astin,2008).
Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju peningkatan emisi CO2 di atmosfer.
H2O (Uap Air)
Uap
air merupakan penyumbang terbesar bagi efek rumah kaca. Uap air tidak terlihat
dan harus dibedakan dari awan dan kabut yang terjadi ketika uap membentuk
butir-butir air. Jumlah uap air dalam atmosfer berada di luar kendali manusia
dan dipengaruhi terutama oleh suhu global. Jika bumi menjadi lebih hangat,
jumlah uap air di atmosfer akan meningkat karena naiknya laju penguapan. Ini
akan meningkatkan efek rumah kaca dan pemicu naiknya pemanasan global.
CH4 (Metana)
Metana
dihasilkan ketika jenis-jenis mikroorganisme tertentu menguraikan bahan organik
pada kondisi tanpa udara (anaerob). Gas ini juga dihasilkan secara alami pada
saat pembusukan biomassa di rawa-rawa sehingga disebut juga gas rawa. Metana mudah
terbakar, dan menghasilkan karbon dioksida sebagai hasil sampingan. Kegiatan
manusia telah meningkatkan jumlah metana yang dilepaskan ke atmosfer. Sawah
merupakan kondisi ideal bagi pembentukannya, di mana tangkai padi nampaknya
bertindak sebagai saluran metana ke atmosfer. Meningkatnya jumlah ternak sapi,
kerbau dan sejenisnya merupakan sumber lain yang berarti, karena metana
dihasilkan dalam perut mereka dan dikeluarkan ketika mereka bersendawa dan
kentut. Metana juga dihasilkan dalam jumlah cukup banyak di tempat pembuangan
sampah, sehingga menguntungkan bila mengumpulkan metana sebagai bahan bakar
bagi ketel uap untuk menghasilkan energi listrik. Metana merupakan unsur utama
dari gas bumi. Gas ini terdapat dalam jumlah besar pada sumur minyak bumi atau
gas bumi.
CFC (Chloro Flouro Carbon)
Chloro fluoro carbon adalah sekelompok gas buatan. CFC mempunyai sifat
tidak mudah terbakar dan tidak beracun. CFC amat stabil sehingga dapat
digunakan dalam berbagai peralatan. Mulai digunakan secara luas setelah Perang
Dunia II. Chloro fluoro carbon yang paling banyak digunakan mempunyai nama
dagang Freon. Dua jenis chlorofluorocarbon yang umum digunakan adalah CFC R-11
dan CFC R-12. Zat-zat tersebut digunakan dalam proses mengembangkan busa, di
dalam peralatan pendingin ruangan dan lemari es selain juga sebagai pelarut
untuk membersihkan mikrochip.CFC menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali
dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena
CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.
O3 (Ozon)
Ozon
terdapat secara alami di atmosfer (troposfer, stratosfer). Di troposfer, ozon
merupakan zat pencemar hasil sampingan yang terbentuk ketika sinar matahari
bereaksi dengan gas buang kendaraan bermotor. Ozon pada troposfer dapat
mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ternyata, tanpa kita sadari, begitu
banyak pemicu terjadinya efek rumah kaca. Maka mari kita jaga bumi ini, demi
anak cucu kelak.
Pengaruh Efek Rumah Kaca Terhadap Pertumbuhan dan Produktifitas
Tanaman.
Iklim
dan cuaca merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas
tanaman pangan. Sistem produksi pertanian dunia saat ini mendasarkan pada
kebutuhan akan tanaman setahun, kecuali beberapa tanaman seperti pisang, kelapa,
buah-buahan, anggur, kacang-kacangan, beberapa sayuran seperti asparagus,
rhubarb, dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dikembangbiakan dalam kondisi
pertanaman tertentu.
Produktifitas
pertanian berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun. Perubahan drastis
cuaca, lebih berpengaruh terhadap pertanian dibanding perubahan rata-rata.
Tanaman dan ternak sangat peka terhadap perubahan cuaca yang sifatnya sementara
dan drastis. Perbedaan cuaca antar tahun lebih berpengaruh dibanding dengan
perubahan iklim yang diproyeksikan. Dan tak terdapat bukti bahwa perubahan
iklim akan mempengaruhi perubahan cuaca tahunan.
Petani
selalu berhadapan dengan perubahan iklim. Besaran perbedaan antar tahun telah
melampaui prakiraan perubahan iklim. Fluktuasi iklim tahunan, dalam beberapa
urutan besaran lebih tinggi dibanding dengan besar prediksi perubahan
pelan-pelan iklim yang diajukan para ahli ekologi. Hal ini digambarkan pada
Musim panas daerah pertanian Jagung Amerika serikat, antara tahun 1988 (kering
dan panas) dan 1992 (basah dan dingin). Suhu selama Juli dan Agustus berbeda
80F dalam dua tahun dibeberapa negara bagian. Hal paling kritis yang belum
diketahui adalah pola frekuensi kemarau. Kemarau terjadi dibeberapa tempat
didunia setiap tahun. Kemarau tahunan juga lumrah terjadi di area pertanian
India, China, Rusia dan beberapa negara Afrika.
Pengaruh Iklim
terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman
Variabel
menonjol yang diperkirakan akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
produktivitas tanaman pangan akibat terjadinya peningkatan kadar CO2 adalah
bumi yang memanas. Berdasarkan pengamatan obyektif di lapangan, diperkirakan
akan lebih rendah dibanding permodelan iklim yang lemah dan kasar menggunakan
komputer. Berdasarkan permodelan komputer, muka bumi rata-rata akan memanas
sebesar 1,5-4,5OC jika kadar CO2 meningkat duakali. Secara keseluruhan iklim
akan memanas 3 kali 1,5OC pada akhir abad nanti, dan pemanasaan terbesar
terjadi dikutub, dan lebih rendah dikhatulistiwa.
Kedua,
kenaikan suhu dapat diperkirakan dan akan berpengaruh terhadap pola hujan.
Untuk kebanyakan tanaman pangan dan serat dan beberapa spesies lain perubahan
dalam ketersediaan air memiliki akibat yang lebih besar dibanding kenaikan
suhu. Permodelan iklim secara regional telah dimodelkan dalam tingkat yang
lebih kurang meyakinkan dibanding model untuk iklim global.
Perubahan
yang diperkirakan, jika terjadi dalam pola hujan dan suhu dengan kadar CO2 yang
tinggi akan menguntungkan produksi tanaman pangan beririgasi. Pertambahan areal
pertanian beririgasi di Amerika terjadi di delta misisipi dan dataran utara.
Hal serupa terjadi di India, China dan Rusia bagian selatan. Di USA, area tanam
jagung dan gandum musim dingin akan bergeser ke utara dan akan digantikan
sorgum dan padi-padian.
Ketiga,
pemanasan global mempengaruhi variabel yang berpengaruh terhadap produktifitas
pertanian. Hal ini akan sangat penting bagi pertanian yang terkait zona suhu,
baik bagi pertambahan maupun intensitas masa tanam atau satuan tingkat
pertumbuhan. Perhatian petani akan tertuju pada perbedaan musiman dan antar
tahun pada curah hujan, salju, lama musim tanam, dan beda suhu dalam
hari-hari yang berpengaruh pada tahap pertumbuhan. Stabilitas dan keandalan
produksi adalah sama pentingnya dengan besaran jumlah produksi itu sendiri.
Keprihatinan
akan perubahan iklim dimasa depan dan perubahan yang lebih besar lagi akan
diimbangi dengan penelitian mengenai manfaat peningkatan CO2 bagi fotosintesis
dan berkurangnya kebutuhan tanaman akan air, dan tetap meningkatnya hasil.
Selama 70 tahuan, perubahan cuaca, mencerminkan bahwa hasil tanam di USA,
Rusia, India, China, Argentina, Canada dan Australia, memungkinkan negara
dengan cuaca baik dapat menjaga keamanan pangan negara dari cuaca yang buruk.
Kekeringan secara menyeluruh di dunia hampir tak pernah terjadi saat ini.
Walau
ada kepastian bahwa pertanian dunia dapat mengantisipasi perubahan iklim,
perubahan itu akan menambah masalah yang harus ditangani dalam dasa warsa
kedepan. Masalah lain adalah Kelangkaan air dan kualitas air, tanah yang
menjadi gersang, pengadaan energi dari bahan bakar fosil serta kelangsungan
praktek pertanian yang sekarang ada. Beberapa praktek yang membahayakan
kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan harus diubah bersamaan dengan
tingkat produksi yang aman dan dapat diandalkan juga harus terus ditingkatkan.
Prakiraan terjadinya perubahan iklim membuat penelitian pertanian yang
komprehensif menjadi sangat penting dalam menghadapi perubahan itu secara
efektif.
Penelitian
mengenai perubahan iklim, akan melengkapi usaha peningkatan produktivitas
tanaman, yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, yang kini tengah dilakukan
melalui rekayasa genetik, perlakuan kimiawi dan pola pengolahan. Ini akan
memberi dua manfaat sekaligus, baik sebagai pelindung mengahadapi perubahan
jangka pendek lingkungan, seperti kemarau dan juga membantu menghadapi
perubahan iklim dalam jangka panjang, dan untuk mengkapitalisasi sumberdaya
hayati bagi peningkatan produksi.
Pandangan
yang berbeda mengenai pemanasan global yang memiliki bobot ilmiah yang baik
muncul, mendukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sekarang telah
disimpulkan oleh beberapa ilmuwan bahwa model prakiraan iklim yang dibuat
merupakan penyederhanaan yang sangat simplistis dari proses atmosfir dan lautan
yang sangat kompleks. Dan tak dapat dibuktikan bahwa pengeluaran gas rumah kaca
akan berpengaruh signifikan terhadap iklim dunia, sebab-sebab pemanasan global
juga lebih tidak dapat lagi dipastikan.
Pengaruh Biologis Langsung:
Pertumbuhan Tanaman dalam rumah Kaca
Penelitian
mengenai manfaat pengayaan CO2 dimulai abad lalu. Awal 1888, manfaat pemupukan
dengan CO2 telah dilakukan pada tanaman di dalam rumah kaca di Jerman, dan
beberapa tahun kemudian di Inggris, serta 80 tahun yang lalu di USA. Hasil yang
menguntungkan pertama kali dilaporkan terjadi pada tanaman pangan seperti
letuce, tomat, mentimun, dan kemudian bunga dan tanaman hias.
Banyak
catatan dan pernyataan yang disusun mengenai pertumbuhan tanaman yang berada
dalam lingkungan yang dikontrol dan diberi pengayaan CO2. Wittwer dan Robb
membuat catatan menyeluruh mengenai data-data sebelumnya dan ditambah hasil
penelitiannya sendiri bahwa tanaman tomat mencapai usia dewasa dan hasil
produksi yang menguntungkan dalam rumah kaca yang diperkaya CO2. Sementara
Strain dan Cure menyusun Bibliographi literature mengenai pengayaan CO2 dan
efeknya terhadap lingkungan dan tanaman yang lengkap. Kimball dkk. pada tahun
1983, 1985 dan 1996 mengumpulkan 770 penelitian mengenai hasil tanaman dalam
rumah kaca dengan pengayaan CO2, dan terbukti hasil tanaman tersebut meningkat
32%.
Pada
tahun 1982 diselenggarakan Konferensi Internasional yang bertujuan
mengidentifikasi makalah yang terkait dengan pengaruh biologis langsung dari
pengaruh peningkatan CO2 pada produktifitas tanaman, sebagai sesuatu yang tak
terpisahkan dengan efisiensi photositensis, efisiensi penggunaan air,
Penyerapan Nitrogen biologis terkait dengan sumberdaya iklim seperti cahaya,
suhu dan kelembaban. Fokus makalah ini dibuat dengan mengacu kepada tindak
konferensi tersebut. Dokumentasi yang lebih lengkap mengenai efek langsung CO2
terhadap produkstifitas tanaman diterbitkan Departemen Energi USA pada Tahun
1985-1987 secara berseri, makalah Wittwer tahun 1985 dan 1992. Itu semua
dilengkapi oleh materi yang diedit oleh Enoch dan Kimball pada 1968 mengenai
Pengayaan Karbondioksida Pada Tanaman Rumah Kaca meliputi status dan sumber
CO2, physiologi, hasil daan ekonomi. Juga telah dilakukan riset selama 35 tahun
oleh sebuah grup dalam Komisi Tanaman Terlindung pada International Society for
Holticultural Science, yang membuktikan bahwa pengayaan CO2 menambah hasil
sebesar 12-13 %, dibanding pada kadar atmosfir biasa sebesar 335 ppm. Pengaruh paling mencolok dari
pengayaan tersebut dalah efisiensi fotosintesis dan Penggunaan Air yang lebih
efisien.
Efisiensi Fotosintesis
Hanya
sedikit keraguan bahwa kadar CO2 dalam atmosfir adalah kurang optimal bagi
fototosintesis ketika faktor lain yang berpengaruh terhadap tanaman (cahaya,
air, suhu dan unsur hara) mencukupi. Fotosintesa Netto adalah jumlah
fotosintesa brutto minus fotorespirasi, dan fotorespirasi setidaknya memiliki
besaran mengubah 50% karbohidrat hasil fotosintesa kembali menjadi CO2, dengan
peningkatan CO2 fotorespirasi diperkirakan akan menurun. Peningkatan Biomassa
terbukti terjadi ketika dilakukan pengayaan CO2. Ini tak selalu muncul dari
fotosintesa netto. Kadar CO2 yang tinggi memicu penggunaan air yang efisian
dalam tanaman C4 seperti jagung. Peningkatan efisiensi air ini merangsang pertumbuhan
tanaman.
Dampak
langsung yang dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah peningkatan tingkat
fotosintesa daun dan kanopi. Peningkatan fotosintesis akan meningkat sampai
kadar CO2 mendekati 1000 ppm. Hasil paling pasti adalah tanaman tumbuh cepat dan
lebih besar. Ada perbedaan antara spesies. Spesies C3 lebih peka terhadap
peningkatan kadar CO2 dibanding C4. Terjadi juga pertambahan luas dan tebal
daun, berat per luas, tinggi tunas, percabangan, bibit dan jumlah dan berat
buah. Ukuran Tubuh meningkat seiring rasio akar-batang. Rasio C:N bertambah.
Lebih dari itu semua hasil panen meningkat. Terutama pada Kentang, Ubi Jalar,
Kedelai. Dengan meningkatnya kadar CO2 menjadi dua kali sekarang secara global,
hasil pertanian diperkirakan akan meningkat sampai 32% dari sekarang.
Perkiraan sementara saat ini sekitar 5%-10% dari kenaikan produksi pertanian
adalah akibat kenaikan kadar CO2. Manfaat pengayaan CO2 terhadap pertumbuhan
dan produktifitas tanaman saat ini telah dikenal telah dikenal luas. Banyak pengujian
yang dilakukan dalam lingkungan terkontrol secara penuh atau sebagian, terhadap
beberapa tanaman komersial (padi, Jagung, gandum, kedelai, kapas, kentang,
tomat, ubi jalar, dan beberapa tanaman hutan), yang membuktikannya.
Efisiensi Penggunaan Air
Kebutuhan
utama tanaman yang lainnya adalah air, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Air kini telah menjadi permasalahan penting bagi lima negara dengan jumlah
penduduk terbesar di dunia (China, India, USA, Sovyet, Indonesia). Juga tentu
dinegara-negara temur tengah, afrika utara dan sub sahara. Satu faktor penting
yang berpengaruh terhadap produksi tanaman namun masih merupakan misteri adalah
pola musim kering yang terjadi. Kekeringan adalah hal yang paling ditakuti oleh
para petani diberbagai negara produsen pangan. Kebutuhan akan air menjadi
semakin penting dan kritis, di USA, 80–85 % konsumsi air bersih adalah untuk
pertanian. Sepertiga persediaan tanaman pangan sekarang tumbuh padi 18% lahan
beririgasi.
Aspek penting dari peningkatan kadar
CO2 dalam atmosfir adalah kecenderungan tanaman untuk menutup sebagian dari
stomata pada daunnya. Dengan tertutupnya stomata ini penguapan air akan menjadi
perkurang, dan dengan itu berarti efisiensi penggunaan air meningkat.
Kekurangan air adalah faktor pembatas utama dari produktifitas tanaman. Bukti
yang selama ini dikumpulkan menunjukan bahwa peningkatan CO2 di atmosfir
meningkatkan efisiensi penggunaan air. Hal ini adalah penemuan yang penting
bagi bidang pertanian dan juga bagi ekologi. Implikasi dari hal itu bermacam-macam,
salah satunya adalah peningkatan daya tahan terhadap kekeringan dan
berkurangnya kebutuhan air untuk pertanian.
Efek langsung dari kadar CO2 dalam
atmosfir terhadap fotosintesis tanaman C4 adalah meningkatkan efisiensi air
dalam fotosintesa. Dan pada tanaman C4 dan C3 mengurangi membukanya stomata,
hal ini ditunjukan oleh Roger et al. pada tanaman kedelai. Tanaman dengan cara
fotosintesa C3 mendapat keuntungan dengan 3 cara. Pertama meluasnya ukuran
daun, kedua peningkatan tingkat fotosintesis perunit luas daun, dan terakhir
efisiensi penggunaan air.
Produksi Tanaman Pangan Beririgasi
Perubahan
yang telah diperkirakan mengenai penguapan dan suhu akibat efek rumah kaca dan pemanasan global sepertinya akan
menguntungkan lahan pertanian beririgasi. Di USA,
luas areal pertanian beririgasi akan meluas sampai dataran utara dan delta
Missisipi, hal ini juga berlaku untuk Cina, India dan negara lain. Dimana
lingkungan lebih lembab dan diperuntukkan untuk tanaman biji-bijian dan
kacang-kacangan. Kecenderungan ini telah terjadi di USA, China, dan India.
Jagung dan Gandum kini bergeser mendekati daerah yang dingin dan lebih lembab.
Produksi Sorgum dan padi-padian akan menggeser posisi areal gandum dan jagung
tersebut. Diharapkan juga, dimasa mendatang model dari atmosfir dan iklim akan
lebih berkembang dan melengakapi dari apa yang sekarang telah dikembangkan,
sehingga sensitivitas tanaman terhadap perubahan iklim lebih dapat diketahui.
Pertumbuhan
dan Produkstifitas Tanaman:
Kemampuan
Adaptasi terhadap Suberdaya Iklim di Bumi
Banyak
tanaman pangan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di bumi padi, ubi kayu, ubi jalar dan jagung dapat tumbuh dimana
saja kelembaban dan suhu sesuai. Jagung mampu tumbuh di areal yang beraneka
ragam kelembaban, suhu, dan ketinggian dibumi ini. Areal produksinya di USA
telah meluas ke utara sampai 800 km selam lima puluh tahun ini. Kedelai dan
Kacang tanah dapat tumbuh di daerah tropik sampai lintang 450 LU dan 400 LS.
Gandum musim dingin yang lebih produktif dari gandum musim semi areal tanamnya
telah meluas keutara sejauh 360 km. Ditambah dengan kemampuan rekayasa genetik
yang kita miliki perluasan areal tanam akan semakin mungkin dan cepat
terealisasi.
Diperkirakan
penggandaan kadar CO2 akan meningkatkan produktivitas tanaman di Amerika Utara,
hal serupa juga terjadi di Sovyet, Eropa dan propinsi bagian utara China.
Tanaman hortikultura dapat berkembang bebearapa musim diseluruh negara bagian
USA. Tanaman seperti Tebu dan Kapas semakin meluas areal tanamnya dengan
dimanfaatkannya mulsa dan pelindung plastik. Pemanasan global akan lebih
menguntungkan dibanding dengan kembalinya era es sebagaimana diprediksi
beberapa dekade yang lalu. Terlebih dimana produksi tanaman pangan terpusat di
Lintang 300 LU sampai 500 LS.
Perubahan
iklim secara drastis dan ekstrem sebagaimana yang selama ini dipublikasikan
adalah hal yang sangat berlebihan. Pemanasan secara perlahan mungkin
menguntungkan, karena memungkinkan penanaman tumbuhan tropis seperti mangga,
pepaya, nanas dan pisang , dinegara bagian selatan USA.
Prakiraan
Regional:
Pola Iklim dan Respons Tanaman
Sejak
1850, kadar CO2
dalam atmosfir telah meningkat sebesar 25% akibat pembakaran bahan bakar fosil
dan penggundulan hutan tak ada yang menentangnya. Kadar gas rumah kaca selain
CO2
juga telah meningkat melebih prosentase CO2 dan dengan efek pemanas yang setara
CO2.
Namun terdapat kontrovesi mengenai kapan pemanasan global pertama kali muncul,
juga terdapat kontroversi mengenai besaran perubahan suhu yang terjadi, jika
terjadi pada masa yang akan datang. Perkiraan yang ada berkisar antara minus
1,50C sampai 60C. Prakiraan iklim dan cuaca regional dengan sebaran variabel
seperti awan, kelembaban, dan angin lebih tidak pasti lagi.
Efek
langsung dari meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan, sebagaimana dibahas
diatas, namun bila terjadi kekeringan sebagaimana ramalan hasil permodelan
iklim yang sekarang, hasil pertanian tak dapat dipastikan. Namun secara garis
besar dampak yang terjadi masih dapat kita kendalikan. Tindakan dari petani,
ilmuwan dan kebijkan pemerintah lebih diperlukan dibandingkan dengan perubahan
pola hidup kita.
Perkiraan pengaruh CO2 terhadap iklim menimbulkan banyak
spekulasi, dan beberapa riset telah dimulai untuk meneliti dampaknya terhadap
hubungan hama dan tanaman dan strategi perlindungan tanaman. Gulma, Serangga,
nematoda dan wabah berdampak sangat merugikan bagi pertanian. Perubahan
Iklim yang mungkin akan berdampak pada hubungan tumbuhan – hasil panen – hama, dan
ekosistem lain. Peningkatan kandungan karbohidrat dan akumulasi nitrogen akan
berpengaruh terhadap pola makan serangga, ini telah ditunjukan dalam beberapa
eksperimen. Pengendalian hama memasuki era baru, dengan pengintegrasian
penanganan hama.
BAB VIII
Hubungan Pemanasan Global dengan
Efek Rumah Kaca
Bumi ini sebetulnya secara alami menjadi panas karena
radiasi panas matahari yang masuk ke atmosfer. Panas ini sebagian diserap oleh
permukaan Bumi lalu dipantulkan kembali ke angkasa. Karena ada gas rumah kaca
di atmosfer, di antaranya karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitro oksida
(N2O), sebagian panas tetap ada di atmosfer sehingga Bumi menjadi hangat pada
suhu yang tepat (60ºF/16ºC) bagi hewan, tanaman, dan manusia untuk bisa
bertahan hidup. Mekanisme inilah yang disebut efek gas rumah kaca. Tanpa efek
gas rumah kaca, suhu rata-rata di dunia bisa menjadi -18ºC. Sayangnya, karena
sekarang ini terlalu banyak gas rumah kaca di atmosfer, terlalu banyak panas
yang ditangkapnya. Akibatnya, Bumi menjadi semakin panas.
Pemanasan global akibat adanya meningkatnya gas-gas
rumah kaca yang menyebabkan efek rumah kaca yang berlebihan pada atmosfer bumi
diyakini merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim global secara
ekstrem ini.
Istilah Efek rumah kaca itu sendiri diusulkan
pengunaan namanya pertama kali oleh Joseph Fourier pada 1824, yang memiliki
arti proses pemanasan permukaan suatu benda langit terutama planet atau satelit
yang memiliki atmosfer yang disebabkan oleh tergangunya komposisi gas-gas rumah
kaca pada atmosfernya. Komposisi gas-gas rumah kaca pada atmosfer Bumi terdiri
atas CO2 (Karbon dioksida), N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbos), SF6
(Sulphur hexafluoride), PFCs (Perfluorocarbons), SO2 (sulfur dioksida), NO
(nitrogen monoksida), (NO2) nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa
senyawa organik seperti gas CH4 (Metan) dan (CFC) khloro fluoro karbon.
Gas-gas tersebut dihasilkan lewat proses alami di Bumi
ataupun merupakan hasil sampingan dari aktivitas manusia saat memenuhi
kebutuhan hidup. Gas yang dihasilkan oleh letusan gunung berapi, kebakaran
hutan, rawa-rawa, proses photosintesa, proses pembusukan hingga proses
bernafaspun merupakan sumber Gas Rumah Kaca alami. Sedangkan sisa pembakaran
hasil industri, pembakaran bahan bakar fosil, emisi gas buang kendaraan
bermotor adalah sumber Gas Rumah Kaca akibat dari aktivitas manusia.
Meningkatnya Gas Rumah Kaca dimulai sejak abad 18 saat manusia menemukan
teknologi industri yang banyak menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak
bumi, gas maupun batubara untuk menghasilkan energi dan menyisakan gas-gas
rumah kaca yang kemudian kian banyak terkumpul pada lapisan atmosfer melampaui
batas kemampuan tumbuhan dan laut untuk mengabsorsinya. Lantas apa hubungan
meningkatnya efek rumah kaca dengan perubahan iklim ?
Meningkatnya kadar gas rumah kaca pada atmosfer yang
merupakan mesin pengendali alami iklim di Bumi dapat mengganggu mekanismenya.
Karena sifat dasar dari gas-gas rumah kaca yang melewatkan cahaya sinar tampak
(gelombang pendek) Matahari namun menyerap gelombang panjang (sinar infra
merah). Saat pancaran / radiasi dari Matahari masuk ke Bumi, 25%
dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan atau partikel-partikel
gas di atmosfer, 25% diserap oleh atmosfer, 45% diteruskan ke
permukaan bumi dan oleh permukaan bumi seperti permukaan air, es dan permukaan
refletif lainnya 5% dipantulkan kembali dalam bentuk gelombang panjang yang
berupa energi panas (sinar inframerah). Proses inilah yang disebut sebagai efek
rumah kaca. Sesungguhnya, tanpa adanya efek rumah kaca pada sistem
perikliman di bumi, maka suhu menjadi sangat rendah dan Bumi menjadi tidak
layak huni. Dalam keadaan normal, Energi yang dipantulkan kembali oleh permukaan
bumi dalam bentuk radiasi infra merah diteruskan ke angkasa oleh atmosfer,
namun saat kadar gas rumah kaca di atmosfer meningkat, Sinar infra merah
tersebut terhambat dan memantul kembali ke permukaan bumi, yang jika hal ini
berlangsung terus-menerus dalam kurun waktu yang lama akan menyebabkan pemanasan
global di permukaan Bumi.
Meningkatnya suhu pada pemukaan bumi dapat mengakibatkan
terganggunya ekosistem dan mekasnisme biota di bumi, terutama hutan sebagai
sarana pendaur ulang karbon dioksida di udara. Selain itu mengakibatkan
mencairnya es di wilayah kutub hingga meningkatkan volume air laut dan
mengancam kebedaraan daratan. Karena suhu merupakan salah satu parameter dari
iklim maka saat terjadi perubahan suhu secara global akan mengakibatkan
terjadinya perubahan iklim global yang ekstrim pula.
Kini tidak ada salahnya jika kita yang di Bumi hidup lebih
“santun” terhadap alam dan mulai merawat kelestarian lingkungan. Slogan-slogan seperti
“back to nature” atau pun “Go Green” jangan hanya diucapakan
semata, tapi harus direalisasikan dalam bentuk nyata demi kelangsungan hidup
seluruh mahluk di Bumi ini.
BAB IX
Gejala Alam yang Terjadi Akibat Pemanasan Global
Pemanasan Global adalah
suatu peningkatan suhu atmosfer bumi, laut dan daratan. Terjadinya pemanasan
global karena adanya suatu pantulan cahaya matahari yang harusnya ke bumi tapi
terhalang oleh Gas CO2 di atmosfer sehingga bumi menjadi semakin panas, air
laut semakin banyak, ombak semakin besar, lempeng endogen bergeser dan gunung
mengeluarkan api. Selain itu peristiwa yang paling dominan muncul dari efek
pemanasan global adalah semakin banyaknya air laut, semakin besarnya ombak
sehingga menimbulkan tsunami. Berikut ini adalah pemaparan kenapa itu bisa
terjadi.
1. Tsunami
=> Pantulan cahaya matahari dari atmosfer ke kutub utara menyebabkan
mencairnya salju menjadi air laut, oleh karena itu jika pemanasan terus-terusan
maka besar kemungkinan tsunami terjadi karena ombak semakin besar dari cairan
es tersebut.
2. Suhu Meningkat
=> Meningkatnya suhu atmosfer menjadikan bumi semakin panas dan tidak nyaman
untuk ditempati. Suhu bumi meningkat dapat menyebabkan beberapa gejala alam
seperti gunung meletus, bergeraknya lempeng endogen sehingga menyebabkan terjadinya
pergeseran permukaan bumi (gempa).
3. Hujan Asam
=> Hujan yang dapat menghancurkan bangunan-bangunan. Disebabkan karena
menumpuknya gas belerang di lapisan ozon.
Hujan asam diartikan
sebagai salah segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami
bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) udara yang larut dengan air hujan memiliki
bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena
membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan
binatang. Hujan asam disebabkan oleh belerang yang merupakan pengotor dalam
bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk
sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan
membentuk asam sulfat dan asam nirogen yang mudah larut sehingga jatuh
bersamaan air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar
keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan
dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
Sumber
Secara alami hujan asam
dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di
tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh
aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga, kendaraan bermotor dan
pabrik pengolahan pertanian. Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat
terbawa angin hingga ratusan kilometer di atosfer sebelum berubah menjadi asam
dan terdeposit ke tanah. Hujan Tiongkok, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah
di arahan anginnya. Hujan asam dan
tenaga pembangkit listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak
hutan-hutan di New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan
batu bara sebagai bahan bakarnya. (catatan: bahwa Asam SO2 dan NOX memang
berperan penting dalam hujan asam).
Pembentukan hujan asam:
Secara sederhana, reaksi pembentukan hujan asam sebagai
berikut:
S(s) + O2(g) => SO2(g)
2SO2(g) + O2(g) => 2SO3(g)
SO3(g) + H2O(i) => H2S
Bukti terjadinya pembentukan hujan asam diproleh dari analisis es kutub. Terlihat turunnya kadar pH
sejak dimulainya Revolusi Industri dari 6 menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain
diproleh dari organisme yang dikenal sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam.
Setelah bertahun-tahun organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam
lapisan-lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuan diatom akan meningkat pada
pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan didasar kolam akan
memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-masing
lapisan tersebut. Sejak dimulai Revolusi Industri, jumlah emisi sulfur dioksida
ke stmosfer turut meningkat. Industri yang menggunakan bahan bakar fosil,
terutaman batu bara, merupakan sumber utama meningkatnya oksida balerang ini.
Pembacaan pH di area industri kadang-kadang tercatat hingga 2,4 (tingkat
keasaman cuka). Sumber-sumber ini, ditambah leh transportasi, merupakan
penyumbangan-penyumbangan utama hujan asam. Masalah hujan asam tidak hanya meningkat sejalan dengan pertubuhan populasi dan
industri tetapi telah berkembang menjadi lebih luas. Penggunaan cerebong asap yang
tinggi untuk mengurangi polusi lokal berkontribusi dalam penyebaran hujan asam,
karena emisi gas yang dikeluarkan akan
masuk ke sirkulasi udara regional yang dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi
udara regional yang memiliki jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam
terjadi di daerah yang jauh dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan
cendrung memproleh banyak karena tingginya curah hujan disini.
Terdapat hubungan
yang erat antara rendahnya pH dengan berkurangnya populusi ikan di danau-danau.
pH di bawah 4,5 tidak mungkin untuk bagi
ikan untuk hidup, sementara pH 6
atau lebih tinggi akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam didala
air akan menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari
telurya. Asam juga mengikat logam beracun seperti alumunium di danau.
Alumunium akan
menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar insangnya
sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadikan sumber
makanan ikan juga dihambat oleh
tingginya kadar pH. Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam di alam berbagai macam cara. Lapisan lilin pada
daun rusak sehingga nutrisi menghilang sehingga tanaman tidak tahan terhadap
keadaan dingin, jamur dan serangga. Pertubuhan akar menjadi lambat sehingga
lebih sedikit nutrisi yang bisa di ambil, dan mineral-mineral penting menjadi
hilang. Ion-on beracun yang terlepas akibat hujan asam menjadi ancaman yang
besar bagi manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya wabah diare pada
anak dan air tercemar alumunium dapat menyebabkan penyakit Alzheimer.
Sejarah
Hujan
asam dilaporkan pertama kali di Mancher, Inggris, yang menjadi kota penting
dalam revolusi industri. Pada tahun 1852, menemukan hubungan hujan asam dengan
polusi udara. Istilah hujan asam tersebut mulai digunakannya pada tahun 1872.
Ia mengamati bahwa hujan asam dapat mengarah
pada kehancuran alam. Walaupun hujan asam ditemukan pada tahun 1852,
baru pada tahun 1970-an para ilmuwan mulai mengadakan banyak melakukan
penelitian mengenai fenomena ini. Kesadaran masyrakat akan hujan asam di
Amerika Serikat meningkat pada tahun 1990-an setelah di New York Times membuat laporan dari Hubbard Brook Experimental
Forest di New Hampshire tentang banyaknya kerusakan lingkungan yang diakibatkan
oleh hujan asam.
Metode Pencegahan
Di
Amerika Serikat, banyak pembangkit tenaga listrik tenaga batu bara menggunakan Flue gas desulfurization (FGB) untuk
menghilangkan gas yang mengandug balerang dari cerobong mereka. Sebagai contoh
FGB adalah wet scrubber pada dasarnya adalah tower tersebut. Kapur
atau batu dalam bentuk bubur juga di injeksikan ke dalam tower sehingga
bercampur dengan gas cerobong serta bereaksi dengan sulfur ber pH netral yang
secara fisik dapat dikeluarkan dari scrubber
oleh karena itu, scrubber mengubah
menjadi sulfat industri. Dibeberapa area, sulfat tersebut dijual ke pabrik
kimia sebagai gipsum bila kadar kalsium sulfatnya tinggi.
BAB X
Pengendalian Pemanasan Global
Komsumsi total bahan bakar fosil
didunia meningkat sebesar 1 persen pertahun.
Langkah- langkah yang dilakukan atau yang
sedag didiskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global pada
masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul
sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim
pada
Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan
berbagai cara. Daerah pantai dapat diindungi dengan dinding dan
penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang tinggi. Beberapa negara, seperti
Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan tetap menjaga koridor
(jalur) habitatnya, mengosonngkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke
utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan sepanjang koridor ini untuk meuju
ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk
memperlambat sekesuburamakin bertambahnya gas rumah kaca.
Pertama, mencegah karbon dioksidadi lepaske atmosfer
dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya ditempat lain. Cara ini
disebut carbon sequestration (menghilangnya karbon).
1.
Menghilangnya Karbon
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon
dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih
banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat menyerap karbon dioksida yang
sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam
kayunya. Diseluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang
mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbu kembali sedikit sekali
karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain,
seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk
mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam
mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat
dihilangkan secara langsung. Caranya denagn menyuntikkan (menginjeksikan) gas
tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke
permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injek juga bisa dilakukan untuk
mengisolasikan gas ini dibawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batu
bara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran
lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama
gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer permukaan.
Salah satu penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil.
Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat sejak revolusi industri pada abad
ke-18. Pada saat itu, batu bara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian
digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20,
energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan ren
penggunaan bahan bakar fosil sebetulnya secara tidak langsung telah mengurangi
jumlah karbon dioksida yag lepas ke udara, karena gas melepaskan karbon
dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila di
bandingkan dengan batu bara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaruhi dan energi nuklir lebih
mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun
kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, tetapi
tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
2. Persetujuan Internasional
Kerjasama internasional diperlukan
untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Pada Thun 1992, pada Earth
Summit di Rio de Janerio, Brazil, 150 negara berikrar untuk mengahadapi masalah
gas kaca dan setuju unuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang
mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160
negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol
Kyoto.
Peranjian ini, yang belum diimplementasikan, menyurka kepala 38
negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan
gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkatan 5% dibawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini
harus dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika serikat
mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan
pengurangan emisi hingga 7% dibawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang mengiginkan
perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8%; dan jepang 6%. Sisa 122 negara
lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak dimintai untuk berkomitmen
dalam pengurangan emisi gas.
Akan tetapi, pada tahun 2001 Presiden Amerika Serikat yang
baru dipilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan
karbon dioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal
dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan
persyaratan pengurangan karbon dioksida ini. Kyto Protokol tidak berpengaruh
apabiala negara-nnegara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55% dari
emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak mratifikasikannya. Persyaratan itu
berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimiir Putin
meratifikasikan perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian
ini mulai 16 februari 2005.
Banyak
orang mengkritik Prokol Kyoto terlalu
lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanaka segera, ia hanya akan sedikit
mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suhu
tindakan yang keras akan diperlukan nanti terutama karena nnegara-negar
berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari
emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang Protokol ini memiliki posisi yang
sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika serikat terutama
dikemukakan oleh industri minyak, industri batu bara dan perusahaan-perusahaan
lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini
mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protkol Kyoto
dapat menjapai 300 milyar dolar AS, disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya
pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa
biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang
lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke
peralatan kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.
Pada
satu kebijakan negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat
terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan etapi
membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh,
Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkunga, telah berhasil
mengatasi bebagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam
mengurangi produksi karbon dioksida.
Setelah
tahun 1997, para perwakilan dari pendatang Protokol Kyoto bertemu secara
reguler untuk menengoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti
peraturan, motode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk
memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoistor merancang sistem dimana suatu
negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan
dengan menjual hal polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini
disebut perdagangan karbon. Sebaga contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi
hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi dipasar, yang dapat
diproleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memprole
keuntungan bila sistem ini diterabkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya
sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5%
dibawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi
negara-negara industri lainn, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.
BAB XI
Cara Mengurangi
Pemanasan Global
Setiap orang memiliki perana dalam mengurangi pemanasan global. Dengan
merubah kebiasaan kita membuat jejak karbon dibumi ini, kita dapat berperan
serta mengurangi pemanasan global dan menyayangi bumi ini dan memberi tempat
layak bagi anak cucu kita dikemudian hari.
Berikut ini adalah tips-tips yang sederhana tetapi sangat bermanfaat jika
kita meakukannya secara rutin. Tips-tips untuk mengurangi pemanasan global ini
sudah dibagi beberapa kategori yang dapat memudahkan kita untuk mengingat dalam
melaksanakannya.
Kurangi komsumsi daging,
bervegetarian adalah yang terbaik! Berdasasakan penelitian, untuk
menghasilkan 1 kg daging, sumber daya
yang dihabiskan serta dengan 15 kg gandum. Bayangkan bagaimana kita bisa
menyelamatkan bumi dari kekurangan pangan jika bervegetarian. Perternakan jugapenyumbang
18% “ jejak karbon” dunia, yang mana lebih besar dari sektor transportasi.
Belum lagi ditambah denagn bahaya gas-gas rumah kaca tambahan yang dihasilkan
oleh aktivitas perternakan lainnya. Seperti metana yang natabene 3 kali lebih
berbahaya daro CO2. Dan yag pasti banyak manfaat kesehatan dan spiritual dari
bervegetarian. Kita akan menjadi lebih sehat dan pengasi. Kurangi dari sekarang
memakan daging sapi. Selain mengandung kalori yang tinggi daging sapi juga
menyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan. Setiap kilogram deging
sapi yang kita makan, serta dengan menyalakan bola lampu 20 watt selama 20
hari.
Makan dan masaklah dari bahan yang masih segar. Menghindari makanan yang sudah diolah atau dikemas akan menurunkan
energi yang terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang-ulang.
Makanan segar juga lebih sehat bagi tubuh kita.
Beli produk lokal, hasil
pertanian lokal sangat murah dan juga sangat menghemat energi, terutama jika
kita menghitung energi dan biaya transpormasinya. Makanan organik lebih ramah
lingkungan, tetapi periksa juga asalnya. Jika di impor dari daerah lain,
kemungkinan emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar dari pada manfaatnya.
Produk lokal tentu tidak memerlukan jalur distribusi yang panjang dan membutuhkan
banyak bahan bakar. Ini berarti mengurangi emisi CO2 yang dikeluarkan
mobil-mobil pengangutnya. Kemudian belilah produk sayuran atau buah-buahab
sesuai musimnya.
Daur ulang aluminium, plastik dan kertas. Akan lebih baik lagi jika kita bisa menggunakan berulang-ulang. Energi
untuk membuat satu kaleng aluminium setara dengan energi untuk menyalakan TV
selama 3 jam.
Beli dalam kemasan besar. Akan jauh
lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan. Jika terlalu banyak,
ajaklah teman atau saudara untuk berbagi saat membelinya.
Matikan oven beberapa menit sebelum waktunya. Jika tetap dibiarkan tertutup, maka panas tersebut tidak akan hilang.
Hindari fast food. Fast food
merupakan penghasilan sampah terbesar didunia. Selain itu komsumsi fast food
juga buruk untuk kesehatan.
Bawa tas yang bisa dipakai ulang. Bawa lah
sendiri tas anda, dengan demikian anda dapat mengurangi jumlah tas
plastik/kresek yang diperlukan. Belakangan ini beberapa pusat perbelanjaan
besar di indonesia sudah mulai mengedukasi pelanggannya untuk menggunakan
sistem seperti ini. Jadi sambutlah itikad baik mereka untuk menjaga lingkungan.
Gunakan gelas yang bisa dicuci. Jika anda
terbiasa dengan cara moderen yang selalu menyajikan minuman bagi tamu dengan
air kopi dalam kemasan. Beralihlah ke cara lama kita. Dengan menggunaka gelas
kaca, keramik, atau plastik food grade yang bisa kita cuci dan dipakai ulang.
Belanjalah di lingkungan sekitar anda. Akan sangat menghemat biaya transportasi dan BBM anda.
Turunkan suhu AC anda. Hindari
penggunaan suhu maksimal. Gunakanlah AC pada tingkatan sampai kita merasa cukup
nyaman saja. Dan cegah kebocoran dari ruangan ber-AC anda. Jangan biarkan ada
celah yang terbuka jika anda sedang menggunakan AC bekerja lebih keras untuk
mendinginkan ruangan anda. Pada akhirnya hal ini akan menghemat tagihan listrik.
Gunakan timer untuk menghindari lupa mematikan AC. Gunakan lah timer sesuai dengan kebiasaan anda. Misalnya jam kantor anda
adalah pukul 8.00 sampai dengan 17.00.
Set timer AC anda sesuai denagn jam kantor tersebut. Dengan begitu tidak ada
lagi insiden lipa memayikan AC hingga keesokan harinya.
Gunakan pemanas air tenaga surya. Meskipun
lebih mahal, dalam jangka panjang hal ini akan menghemat tagihan listrik anda.
(Bahkan saat ini sudah ada penerangan jalan dengan tenaga surya).
Matikan lampu tidak terpakai dan jangan tinggalkan air menetes. Selain menghemat energi dan air bersih, ini akan menghemat banyak
tagihan anda.
Gunakan lampu hemat energi. Meskipunlebih
mahal,rata-rata mereka lebih kuat 8 kali dan lebih hemat hingga 80% dari lampu
pijar biasa.
Maksimalkan pencahayaan dari alam. Gunakan warna terang di tembok, gunakan genteng kaca di plafon,
maksimalkan pencahayaan melalui jendela.
Hindari posisi stand by pada elektronik anda! jika peralatan rumah tangga kita matikan(bukan dalam posisi stand by)
maka kita akan megurangi emisi CO2 yang luar biasa dari penghematan energi
listrik. Gunakan colokan lampu yang ada tombol on-off-nya. Atau cabut kabel
dari sumber listriknya.
Jika pengisian ulang baterai anda sudah penuh, segera cabut! Telpon genggam, pencukur listrik, sikat gigi, elektik, kamera, dan
lain-lain.
Jika sudah penuh segera dicabut.
Hindari screen saver.
Shut down komputer anda jika tidak akan digunakan dalam jangka lama, atau
jika anda terpaksa meninggalkan koputer dalam keadaan menyala, matikan creec
saver. Mengaktifkan screen saver akan memakan energi dan mengeluarkan emisi
CO2. Jadi matikan screen saver anda sekarang!
Kurangi waktu dalam membuka lemari es anda. Untuk setiap menit anda membuka lemari es. Akan diperlukan 3 menit full
energi untuk mengembalikan suhu kulkas ke suhu yang di inginkan.
Jangan membeli bunga potong. Jika daerah
anda bukan penghasil bunga hias, maka bisa dipastikan bunga itu dikirim dari
tempat lain. Hal ini akan menghasilkan “ jejak karbon” yang besar.
Potong makanan dalam ukuran relatif kecil. Ukuran potongan yang kecil akan menggunakan energi lebih sedikit untuk
memasak.
Gunakan air dingin untuk mencuci dan cucilah dalam jumlah banyak. Jika anda memiliki keluarga kecil, tidaklah perlu setiap hari mencuci.
Kumpulkanlah sampai kapasitas mesin cuci anda terpenuhi, hal ini akan menghemat
air, mengurangi pencearan akibat deterjen anda.
Gunakan deterjen dan pembersih ramah
lingkungan. Saat ini mungkin harganya
memang lebih mahal. Tetapi bila anda mampu, lakukanlah demi masa depan anak
cucu kita.
Gunakan ulang perabotan rumah tangga
anda. Jika anda sudah bsan dengan perabotan anda,
anda bisa melakukan obral di garasi rumah, berikan kepada orang lain. Atau bawa
ke pengerajin anda.
Donasikan mainan yang sudah tidak pantas untuk umur anak anda. Hal ini akan mengurangi produksi mainan-mainan yang hanya akan terus
menghabiskan sumber daya bumi kita.
Jika menunakan dedorant atau produk-produk semprot lainnya, jangan
menggunakan aerosol. Pilihan spray dengan kemasan botol kaca akan lebih baik. Aarosol juga
menyumbang besar dalam pencemaran udara kita.
Batasi penggunaan kertas. Tanamkan
dalam pikiran anda kuat-kuat, bahwa setiap anda menggunakan selembar kertas
maka anda telah menebang sebatang pohon. Oleh karena itu gunakan kertas
se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak ptint out bolak-balik pada setiap
kertas. Bila anda menge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah
kertas bekas yang dibaliknya masih kosong.
Ganti bola lampu. Segera ganti
bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu neon ini membutuhkan energi yang
lebih sedikit dibandingkan lampu pijar. Ingat setiap daya listik yang anda pakai maka anda turut serta menghabiskan
sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Bahan bakar
fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun kedepan
mungkin bahan bakar jenis ini akan habis.
Periksa tekanan ban. Setiap anda
ingin berpergian jangan lupa memeriksa tekanan ban kendaraan anda. ban yang
kurang angin akan memperambat laju kendaraan dan akhirnya akan membutuhkan
bahan bakar yang lebih banyak.
Buka jendela lebar-lebar. Di Amerika,
sebagian besar dari 22,7 ton emisi CO2 berasal dari rumah. Kebanyakan emisi
atau gasbuang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator.
Untuk meminimalkannya ketika dapt mengatur termostat AC dengan suhu udara di
luar ruangan. Kemudian bukalah jendela lebar-lebar karena sirkulasi udara yang
terjebak dapat mengkomsumsi energi.
Gunakan pupuk organik. Pupuk yang
digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen, yang kemudian berubah
menjadi N2O yang menimbulkan efek rumah kaca 320 kali lebih besar dari pada
CO2. Jika anda hobi berkebun bukti mampu menyerab gunakanlah pupuk organi.
Disamping aman, murah pula.
Tanamlah rumpun bambu. Pepohonan
memang terbukti mampu menyerab CO2, tetapi ternyata pohon atau rumpun bambu
mampu menyerab CO2 empat kali lebih banyak dari pohon-pohon lainnya.
Naik kendaraan umum. Saat ini jumlah kendaraan peribadi sudah amat
banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14% emisi gas
rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kedaraan umum maka kita
mengurangi emisi gas rumah kaca, karena dalam satu kendaraan umum bisa
mengangkut puluhan orang, dan itu sangat hemat energi. Dibandingkan dengan
kendaraan pribadi seperti sedan yang hanya menyangkut maksimal empat orang.
Jangan
pakai kantong plastik. Dibeberapa negara bagian Amerika, urusan kantong
plastik bhkan sampai dibuat undang-undang segala. LSM peduli lingkungan
mendorong pemerintah negara setempat untuk melarang penggunaan kantong pastik
sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, perlu
waktu 1000 tahun untuk mengurai didalam tanah.
Hidup efisien. Apapun aktifitas manusia dibumi akan berdampak pada bumi
yang diam ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan sebaliknya. Hiduplah
seefisien mungkin, gunakan sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif,
ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berfikir, dan
sebagainya.
Mengemudi cerdas. Hindari perjalanan yang panjang dan habiskan waktu, bila
mungkin memotong jalan lakukanlah. Kurangilah aktifitas yang menggunakan
kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternative yang bebas macet dan tidak
mengkonsumsi energi. Bila menunggu, matikan mesin sebab gas buagan tetap keluar
sementara bahan bakar terpakai.
Pakai
pakaian bekas. Dengan mengurangi membeli pakaian baru maka anda membantu
mengurangi pemakaian listrik di pabrik pakaian.
Apabila banyak
bahan kain sintetis yang mengandung minyak bumi. Bahkan katun yang berasal dari
kapas ternyata mengandung pestisida.
Mengimbangi Pemanasan Global
1.
Membiasakan pola
hidup sehat seperti mengurangi penggunaan teknologi yang menimbulkan gas CO2
2.
Sering melakukan penghijauan
Banyak
orang yang mengatakan bahwa "entah kapan kiamat itu datang"
sebenarnya itu suatu hal yang harus kita fikirkan, kenapa kiamat tidak
ditentukan kapan datangnya?? itu karena manusia sendiri yang membuat kiamat itu
dengan pola prilakunya sehari-hari.
BAB XII
Potokol Kyoto
A. Pengertian Protokol Kyoto
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB
tentang Perubahan Iklim(UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai
pemanasan global . Negara-negara yang meratifikasikan protokol ini berkomitmen
untuk mengurangi emisi/pengelusaran
karbn dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam
perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas
tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.
Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi
rata-rata cuaca global antara 0,02 °C dan 0,28 °C pada tahun 2050.
Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate
Change (Protokol
Kyoto mengenai Konversi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Ia dinegoisasikan di Kyoto pada Desember 1997
dibuka untuk penanda tanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada tanggal 15
Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah
ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.
Amandemen terhadap Konversi Rangka
Ker PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Ditanda tangani 11 Desember 1997
Lokasi kyoto, Jepang belaku 16 Februari 2005 syarat 55 pihak konvensi dan
setidaknya 55% dari seluruh emisi karbon dioksida pada 1990 dari pihak-pihak
dalam annex I pihak 181 negara dan Uni Eropa (Mei 2008).
Protokol kyoto adalah sebuah persetujuan sah
di mana negara-negara perindustrian akan meguragi emisi gas rumah kaca mereka
secara kolektif sebesar 5,2% di banding dengan tahun 1990 (namunyang perlu
diperhatikan adalah,jika dibandingkan dengan pikiran jumlah emisi pada tahun 2010
tanpa Protokol,target ini berati pengaruh sebesar 29%). Tujuan adalah unuk
menguragi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca-karbon
dioksida,metan,nitrous oxide,sulfur heksafluorida,HFC,danPFC-yang dihitumg
sebagai rata-rata selama tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk
Uni Eropa,7% untuk AS,6% untuk Jepang,0% untuk Rusia.
Casinos near I-90 - MapyRO
BalasHapusCasinos Near 전주 출장안마 I-90 near I-90 예스 벳 · 1. Casinos in 전주 출장마사지 I-90 여수 출장안마 near Nashville · 2. Casinos in I-90 · 3. Casinos near I-90 · 4. Casinos in 광주 출장마사지 I-90